Liputan6.com, London: Uni Eropa dan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) berhasil dalam kerja sama manajemen krisis. Hal ini ditunjukkan melalui kesuksesan Aceh Monitoring Mission yang menjadi modal dalam mengembangkan konsep dan operasionalisasi diplomasi preventif ASEAN Regional Forum (ARF).
"Hal itu terungkap dalam ASEAN Regional Forum (ARF) High-Level Workshop on Confidence Building Measures and Preventive Diplomacy in Asia and Europe yang diadakan Indoneia dan Jerman bertindak sebagai co-host berlangsung selama dua hari di Kementerian Luar Negeri Jerman, Berlin," ujar Konselor Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Ayodhia GL Kalake kepada Antara, Jumat (2/12).
Pertemuan yang memfokuskan pembahasan pada upaya meningkatkan dialog dan kerja sama antarorganisasi regional di Asia dan Eropa, dalam hal ini antara ARF dan Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE), untuk memperkuat pembangunan kepercayaan dan diplomasi preventif.
Partisipasi Uni Eropa dalam ASEAN Regional Forum (ARF) menunjukkan bahwa organisasi regional yang solid menjadi modal utama dalam membangun global governance yang stabil dan seimbang. Peserta juga saling bertukar pikiran mengenai isu-isu penting di antaranya keamanan maritim, non-proliferasi MANPADS, konflik Laut Cina Selatan, dan perkembangan di Semenanjung Korea.
Mekanisme dialog ARF dalam membahas isu-isu keamanan dan stabilitas kawasan Asia Pasifik berpegang pada prinsip-prinsip diplomasi preventif. Di antaranya mengutamakan cara-cara damai, menghindari kekerasan, cepat dan tepat waktu dalam menangani krisis, mengutamakan kepercayaan (trust), sukarela (voluntary), dilakukan melalui konsultasi dan konsensus, dan sejalan dengan hukum internasional dan aturan hubungan antarbangsa.
Peserta mengidentifikasi secara internal ARF masih akan menghadapi berbagai tantangan, misalnya adanya pandangan yang berbeda dari ke-27 negara anggota ARF, perlunya meningkatkan kapasitas institusional ARF, dan mandat serta pedoman dalam mengoperasionalisasi konsep diplomasi preventif.
Partisipasi Uni Eropa sebagai anggota ARF adalah ujian tersendiri bagi Uni Eropa, melalui ARF inilah Uni Eropa harus menunjukkan kekompakan dan solidaritas dalam bekerja sama dengan organsiasi regional lainnya.
Dalam pidato penutupan Wakil Tetap RI di ASEAN, Dubes Ngurah Swajaya menyatakan workshop ARF berlangsung efektif dan produktif dan sepakat perlunya penguatan institusional ARF dan kapasitas sumber daya manusia.
Karena itu, kerja sama antara Sekretariat ASEAN dan OSCE akan diperkuat agar mekanisme ARF semakin efektif dalam pembangunan kepercayaan (CBM) dan diplomasi preventif.
Dubes Ngurah Swajaya menekankan globalisasi menimbulkan tantangan baru yang bersifat nonkonvensional, seperti perubahan iklim, cyber-security, keamanan maritim, klaim territorial, selain tantangan konvensional perlu diatasi bersama seperti ancaman terorisme, nonproliferasi, serta penanganan dan mitigasi bencana.
Penguatan kapasitas ARF saat ini memiliki momentum yang tepat karena pada 2015 ASEAN akan bertransformasi menjadi Komunitas ASEAN. Lantaran itulah, peranan ARF akan terus diperkuat agar sejalan dengan makin meningkatnya dimanika kerja sama ASEAN.
