Menko Darmin Prediksi Defisit Transaksi Berjalan Melebar di Atas 3 Persen

Pelebaran defisit transaksi berjalan tak selalu memunculkan sentimen negatif bagi Indonesia.

oleh Merdeka.comDiterbitkan 09 November 2018, 15:15 WIB
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution saat menjadi pembicara dalam acara Bincang Ekonomi di Liputan6.com di SCTV Tower, Jakarta, Kamis (2/3). (Liputan6.com/Fatkhur Rozaq)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal III 2018 melebar di atas 3 persen. Hal ini dipicu oleh impor yang cukup tinggi dalam periode tersebut.

"Kelihatannya perkiraannya begitu, melebar dibanding kuartal II. Kenapa? karena memang pertumbuhan ekonomi kita tetap tinggi, sehingga impornya jalan," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

BACA JUGA: Dikawal Aparat Bersenjata, Menkeu Purbaya Sangar 'Obok-Obok' Sidak Pabrik Baja Cina

Defisit transaksi berjalan di atas 3 persen bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab, capital inflow atau aliran dana masuk ke Indonesia mulai berjalan seiring dengan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

"Kemungkinan iya (di atas 3 persen), tapi ya itu bukan sesuatu yang menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Apalagi sekarang, capital inflow mulai masuk setelah Rupiah menguat, capital inflow mulai masuk. Sehingga sebetulnya, kalau ada defisit di transaksi berjalan, kalau di transaksi modal dan finansialnya tidak terlalu besar," jelas Darmin.

 

Sentimen Negatif

Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution (Dok Foto: Kemenko Bidang Perekonomian)

Menko Darmin melanjutkan, pelebaran defisit transaksi berjalan tak selalu memunculkan sentimen negatif bagi Indonesia, karena komponen ekonomi yang lain seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi tetap membaik.

Meskipun di satu sisi, ekspor Indonesia belum menunjukkan kinerja yang optimal.

"(Memunculkan sentimen negatif?) tergantung. ekonomi kita kalau dilihat pertumbuhan oke, inflasi oke, lain lain oke. Memang kenapa terjadi defisit? impor tetap tinggi ekspornya tak mampu mengimbanginya," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya