Liputan6.com, Bogor: Pembunuhan yang disertai mutilasi atau memotong-motong tubuh korban untuk menghilangkan jejak, kembali terjadi. Kali ini melibatkan seorang waria bernama Benget Siahaan alias Lilis. Kasus itu terungkap setelah potongan tubuh korban yang diidentifikasi bernama Abdul Kadir ditemukan membusuk dalam bagasi sebuah taksi di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini.
Menurut Benget, rencana pembunuhan bermula dari perkenalannya dengan Hero Lamia sekitar lima bulan silam. Saat itu Hero mengajak Benget untuk berbisnis pencurian kendaraan bermotor. Waria yang mempunyai suara persis wanita itu menuturkan, ketika itu Hero memberikan arahan untuk mencari tamu yang akan dijadikan sasaran. Tamu tersebut kemudian diajak menginap dan selanjutnya dibius. Tindakan selanjutnya, mobil korban dijual.
Gayung pun bersambut. "Presentasi" sederhana Hero tersebut membuat Benget kembali bergairah. Dalam bayangannya lembaran duit ratusan juta seperti dikatakan Heru terus berkelebat. "Apalagi saya butuh duit. Saya pingin jadi perempuan dan harus menghidupi istri," kata dia. Benget adalah seorang waria yang merangkap sebagai pelacur. Jika waktunya menjadi perempuan ia segera menggunakan nama Lilis. Meski seorang yang memiliki kelainan seks, Benget mempunyai seorang istri yang bernama Nursumiyati.
Namanya juga usaha, kegagalan selalu menghadang. Begitu juga dengan rencana yang dilakukan Benget dan Hero. Korban pertama adalah seorang pemilik sedan Timor. Namun dalam usaha pembiusan pertama ternyata gagal dengan alasan tak tega. Kegagalan itu memboyong Benget untuk berpindah tempat dari Cilangkap ke sebuah kontrakan di sekitar Cibubur, Jakarta Timur.
Di tempat baru itu juga langkah selanjutnya terus dimatangkan. Lebih-lebih Hero terus mendesak Benget untuk segera mendapatkan korban. Sepeda motor pun tak masalah jika korban yang membawa mobil sulit dijerat. Usaha dan kerja keras pun akhirnya membawa hasil. Laki-laki bernama Abdul Kadir masuk perangkap dan dibius dengan obat tidur. Namun, Benget sontak panik ketika korban siuman. Di tengah kepanikan itu, Benget memutuskan untuk membunuh warga Condet, Jaktim itu, dengan cara dijerat di bagian leher.
Kepanikan tambah memuncak, ketika korban benar-benar tewas. Di tengah kepanikan itu Hero membawa sepeda motor korban untuk dijual. Sementara Benget terus memutar otak untuk berusaha menghilangkan jejak. Keputusan final akhirnya didapat: jasad korban harus dipotong-potong. Usaha mutilasi berjalan lancar. Tubuh korban dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Bagian tubuh pertama yang dipotong adalah kepala menyusul lengan yang dipotong masing masing menjadi tiga bagian. Demikian juga kaki dipotong menjadi tiga bagian. Selama memotong tubuh korban, Benget mengaku membayangkan seperti memotong-motong ayam negeri. Potongan tubuh korban kemudian dikemas ke dalam lima kantong plastik dan dimasukkan ke dalam bagasi taksi yang sudah dibawa Hero.
Hero mengaku sempat takut melihat Lilis menjerat leher korban hingga tewas. Lebih-lebih ketika Lilis sedang memotong-motong tubuh korban. Dengan alasan bingung Hero pun akhirnya menuruti permintaan Lilis agar potongan mayat itu dibuang. Keputusannya, Hero meninggalkan mayat itu di halaman sebuah rumah makan di kawasan Puncak.
Pembunuhan memang tak ada yang sempurna. Mayat korban mulai ditemukan setelah seorang pemilik warung telekomunikasi di sekitar rumah makan itu mencium bau busuk. Bau yang tak kunjung hilang itu tentu saja membuat penasaran warga sekitar. Dan ternyata sumber bau menyengat itu berasal dari bagasi taksi. Polisi yang terjun ke lokasi kajadian ternyata mendapatkan surat-surat dan identitas dalam taksi, yang belakangan mempermudah Kepolisian Resor Bogor menangkap tersangka.
Dalam pengamatan psikolog Tisna Chandra, Banget mempunyai kelainan seks transeksual. Orang seperti ini menurut Tisna cenderung berperilaku psikopat. Hal senada juga dikemukakan kriminolog dari Universitas Indonesia Rony Nitibaskara. Menurut Rony, orang yang berperilaku psikopati dihukum mati pun tak akan menyesal. Karena itu di luar negeri tersangka kejahatan psikopati seharusnya tidak dihukum melainkan diisolasi.
