Foto pada 11 Maret 2018 memperlihatkan perempuan Afghanistan, Sitara Wafadar (18) yang menyamar sebagai laki-laki saat bekerja di pabrik batu bata di Provinsi Nangarhar. Sitara merindukan rambut panjang seperti gadis-gadis lain. (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)
Foto pada 27 Maret 2018, perempuan Afghanistan, Sitara Wafadar menyamar sebagai laki-laki saat bekerja di pabrik batu bata di Provinsi Nangarhar. Sitara dipaksa orangtuanya menjadi seorang 'putra' yang tidak pernah mereka miliki. (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)
Perempuan Afghanistan, Sitara Wafadar menyamar sebagai laki-laki saat bekerja di pabrik batu bata, Provinsi Nangarhar, 27 Maret 2018. Dengan lima saudari, Sitara hidup sebagai laki-laki yang di wilayah setempat disebut bacha poshi (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)
Foto pada 20 Maret 2018, perempuan Afghanistan Sitara Wafadar yang menyamar sebagai laki-laki bermain bola di rumahnya, Provinsi Nangarhar. Tradisi "bacha pochi" sudah mengakar di Afghanistan yang lebih menghargai anak laki-laki. (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)
Perempuan Afghanistan, Sitara Wafadar yang menyamar sebagai laki-laki berada di rumahnya, Provinsi Nangarhar, 20 Maret 2018. Perempuan 18 tahun itu dan keluarganya yang miskin tinggal di sebuah rumah terbuat dari bata lumpur. (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)
Perempuan Afghanistan, Sitara Wafadar yang menyamar sebagai laki-laki mengambil air di rumahnya, Provinsi Nangarhar, 20 Maret 2018. Setiap pagi, Sitara memakai kemeja, celana panjang dan sandal yang biasa dikenakan pria Afganistan (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)
Perempuan Afghanistan, Sitara Wafadar yang menyamar sebagai laki-laki saat bekerja di pabrik batu bata di Provinsi Nangarhar, 11 Maret 2018. Kadang-kadang ia menutupi rambutnya dengan syal demi menyembunyikan jenis kelamin aslinya (NOORULLAH SHIRZADA/AFP)