Liputan6.com, Jakarta: Pritttt! Sihir Piala Dunia pun menyergap. Sebuah pesta ajang pembuktian diri negara-negara dalam dunia sepak bola--olah raga terpopuler di permukaan bumi. Asia unjuk gigi, karena untuk pertama kalinya benua ini menggelar kejuaraan bergengsi. Tak cuma itu, untuk pertama kalinya pula tradisi panjang ini digelar di dua negara: Korea Selatan dan Jepang. Diawali kemeriahan pada acara pembukaan, Jumat silam, demam pun segera menjalar ke mana-mana. Bak kesaktian ilmu kanuragan, wabah empat tahunan ini mampu menghipnotis kehidupan umat manusia di berbagai belahan dunia.
Ajaib, memang. Begitulah kalau sepak bola bicara. Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, kejuaraan dunia sepak bola mampu menyedot perhatian setiap orang. Tak tanggung-tanggung, segala persoalan, baik politik, perekonomian, dan segudang tetek bengek konflik beristirahat sejenak. Ibarat obat, pergelaran sepak bola sejagat amat manjur menghambat permasalahan yang ada.
Tak cuma itu. Pertandingan sebulan penuh juga dapat menimbulkan kejutan dan kegilaan baru. Buat mereka yang mampu, menonton langsung pertandingan di Korsel dan Jepang tak menjadi persoalan. Tapi, buat yang tak mampu, memolototi layar televisi pun tetap mengasyikkan. Para pebisnis pun melihat peluang emas, mengingat ada keuntungan yang bisa dikeduk dari olah raga ini. Jangan heran jika kafe-kafe di pusat bisnis sampai warung-warung kopi di pinggir jalan orang berkumpul merubung, terpaku di depan layar televisi. [baca: Piala Dunia 2002, Trend Baru Membidik Konsumen"]. Bersama-sama dalam kegembiraan, mereka bersorak, mungkin sambil sesekali mengumpat. Jalanan Jakarta dengan kemacetannya yang menyebalkan, berubah lengang saat pertandingan berlangsung. Kantor-kantor juga sepi lebih cepat.
Celakanya, tak cuma asyik buat ditonton, Piala Dunia pun menyebarkan virus judi. Orang bertaruh untuk setiap guliran bola. Dari level atas dengan jutaan rupiah hingga ke level bawah dengan kelas recehan. Setidaknya, jenis judi yang selama ini ada, seakan tak laku dengan judi Piala Dunia. Orang yang tadinya tak suka berjudi, seakan melupakan kebiasaan buruk tersebut.
Berawal dari kerisauan Asosiasi Sepakbola Dunia (FIFA) tak mempunyai ajang kompetisi antarnegara, petinggi organisasi yang terbentuk pada 1904 ini pun putar otak. Rupanya tak mudah. FIFA membutuhkan waktu hampir tiga dekade untuk menggelar pertandingan sapak bola yang benar-benar menjadi ajang kompetisi tingkat internasional. Perdebatan panjang pun berlangsung. Banyak tokoh sepak bola saat itu yang memberi usulan. Sebut saja Henri Delaunay, sekretaris Asosiasi Sepakbola Prancis dan Julius Rimet. Mereka terlibat serius di awal ajang Piala Dunia lahir. Bahkan, nama terakhir sempat diabadikan sebagai piala bergilir bagi jawara sepak bola.
Maka, FIFA pun mengumumkan rencana untuk mengadakan kompetisi terbuka bagi negara-negara anggota. Namun, mereka belum memberi nama kompetisinya, meski saat itu sejumlah nama julukan event ini dengan cepat bermunculan. Beberapa nama favorit yang disebut-sebut media massa antara lain World Cup, World Soccer Championship, dan La Coupe de Monde. Tapi, bukan berati lancar-lancar saja. Pergelaran ini pun terganjal sejumlah kendala, di antaranya adalah persoalan dana. Saat itu, Wakil Presiden Rodolfe Seeldrayers mengusulkan bahwa negara penyelenggara Piala Dunia pertama harus menyediakan duit untuk transportasi dan biaya akomodasi wasit, anggota FIFA, dan tim tiap negara peserta.
