Liputan6.com, Simpang Ulim: Kontak senjata antara TNI dan kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka kembali terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam kontak senjata di kawasan Simpang Ulim, Aceh Timur, Rabu (10/7) pagi, sekitar pukul 06.15 WIB, TNI menembak tujuh anggota GAM hingga tewas. Tentara juga menyita sepucuk senjata RPD (senjata otomotis ringan) sejenis minimi beserta 80 butir amunisi dan dua pucuk senjata jenis AK standar beserta 175 butir amunisi. Komandan Satuan Tugas Penerangan Operasional TNI Mayor Zaenal Mutaqien mengungkapkan, baku tembak terjadi ketika tiga tim TNI yang beranggotakan 50 personel menyisir Simpang Ulim. TNI menduga lokasi ini menjadi tempat persembunyian anggota GAM.
Juru Bicara GAM wilayah Peurlak dan Tamiang Ishak Daud membenarkan kontak senjata tersebut. Namun, ia mengaku belum menerima laporan tentang jumlah pasti anggota GAM yang tewas. Sementara itu, seorang anggota Kepolisian Sektor Dewantara, Aceh Utara, Ajun Brigadir M. Yunus Ibrahim dilaporkan tewas ditembak orang tak dikenal. Korban ditembak hari ini, sekitar pukul 14.00 WIB di Desa Krueng Geukueh.
Konflik di Aceh yang terus memanas memprihatinkan semua pihak. Bahkan insiden tak juga berkurang di saat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan mengunjungi Serambi Mekah selama tujuh hari [baca: Pemerintah Diminta Melupakan Rencana Darurat Militer]. Saat berdialog dengan sejumlah elemen masyarakat Aceh, Susilo mengatakan, kedatangan dirinya sama sekali tak membawa misi perang, melainkan misi perdamaian. Hasil kunjungan juga bukan untuk menentukan status yang bakal digunakan, Darurat Sipil atau Militer [baca: Darurat Militer Belum Pantas Diterapkan di Aceh ]. Menurut dia, pemerintah saat ini hanya menginginkan konflik di Tanah Rencong berhenti.
Kendati begitu, kata Susilo, pemerintah tetap akan melanjutkan operasi pemulihan keamanan. Kebijakan ini ditujukan kepada pelaku kriminal dan kelompok separatis GAM garis keras, bukan rakyat sipil. Itulah sebabnya, ia perlu berdialog dengan sejumlah elemen masyarakat Aceh untuk mendengar kondisi sebenarnya. Menurut rencana, Susilo yang didampingi Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin juga akan berdialog dengan sejumlah perwakilan badan eksekutif mahasiswa.
Di kesempatan berbeda, Ketua MPR Amien Rais mendesak pemerintah bersikap tegas terhadap pimpinan GAM. Sebab, aksi GAM terbukti ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, Amien berpesan agar tindakan pemerintah tak melanggar hak asasi manusia. "Jangan sampai hanya karena menangkap seorang perusuh, lalu membakar satu kampung. Intinya, jangan ringan tangan menembak rakyat Aceh," kata Amien.
Saat dialog antara Menko Polkam dan masyarakat digelar, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Rakyat menggelar unjuk rasa di Simpang Komando Daerah Militer 0101 Aceh Besar. Mereka menolak penerapan status Darurat Sipil atau Militer [baca: Darurat Militer Membuat Rakyat Aceh Trauma]. Dalam aksinya, pengunjuk rasa yang berdandan ala jenazah berusaha menembus Kantor Gubernur NAD, tempat dialog. Namun, upaya ini gagal setelah mereka dihalau polisi.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Juru Bicara GAM wilayah Peurlak dan Tamiang Ishak Daud membenarkan kontak senjata tersebut. Namun, ia mengaku belum menerima laporan tentang jumlah pasti anggota GAM yang tewas. Sementara itu, seorang anggota Kepolisian Sektor Dewantara, Aceh Utara, Ajun Brigadir M. Yunus Ibrahim dilaporkan tewas ditembak orang tak dikenal. Korban ditembak hari ini, sekitar pukul 14.00 WIB di Desa Krueng Geukueh.
Konflik di Aceh yang terus memanas memprihatinkan semua pihak. Bahkan insiden tak juga berkurang di saat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan mengunjungi Serambi Mekah selama tujuh hari [baca: Pemerintah Diminta Melupakan Rencana Darurat Militer]. Saat berdialog dengan sejumlah elemen masyarakat Aceh, Susilo mengatakan, kedatangan dirinya sama sekali tak membawa misi perang, melainkan misi perdamaian. Hasil kunjungan juga bukan untuk menentukan status yang bakal digunakan, Darurat Sipil atau Militer [baca: Darurat Militer Belum Pantas Diterapkan di Aceh ]. Menurut dia, pemerintah saat ini hanya menginginkan konflik di Tanah Rencong berhenti.
Kendati begitu, kata Susilo, pemerintah tetap akan melanjutkan operasi pemulihan keamanan. Kebijakan ini ditujukan kepada pelaku kriminal dan kelompok separatis GAM garis keras, bukan rakyat sipil. Itulah sebabnya, ia perlu berdialog dengan sejumlah elemen masyarakat Aceh untuk mendengar kondisi sebenarnya. Menurut rencana, Susilo yang didampingi Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin juga akan berdialog dengan sejumlah perwakilan badan eksekutif mahasiswa.
Di kesempatan berbeda, Ketua MPR Amien Rais mendesak pemerintah bersikap tegas terhadap pimpinan GAM. Sebab, aksi GAM terbukti ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, Amien berpesan agar tindakan pemerintah tak melanggar hak asasi manusia. "Jangan sampai hanya karena menangkap seorang perusuh, lalu membakar satu kampung. Intinya, jangan ringan tangan menembak rakyat Aceh," kata Amien.
Saat dialog antara Menko Polkam dan masyarakat digelar, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Rakyat menggelar unjuk rasa di Simpang Komando Daerah Militer 0101 Aceh Besar. Mereka menolak penerapan status Darurat Sipil atau Militer [baca: Darurat Militer Membuat Rakyat Aceh Trauma]. Dalam aksinya, pengunjuk rasa yang berdandan ala jenazah berusaha menembus Kantor Gubernur NAD, tempat dialog. Namun, upaya ini gagal setelah mereka dihalau polisi.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)