Penguatan kapasitas ARF didorong perkembangan positif sebagai hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi ke-19 ASEAN, yaitu kesepakatan pemimpin ASEAN membentuk Institute for Peace and Reconciliation, serta diadopsinya prinsip-prinsip kerja sama East Asia Summit (EAS) berupa Declaration of the EAS on the Principles for Mutually Beneficial Relations.(ANS/Ant)
"Hal itu terungkap dalam ASEAN Regional Forum (ARF) High-Level Workshop on Confidence Building Measures and Preventive Diplomacy in Asia and Europe yang diadakan Indoneia dan Jerman bertindak sebagai co-host berlangsung selama dua hari di Kementerian Luar Negeri Jerman, Berlin," ujar Konselor Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Ayodhia GL Kalake kepada Antara, Jumat (2/12).
Pertemuan yang memfokuskan pembahasan pada upaya meningkatkan dialog dan kerja sama antarorganisasi regional di Asia dan Eropa, dalam hal ini antara ARF dan Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE), untuk memperkuat pembangunan kepercayaan dan diplomasi preventif.
Partisipasi Uni Eropa dalam ASEAN Regional Forum (ARF) menunjukkan bahwa organisasi regional yang solid menjadi modal utama dalam membangun global governance yang stabil dan seimbang. Peserta juga saling bertukar pikiran mengenai isu-isu penting di antaranya keamanan maritim, non-proliferasi MANPADS, konflik Laut Cina Selatan, dan perkembangan di Semenanjung Korea.
Mekanisme dialog ARF dalam membahas isu-isu keamanan dan stabilitas kawasan Asia Pasifik berpegang pada prinsip-prinsip diplomasi preventif. Di antaranya mengutamakan cara-cara damai, menghindari kekerasan, cepat dan tepat waktu dalam menangani krisis, mengutamakan kepercayaan (trust), sukarela (voluntary), dilakukan melalui konsultasi dan konsensus, dan sejalan dengan hukum internasional dan aturan hubungan antarbangsa.
Peserta mengidentifikasi secara internal ARF masih akan menghadapi berbagai tantangan, misalnya adanya pandangan yang berbeda dari ke-27 negara anggota ARF, perlunya meningkatkan kapasitas institusional ARF, dan mandat serta pedoman dalam mengoperasionalisasi konsep diplomasi preventif.
Partisipasi Uni Eropa sebagai anggota ARF adalah ujian tersendiri bagi Uni Eropa, melalui ARF inilah Uni Eropa harus menunjukkan kekompakan dan solidaritas dalam bekerja sama dengan organsiasi regional lainnya.
Dalam pidato penutupan Wakil Tetap RI di ASEAN, Dubes Ngurah Swajaya menyatakan workshop ARF berlangsung efektif dan produktif dan sepakat perlunya penguatan institusional ARF dan kapasitas sumber daya manusia.
Karena itu, kerja sama antara Sekretariat ASEAN dan OSCE akan diperkuat agar mekanisme ARF semakin efektif dalam pembangunan kepercayaan (CBM) dan diplomasi preventif.
Dubes Ngurah Swajaya menekankan globalisasi menimbulkan tantangan baru yang bersifat nonkonvensional, seperti perubahan iklim, cyber-security, keamanan maritim, klaim territorial, selain tantangan konvensional perlu diatasi bersama seperti ancaman terorisme, nonproliferasi, serta penanganan dan mitigasi bencana.
Penguatan kapasitas ARF saat ini memiliki momentum yang tepat karena pada 2015 ASEAN akan bertransformasi menjadi Komunitas ASEAN. Lantaran itulah, peranan ARF akan terus diperkuat agar sejalan dengan makin meningkatnya dimanika kerja sama ASEAN.
Penguatan kapasitas ARF didorong perkembangan positif sebagai hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi ke-19 ASEAN, yaitu kesepakatan pemimpin ASEAN membentuk Institute for Peace and Reconciliation, serta diadopsinya prinsip-prinsip kerja sama East Asia Summit (EAS) berupa Declaration of the EAS on the Principles for Mutually Beneficial Relations.(ANS/Ant)