Syarat itu rupanya dirasa berat bagi asosiasi sepak bola mana pun. Toh, ada saja negara yang bersedia menjadi penyelenggara kompetisi besar ini. Negara-negara seperti Belanda, Hongaria, Italia, Spanyol, Swedia, dan Uruguay menawarkan diri menjadi tuan rumah. Seiring perdebatan yang berkecamuk, sejumlah negara seperti Swedia dan Belanda mengundurkan diri dan memberikan dukungannya kepada Italia. Sedangkan negara-negara Amerika Selatan mendukung Uruguay dan kandidat Eropa lain mengundurkan diri karena berbagai alasan. Jadi semuanya diserahkan kepada Uruguay, satu-satunya kandidat yang tersisa. Akhirnya cita-cita untuk menyelenggarakan Piala Dunia dapat diwujudkan pada 1930 di Uruguay.
Sejak itulah, dunia seakan tersihir. Sayangnya, Indonesia tersihir terus-menerus, tak lebih. Atmosfer persepakbolaan Tanah Air dari tahun-ke tahun cuma begitu-begitu saja. Sepanjang pergelaran yang telah berlangsung selama 60 tahun lebih, Indonesia tak pernah muncul sebagai peserta, selalu penonton. Bahkan, dibandingkan prestasi terdahulu, persepakbolaan Indonesia saat ini kian jeblok. Pengurus Organisasi Sepakbola Indonesia (PSSI) lebih banyak memikirkan kepentingan per kelompok ketimbang prestasi. Tak hanya pengurus, para pemain pun lebih gemar adu otot dibanding kemampuan mereka di lapangan hijau.
Dulu, Indonesia bisa dibanggakan. Tengok saja persepakbolaan Tanah Air di era 50-an hingga 60-an. Saat itu, negeri ini mengenal nama-nama seperti Ramang dan Witarsa Cs yang berhasil menahan imbang 0-0 Uni Soviet di Olimpiade Melbroune, Australia, 1956. Pada 1968 era Sujipto Suntoro Cs, Indonesia sanggup melumatkan kesebelasan Jepang dengan skor telak 7-0. Sekarang, keadaan jelas terbalik. Bima Sakti dan Kurniawan Cs dilumat Hidetoshi Nakata Cs, 0-7.
Padahal, kalau bicara bakat, ini bukan menjadi persoalan utama. Turki yang berpenduduk 66 juta jiwa memiliki sekitar 1,7 juta pemain dan ribuan lainnya tersebar di sejumlah klub di dunia. Sedangkan Indonesia, dari sekitar 250 juta jiwa hanya ratusan ribu pemain sepak bola. Itu pun tak semuanya profesional. Ironis, memang. Tapi inilah kenyataan bahwa dari tahun ke tahun, setiap pergelaran Piala Dunia bergulir, bangsa ini hanya menjadi penonton kesebelasan bagi negara lain, sampai ketika sang wasit meniupkan pluit Piala Dunia 2002. Rupanya pula, ada satu hal yang tak kunjung berubah: judi bola yang tetap mewabah.(ORS)
Ajaib, memang. Begitulah kalau sepak bola bicara. Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya, kejuaraan dunia sepak bola mampu menyedot perhatian setiap orang. Tak tanggung-tanggung, segala persoalan, baik politik, perekonomian, dan segudang tetek bengek konflik beristirahat sejenak. Ibarat obat, pergelaran sepak bola sejagat amat manjur menghambat permasalahan yang ada.
Tak cuma itu. Pertandingan sebulan penuh juga dapat menimbulkan kejutan dan kegilaan baru. Buat mereka yang mampu, menonton langsung pertandingan di Korsel dan Jepang tak menjadi persoalan. Tapi, buat yang tak mampu, memolototi layar televisi pun tetap mengasyikkan. Para pebisnis pun melihat peluang emas, mengingat ada keuntungan yang bisa dikeduk dari olah raga ini. Jangan heran jika kafe-kafe di pusat bisnis sampai warung-warung kopi di pinggir jalan orang berkumpul merubung, terpaku di depan layar televisi. [baca: Piala Dunia 2002, Trend Baru Membidik Konsumen"]. Bersama-sama dalam kegembiraan, mereka bersorak, mungkin sambil sesekali mengumpat. Jalanan Jakarta dengan kemacetannya yang menyebalkan, berubah lengang saat pertandingan berlangsung. Kantor-kantor juga sepi lebih cepat.
Celakanya, tak cuma asyik buat ditonton, Piala Dunia pun menyebarkan virus judi. Orang bertaruh untuk setiap guliran bola. Dari level atas dengan jutaan rupiah hingga ke level bawah dengan kelas recehan. Setidaknya, jenis judi yang selama ini ada, seakan tak laku dengan judi Piala Dunia. Orang yang tadinya tak suka berjudi, seakan melupakan kebiasaan buruk tersebut.
