Liputan6.com, Jambi: Menghadapi musim kemarau tahun ini, para petani di Provinsi Jambi resah akibat debit air berkurang. Persatuan Petani Jambi menduga berkurangnya debit air itu karena adanya Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air Kerinci. Sinyalemen itu dikemukakan oleh Ketua Persatuan Petani Jambi Herman SAW, di Jambi, baru-baru ini.
Herman menjelaskan, pembangunan waduk PLTA menyerap cadangan air tanah setempat. Keadaan itu semakin terasa terutama pada musim kemarau antara bulan Januari-Juli. Saat itu, permukaan air Danau Kerinci akan turun antara dua sampai tiga meter. Akibatnya, petani di sekitar danau akan kesulitan untuk bercocok tanam.
Padahal, sumber utama pengairan sawah di daerah itu berasal dari Danau Kerinci. Dengan itulah para petani di wilayah itu memasok 60 persen kebutuhan beras di Provinsi Jambi. Alhasil, mereka memperkirakan dalam kurun waktu kurang dari setahun lahan pertanian di sekitar Danau Kerinci tidak akan kebagian air lagi.
Menanggapi keluhan petani, Pemerintah Daerah Jambi mengatakan proyek tersebut ramah lingkungan. Namun ironisnya, pemda tidak dapat menjamin air di Danau Kerinci tidak akan berkurang. Sementara mengenai protek PLTA, pemda berdalih, bahwa proyek itu dibutuhkan untuk kebutuhan daerah agar investasi masuk dan kebutuhan daya energi listrik untuk industri.
Proyek pembangunan PLTA Kerinci secara resmi dimulai pekan silam. Proyek senilai US$ 450 juta diharapkan mampu menghasilkan daya listrik sebesar 350 megawat, dengan hasil listrik per tahun mencapai 145 gwh atau giga watt per hour. Namun disayangkan, untuk mencapai hasil listrik sebesar itu diperlukan debit air sebesar 1.000 meter kubik per detik.(ICH/suhatman pisang)
Herman menjelaskan, pembangunan waduk PLTA menyerap cadangan air tanah setempat. Keadaan itu semakin terasa terutama pada musim kemarau antara bulan Januari-Juli. Saat itu, permukaan air Danau Kerinci akan turun antara dua sampai tiga meter. Akibatnya, petani di sekitar danau akan kesulitan untuk bercocok tanam.
Padahal, sumber utama pengairan sawah di daerah itu berasal dari Danau Kerinci. Dengan itulah para petani di wilayah itu memasok 60 persen kebutuhan beras di Provinsi Jambi. Alhasil, mereka memperkirakan dalam kurun waktu kurang dari setahun lahan pertanian di sekitar Danau Kerinci tidak akan kebagian air lagi.
Menanggapi keluhan petani, Pemerintah Daerah Jambi mengatakan proyek tersebut ramah lingkungan. Namun ironisnya, pemda tidak dapat menjamin air di Danau Kerinci tidak akan berkurang. Sementara mengenai protek PLTA, pemda berdalih, bahwa proyek itu dibutuhkan untuk kebutuhan daerah agar investasi masuk dan kebutuhan daya energi listrik untuk industri.
Proyek pembangunan PLTA Kerinci secara resmi dimulai pekan silam. Proyek senilai US$ 450 juta diharapkan mampu menghasilkan daya listrik sebesar 350 megawat, dengan hasil listrik per tahun mencapai 145 gwh atau giga watt per hour. Namun disayangkan, untuk mencapai hasil listrik sebesar itu diperlukan debit air sebesar 1.000 meter kubik per detik.(ICH/suhatman pisang)