Liputan6.com, Jakarta Kisah inspiratif yang patut ditiru dari seseorang bernama Bernardus Yosep Te Victoria, atau yang akrab disapa Yosep atau Jos. Ketekunan dan kerja keras seolah menjadi hal klise untuk dilakukan. Namun, Jos telah membuktikan hal itu. Dia menapaki karir di titik terendah yakni dari seorang office boy atau diistilahkan jongos, menjadi seorang bos dari sejumlah perusahaan production house yang beromzet miliaran rupiah.
"Sebenarnya, sampai saat ini pun saya masih seorang jongos yang artinya adalah pelayan. Saat ini saya adalah 'jongos' bagi keluarga saya, bagi keluarga karyawan saya,” kata pria berambut kribo ini saat peluncuran bukunya berjudul I'm Jongos di Gedung LIA Pengadegan, Jakarta, baru-baru ini.
Advertisement
Jos menguraikan kisah hidupnya, mulai dari masa kecil hingga dewasa. Seperti penampilannya yang kocak, murah senyum, ternyata kisah masa kecilnya banyak mengundang tawa. Diceritakan bagaimana Jos cilik hingga usia 5 tahun didandani seperti anak perempuan, yakni menggunakan rok, hanya karena sang ayah menginginkan hadirnya anak perempuan. Tak hanya itu, nama belakang Jos juga saat itu adalah Fitria, karena selisih emapt hari dari Idul Fitri. Untunglah hal itu tidak berlangsung lama, dan terhenti ketika Jos harus masuk Sekolah Dasar. Selain harus menanggalkan rok oleh sang guru, Suryani, nama Fitria pun diubah menjadi Victoria.
Ibunda Jos, Meisinah, dihadirkan di tengah para undangan untuk memberikan kesaksian masa kecil Jos. Dengan penuturan menggunakan bahasa Jawa yang terkesan lugu dan apa adanya, tak pelak membuat semua tamu yang hadir ikut tergelak, membayangkan sosok Jos kecil kala itu. “Itu adalah aib saya yang pertama,” kata Jos.
Rambut
Ihwal rambut kribonya ini, diperoleh karena ketika dia kecil pernah mengalami sakit typus selama dua bulan lamanya. “Selama sakit saya berbaring terus, jadilah rambut saya kriwil alias kribo,” ujarnya,
Meski kini memiliki anak seorang milyuner, penampilan sang ibu amat sederhana. Mengenai hal ini Jos mengungkapkan hal yang mencengangkan. “Sampai saat ini, ibu saya masih menjalankan profesinya berjualan secara keliling yang pendapatan per hari nya tak lebih dari Rp 20.000-Rp 25.000. Walaupun saya sudah ratusan kali memintanya berhenti, tetap saja dia tidak mau. Itulah ibu saya,” katanya