Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah berharap beberapa komitmen pinjaman dana dari luar negeri segera dicairkan. Ini mengingat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2002 hingga 23 Mei telah mencapai Rp 724,356 miliar dari target sebesar Rp 42,134 triliun. Sedangkan pendapatan negara pada periode yang sama mencapai Rp 89,54 triliun atau 29,5 persen dari target sebesar Rp 301,874 trilun. Bahkan, sebulan sebelumnya, defisit APBN 2002 baru mencapai Rp 256 miliar setelah membayar utang luar dan dalam negeri [baca: APBN 2002 Defisit]. Hal ini terungkap saat Menteri Keuangan Boediono menggelar rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/6).
Dalam rapat ini, Boediono juga menjelaskan, hingga 23 Mei ini belanja negara telah mencapai Rp 57,66 triliun atau 23,44 persen dari target APBN 2002 sebesar Rp 246,40 triliun. Sedangkan pengeluaran negara untuk dana perimbangan yang mencangkup alokasi umum dan khusus serta bagi hasil sampai 23 Mei silam, mencapai Rp 31,73 triliun atau 32,87 persen dari target APBN 2002 sebesar Rp 94,531 triliun.
Dalam kesempatan itu, Boediono juga menjelaskan, dana Otonomi Khusus atau dana penyeimbang hingga 23 Mei telah mencapai Rp 1,3 triliun atau 30,22 persen dari target APBN sebesar Rp 3,437 triliun. Sedangkan pembiayaan dalam negeri baru mencapai Rp 6,5 triliun dari target Rp 23,5 triliun. Sementara pembiayaan luar negeri masih minus Rp 5,323 triliun dari target yang diharapkan bulan Mei sebesar Rp 18,633 triliun.(ORS/Abbas Yahya dan Binsar Rahardian)
Dalam rapat ini, Boediono juga menjelaskan, hingga 23 Mei ini belanja negara telah mencapai Rp 57,66 triliun atau 23,44 persen dari target APBN 2002 sebesar Rp 246,40 triliun. Sedangkan pengeluaran negara untuk dana perimbangan yang mencangkup alokasi umum dan khusus serta bagi hasil sampai 23 Mei silam, mencapai Rp 31,73 triliun atau 32,87 persen dari target APBN 2002 sebesar Rp 94,531 triliun.
Dalam kesempatan itu, Boediono juga menjelaskan, dana Otonomi Khusus atau dana penyeimbang hingga 23 Mei telah mencapai Rp 1,3 triliun atau 30,22 persen dari target APBN sebesar Rp 3,437 triliun. Sedangkan pembiayaan dalam negeri baru mencapai Rp 6,5 triliun dari target Rp 23,5 triliun. Sementara pembiayaan luar negeri masih minus Rp 5,323 triliun dari target yang diharapkan bulan Mei sebesar Rp 18,633 triliun.(ORS/Abbas Yahya dan Binsar Rahardian)