Liputan6.com, Mataram: Perusaan Listrik Negara Nusatenggara Barat tengah kesulitan mengurusi pasokan setrum di wilayah kerjanya. Dalam setahun, perusahaan negara ini merugi hingga Rp 40 milar. PLN Mataram hanya mampu memasok listrik 61 juta watt atau 61 megawatt. Akibatnya, aliran listrik di Pulau Lombok pun menyusut sampai 10 juta watt atau 10 megawatt. Kondisi ini terang saja mengancam bisnis pariwisata. Pengusaha pariwisata mengeluhkan aliran listrik yang byar pet. Sedangkan kalangan pengembang kewalahan memasang listrik di perumahan yang dibangun.
Kerja PLN Mataram carut-marut dua tahun belakangan. Pabrik setrum setempat tak mampu melayani pelanggan terutama di bidang industri dan usaha. Kekurangan daya ini menohok langsung pengusaha hotel berbintang dan pengusaha real estat. Pemilik hotel berbintang di kawasan Senggigi, Lombok Barat, mengaku merugi karena listrik di tempatnya mati-hidup sewaktu-waktu. Sedangkan pengembang perumahan kesulitan memasarkan perumahan karena tidak bisa menyediakan fasilitas listrik.
PLN Mataram mengakui kewalaham meningkatkan pelayanan. Sebab, harga jual listrik sangat rendah yakni Rp 378 per kilowatt hour. Padahal, harga pokok penjualan mencapai Rp 550 hingga Rp 600 per KwH. Mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Daerah NTB telah mengundang investor dari Cina dan Prancis untuk mengelola pemberdayaan listrik di wilayah yang bertetangga dengan Bali ini.
Memang krisis listrik terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air. Pemerintah memperkirakan kelangkaan tenaga listrik pada 2004 mencapai 313 megawatt yang tersebar di 28 daerah di luar maupun di Pulau Jawa. Pemerintah mengantisipasi persoalan ini dengan menutup kekurangan kapasitas terpasang dengan pilihan menambah investasi, merestrukturisasi dan bekerja sama dengan sektor swasta [baca: Tiga Langkah Mengantisipasi Krisis Listrik].(TNA/Adhar Hakim)
Kerja PLN Mataram carut-marut dua tahun belakangan. Pabrik setrum setempat tak mampu melayani pelanggan terutama di bidang industri dan usaha. Kekurangan daya ini menohok langsung pengusaha hotel berbintang dan pengusaha real estat. Pemilik hotel berbintang di kawasan Senggigi, Lombok Barat, mengaku merugi karena listrik di tempatnya mati-hidup sewaktu-waktu. Sedangkan pengembang perumahan kesulitan memasarkan perumahan karena tidak bisa menyediakan fasilitas listrik.
PLN Mataram mengakui kewalaham meningkatkan pelayanan. Sebab, harga jual listrik sangat rendah yakni Rp 378 per kilowatt hour. Padahal, harga pokok penjualan mencapai Rp 550 hingga Rp 600 per KwH. Mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Daerah NTB telah mengundang investor dari Cina dan Prancis untuk mengelola pemberdayaan listrik di wilayah yang bertetangga dengan Bali ini.
Memang krisis listrik terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air. Pemerintah memperkirakan kelangkaan tenaga listrik pada 2004 mencapai 313 megawatt yang tersebar di 28 daerah di luar maupun di Pulau Jawa. Pemerintah mengantisipasi persoalan ini dengan menutup kekurangan kapasitas terpasang dengan pilihan menambah investasi, merestrukturisasi dan bekerja sama dengan sektor swasta [baca: Tiga Langkah Mengantisipasi Krisis Listrik].(TNA/Adhar Hakim)