Kasus mutilasi itu kini masih ditangani Polres Bogor. Untuk selanjutnya dalam waktu dekat berkas pemeriksaan para tersangka akan dilimpahkan ke Polres Depok. Sebab, kasus pembunuhan tersebut terjadi di wilayah hukum Polres Depok.(YYT/Tim Derap Hukum SCTV)
Menurut Benget, rencana pembunuhan bermula dari perkenalannya dengan Hero Lamia sekitar lima bulan silam. Saat itu Hero mengajak Benget untuk berbisnis pencurian kendaraan bermotor. Waria yang mempunyai suara persis wanita itu menuturkan, ketika itu Hero memberikan arahan untuk mencari tamu yang akan dijadikan sasaran. Tamu tersebut kemudian diajak menginap dan selanjutnya dibius. Tindakan selanjutnya, mobil korban dijual.
Gayung pun bersambut. "Presentasi" sederhana Hero tersebut membuat Benget kembali bergairah. Dalam bayangannya lembaran duit ratusan juta seperti dikatakan Heru terus berkelebat. "Apalagi saya butuh duit. Saya pingin jadi perempuan dan harus menghidupi istri," kata dia. Benget adalah seorang waria yang merangkap sebagai pelacur. Jika waktunya menjadi perempuan ia segera menggunakan nama Lilis. Meski seorang yang memiliki kelainan seks, Benget mempunyai seorang istri yang bernama Nursumiyati.
Namanya juga usaha, kegagalan selalu menghadang. Begitu juga dengan rencana yang dilakukan Benget dan Hero. Korban pertama adalah seorang pemilik sedan Timor. Namun dalam usaha pembiusan pertama ternyata gagal dengan alasan tak tega. Kegagalan itu memboyong Benget untuk berpindah tempat dari Cilangkap ke sebuah kontrakan di sekitar Cibubur, Jakarta Timur.
Di tempat baru itu juga langkah selanjutnya terus dimatangkan. Lebih-lebih Hero terus mendesak Benget untuk segera mendapatkan korban. Sepeda motor pun tak masalah jika korban yang membawa mobil sulit dijerat. Usaha dan kerja keras pun akhirnya membawa hasil. Laki-laki bernama Abdul Kadir masuk perangkap dan dibius dengan obat tidur. Namun, Benget sontak panik ketika korban siuman. Di tengah kepanikan itu, Benget memutuskan untuk membunuh warga Condet, Jaktim itu, dengan cara dijerat di bagian leher.
Kepanikan tambah memuncak, ketika korban benar-benar tewas. Di tengah kepanikan itu Hero membawa sepeda motor korban untuk dijual. Sementara Benget terus memutar otak untuk berusaha menghilangkan jejak. Keputusan final akhirnya didapat: jasad korban harus dipotong-potong. Usaha mutilasi berjalan lancar. Tubuh korban dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Bagian tubuh pertama yang dipotong adalah kepala menyusul lengan yang dipotong masing masing menjadi tiga bagian. Demikian juga kaki dipotong menjadi tiga bagian. Selama memotong tubuh korban, Benget mengaku membayangkan seperti memotong-motong ayam negeri. Potongan tubuh korban kemudian dikemas ke dalam lima kantong plastik dan dimasukkan ke dalam bagasi taksi yang sudah dibawa Hero.
Hero mengaku sempat takut melihat Lilis menjerat leher korban hingga tewas. Lebih-lebih ketika Lilis sedang memotong-motong tubuh korban. Dengan alasan bingung Hero pun akhirnya menuruti permintaan Lilis agar potongan mayat itu dibuang. Keputusannya, Hero meninggalkan mayat itu di halaman sebuah rumah makan di kawasan Puncak.
Pembunuhan memang tak ada yang sempurna. Mayat korban mulai ditemukan setelah seorang pemilik warung telekomunikasi di sekitar rumah makan itu mencium bau busuk. Bau yang tak kunjung hilang itu tentu saja membuat penasaran warga sekitar. Dan ternyata sumber bau menyengat itu berasal dari bagasi taksi. Polisi yang terjun ke lokasi kajadian ternyata mendapatkan surat-surat dan identitas dalam taksi, yang belakangan mempermudah Kepolisian Resor Bogor menangkap tersangka.
Dalam pengamatan psikolog Tisna Chandra, Banget mempunyai kelainan seks transeksual. Orang seperti ini menurut Tisna cenderung berperilaku psikopat. Hal senada juga dikemukakan kriminolog dari Universitas Indonesia Rony Nitibaskara. Menurut Rony, orang yang berperilaku psikopati dihukum mati pun tak akan menyesal. Karena itu di luar negeri tersangka kejahatan psikopati seharusnya tidak dihukum melainkan diisolasi.
Kasus mutilasi itu kini masih ditangani Polres Bogor. Untuk selanjutnya dalam waktu dekat berkas pemeriksaan para tersangka akan dilimpahkan ke Polres Depok. Sebab, kasus pembunuhan tersebut terjadi di wilayah hukum Polres Depok.(YYT/Tim Derap Hukum SCTV)