Berawal dari kerisauan Asosiasi Sepakbola Dunia (FIFA) tak mempunyai ajang kompetisi antarnegara, petinggi organisasi yang terbentuk pada 1904 ini pun putar otak. Rupanya tak mudah. FIFA membutuhkan waktu hampir tiga dekade untuk menggelar pertandingan sapak bola yang benar-benar menjadi ajang kompetisi tingkat internasional. Perdebatan panjang pun berlangsung. Banyak tokoh sepak bola saat itu yang memberi usulan. Sebut saja Henri Delaunay, sekretaris Asosiasi Sepakbola Prancis dan Julius Rimet. Mereka terlibat serius di awal ajang Piala Dunia lahir. Bahkan, nama terakhir sempat diabadikan sebagai piala bergilir bagi jawara sepak bola.
Maka, FIFA pun mengumumkan rencana untuk mengadakan kompetisi terbuka bagi negara-negara anggota. Namun, mereka belum memberi nama kompetisinya, meski saat itu sejumlah nama julukan event ini dengan cepat bermunculan. Beberapa nama favorit yang disebut-sebut media massa antara lain World Cup, World Soccer Championship, dan La Coupe de Monde. Tapi, bukan berati lancar-lancar saja. Pergelaran ini pun terganjal sejumlah kendala, di antaranya adalah persoalan dana. Saat itu, Wakil Presiden Rodolfe Seeldrayers mengusulkan bahwa negara penyelenggara Piala Dunia pertama harus menyediakan duit untuk transportasi dan biaya akomodasi wasit, anggota FIFA, dan tim tiap negara peserta.
Syarat itu rupanya dirasa berat bagi asosiasi sepak bola mana pun. Toh, ada saja negara yang bersedia menjadi penyelenggara kompetisi besar ini. Negara-negara seperti Belanda, Hongaria, Italia, Spanyol, Swedia, dan Uruguay menawarkan diri menjadi tuan rumah. Seiring perdebatan yang berkecamuk, sejumlah negara seperti Swedia dan Belanda mengundurkan diri dan memberikan dukungannya kepada Italia. Sedangkan negara-negara Amerika Selatan mendukung Uruguay dan kandidat Eropa lain mengundurkan diri karena berbagai alasan. Jadi semuanya diserahkan kepada Uruguay, satu-satunya kandidat yang tersisa. Akhirnya cita-cita untuk menyelenggarakan Piala Dunia dapat diwujudkan pada 1930 di Uruguay.
Sejak itulah, dunia seakan tersihir. Sayangnya, Indonesia tersihir terus-menerus, tak lebih. Atmosfer persepakbolaan Tanah Air dari tahun-ke tahun cuma begitu-begitu saja. Sepanjang pergelaran yang telah berlangsung selama 60 tahun lebih, Indonesia tak pernah muncul sebagai peserta, selalu penonton. Bahkan, dibandingkan prestasi terdahulu, persepakbolaan Indonesia saat ini kian jeblok. Pengurus Organisasi Sepakbola Indonesia (PSSI) lebih banyak memikirkan kepentingan per kelompok ketimbang prestasi. Tak hanya pengurus, para pemain pun lebih gemar adu otot dibanding kemampuan mereka di lapangan hijau.
Dulu, Indonesia bisa dibanggakan. Tengok saja persepakbolaan Tanah Air di era 50-an hingga 60-an. Saat itu, negeri ini mengenal nama-nama seperti Ramang dan Witarsa Cs yang berhasil menahan imbang 0-0 Uni Soviet di Olimpiade Melbroune, Australia, 1956. Pada 1968 era Sujipto Suntoro Cs, Indonesia sanggup melumatkan kesebelasan Jepang dengan skor telak 7-0. Sekarang, keadaan jelas terbalik. Bima Sakti dan Kurniawan Cs dilumat Hidetoshi Nakata Cs, 0-7.
Padahal, kalau bicara bakat, ini bukan menjadi persoalan utama. Turki yang berpenduduk 66 juta jiwa memiliki sekitar 1,7 juta pemain dan ribuan lainnya tersebar di sejumlah klub di dunia. Sedangkan Indonesia, dari sekitar 250 juta jiwa hanya ratusan ribu pemain sepak bola. Itu pun tak semuanya profesional. Ironis, memang. Tapi inilah kenyataan bahwa dari tahun ke tahun, setiap pergelaran Piala Dunia bergulir, bangsa ini hanya menjadi penonton kesebelasan bagi negara lain, sampai ketika sang wasit meniupkan pluit Piala Dunia 2002. Rupanya pula, ada satu hal yang tak kunjung berubah: judi bola yang tetap mewabah.(ORS)