Liputan6.com, Bima: Anak-anak Sekolah Dasar Negeri 9 Sila di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, belajar di ruangan yang separuhnya sudah robohh dan bisa saja ambruk sewaktu-waktu. Para siswa menempati ruangan itu terbatasnya ruang kelas. Dari 375 siswa, sekolah hanya mempunyai enam ruang belajar ditambah satu ruang yang nyaris roboh tersebut.
Para guru kerap memulai pelajaran dengan terlebih dahulu memperingati siswa agar menyelamatkan diri jika terjadi gempa atau ruang kelas tersebut rubuh sewaktu-waktu. Meski para guru kerap memberi peringatan, tentu saja keselamatan para siswa masih terancam jika ruang kelas ini runtuh mendadak.
Hal yang sama terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Ratusan siswa SDN Sruwen 2 di Kecamatan Tengaran belajar di bawah bangunan rusak yang telah disangga dengan bambu. Tak jarang para siswa tertimpa pecahan plafon hingga terluka. Meski kondisi sekolah sangat memprihatinkan, para siswa tetap semangat.
Pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan bantuan ke pemerintah. Namun hingga kini belum ada renovasi. Kondisi terparah berada di kelas dua dan kelas satu. Pihak sekolah terpaksa menambah tiang penyangga dari bambu. Para siswa mengaku khawatir apabila rangka penyangga plafon sewaktu-waktu roboh.
Hampir semua ruang kelas mengalami kerusakan. Berbagai cara dilakukan pihak sekolah termasuk mengajukan proposal bantuan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang. Namun hasilnya nihil. Selain mengalami kerusakan, Sekolah Dasar Negeri 2 Sruwen juga masih kekurangan kelas. Kelas dua masih menjadi satu dengan ruang unit kegiatan sekolah.(JUM)
Para guru kerap memulai pelajaran dengan terlebih dahulu memperingati siswa agar menyelamatkan diri jika terjadi gempa atau ruang kelas tersebut rubuh sewaktu-waktu. Meski para guru kerap memberi peringatan, tentu saja keselamatan para siswa masih terancam jika ruang kelas ini runtuh mendadak.
Hal yang sama terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Ratusan siswa SDN Sruwen 2 di Kecamatan Tengaran belajar di bawah bangunan rusak yang telah disangga dengan bambu. Tak jarang para siswa tertimpa pecahan plafon hingga terluka. Meski kondisi sekolah sangat memprihatinkan, para siswa tetap semangat.
Pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan bantuan ke pemerintah. Namun hingga kini belum ada renovasi. Kondisi terparah berada di kelas dua dan kelas satu. Pihak sekolah terpaksa menambah tiang penyangga dari bambu. Para siswa mengaku khawatir apabila rangka penyangga plafon sewaktu-waktu roboh.
Hampir semua ruang kelas mengalami kerusakan. Berbagai cara dilakukan pihak sekolah termasuk mengajukan proposal bantuan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang. Namun hasilnya nihil. Selain mengalami kerusakan, Sekolah Dasar Negeri 2 Sruwen juga masih kekurangan kelas. Kelas dua masih menjadi satu dengan ruang unit kegiatan sekolah.(JUM)