Liputan6.com, Kediri: Nama Pondok Pesantren Lirboyo di Kota Kediri, Jawa Timur, sudah kondang sejak lama. Namun, pendirian pondok pesantren tersebut mempunyai sejarah tersendiri. Konon nama Lirboyo, awalnya mulanya diambil dari sebuah desa terpencil yang terletak di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Sebelum berdiri pesantren, Desa Lirboyo bahkan tersohor sebagai sarang para perampok dan penyamun.
"Dahulu desa ini merupakan sarang penyamun dan perampok, hingga pada suatu ketika atas prakarsa Kiai Sholeh, seorang yang alim dari Desa Banjarmelati dan dirintis oleh salah satu menantunya yang bernama K.H. Abdul Karim, seorang yang alim berasal dari Magelang, Jawa Tengah," ujar Muchlas Nur, pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, saat ditemui Liputan6.com di Kediri, Ahad (7/8).
Muchlas menjelaskan, sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat hubungan dengan awal mula K.H. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 Masehi. Setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kiai Sholeh Banjarmelati.
Perpindahan K.H. Abdul Karim ke Desa Lirboyo dilatarbelakangi dorongan dari mertuanya sendiri yang pada masa itu seorang dai. Kiai Sholeh berharap dengan menetapnya K.H. Abdul Karim di Lirboyo, berharap syiar Islam bisa lebih luas lagi.
Di samping itu juga, lanjut Muchlis, atas permohonan Kepala Desa Lirboyo kepada Kiai Sholeh, agar berkenan menempatkan salah satu menantunya di Desa Lirboyo. Dengan niat baik inilah diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tenteram.
"Harapan kepala desa pun menjadi kenyataan. Konon ketika pertama kali Kiai Abdul Karim menetap di Lirboyo, tanah ini diazani, saat itu juga semalaman penduduk Lirboyo nggak bisa tidur, karena konon akibat makhluk halus yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri," ujarnya.
Tiga puluh lima hari setelah menempati tanah wakaf tersebut, K.H. Abdul Karim mendirikan surau mungil nan sederhana untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.
Santri pertama yang menimba ilmu dari K.H. Abdul Karim adalah seorang bocah lugu yang bernama Umar asal Madiun. Kedatangannya disambut baik oleh K.H. Abdul Karim, lantaran kedatangan musafir ini tak lain untuk tholabul ilmi (menimba ilmu agama). Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten serta taat kepada kiai.
Selang beberapa waktu, tiga orang santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal K.H. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah, Kediri.
Memasuki hari kedua, semua barang-barang milik kedua santri tersebut ludes diambil pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, Lirboyo masih menyisakan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.
Tahun demi tahun, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi. Untuk menghindari hal-hal buruk seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling di sekitar pondok.
Mengingat keberadaan masjid begitu penting bagi perkembangan dakwah bagi umat Islam dan sebagai sarana untuk berbagai macam kegiatan keagamaan. Karena itu, Kiai Karim mendirikan masjid di Pondok Lirboyo, mengingat kian hari jumlah santri terus bertambah.
Maka, dua setengah tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, tepatnya pada 1913 Masehi, timbullah gagasan dari K.H. Abdul Karim untuk merintis berdirinya masjid di lingkungan pondok.
Semula masjid itu amat sederhana sekali, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, lambat laun bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak-poranda ditiup angin beliung dengan kencang.
K.H. Muhammad yang tidak lain adalah kakak ipar K.H. Abdul Karim sendiri mempunyai inisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Dari pertemuan antara seorang dermawan, H. Ya`qub, dengan K.H. Ma`ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan hartawan.
Usai pembangunan itu diselesaikan, peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabiul Awwal 1347 H (1928 M), atau bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri K.H. Abdul Karim yang kedua, Salamah dengan K.H. Manshur Paculgowang.
Dalam tempo penggarapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi, dinding serta lantainya yang terbuat dari batu merah, dengan gaya bangunan klasik, yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur Tengah.
Untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan, maka atas prakarsa K.H. Ma`ruf pintu yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan, mirip kejayaan daulat Fatimiyyah.
Selang beberapa tahun setelah bangunan masjid itu berdiri, santri kian bertambah banyak. Maka sebagai akibatnya masjid yang semula dirasa longgar semakin terasa sempit. Kemudian diadakan perluasan dengan menambah serambi muka, yang sebagian besar dananya dipikul oleh H. Bisyri, dermawan dari Branggahan, Kediri. Pembangunan ini dilakukan sekitar 1984.
Sekitar 1994, masjid ini mendapat penambahan bangunan di serambi depan masjid. Namun kenyataan mengatakan lain, jemaah atau para santri tetap saja membludak sehingga sebagian harus berjemaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjemaah salat Jumat banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan umum.
Untuk menjaga dan melestarikan amal jariyah pendahulu serta menghargai dan melestarikan nilai ritual dan historis, hingga kini masjid itu tidak mengalami perubahan. Hanya saja hampir menjelang akhir tahun dinding-dinding masjid yang sudah cukup tua itu dicat ulang dan sedikit ditambal sulam.
Pondok pesantren ini juga masih menyisakan pintu gerbang dengan bentuk dan bahan aslinya yang terbuat dari papan dengan atap genting, sebagai saksi sejarah yang tetap tegak berdiri mengawal perjuangan Islam hingga kini.(ANS)
"Dahulu desa ini merupakan sarang penyamun dan perampok, hingga pada suatu ketika atas prakarsa Kiai Sholeh, seorang yang alim dari Desa Banjarmelati dan dirintis oleh salah satu menantunya yang bernama K.H. Abdul Karim, seorang yang alim berasal dari Magelang, Jawa Tengah," ujar Muchlas Nur, pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, saat ditemui Liputan6.com di Kediri, Ahad (7/8).
Muchlas menjelaskan, sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat hubungan dengan awal mula K.H. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 Masehi. Setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kiai Sholeh Banjarmelati.
Perpindahan K.H. Abdul Karim ke Desa Lirboyo dilatarbelakangi dorongan dari mertuanya sendiri yang pada masa itu seorang dai. Kiai Sholeh berharap dengan menetapnya K.H. Abdul Karim di Lirboyo, berharap syiar Islam bisa lebih luas lagi.
Di samping itu juga, lanjut Muchlis, atas permohonan Kepala Desa Lirboyo kepada Kiai Sholeh, agar berkenan menempatkan salah satu menantunya di Desa Lirboyo. Dengan niat baik inilah diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tenteram.
"Harapan kepala desa pun menjadi kenyataan. Konon ketika pertama kali Kiai Abdul Karim menetap di Lirboyo, tanah ini diazani, saat itu juga semalaman penduduk Lirboyo nggak bisa tidur, karena konon akibat makhluk halus yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri," ujarnya.
Tiga puluh lima hari setelah menempati tanah wakaf tersebut, K.H. Abdul Karim mendirikan surau mungil nan sederhana untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.
Santri pertama yang menimba ilmu dari K.H. Abdul Karim adalah seorang bocah lugu yang bernama Umar asal Madiun. Kedatangannya disambut baik oleh K.H. Abdul Karim, lantaran kedatangan musafir ini tak lain untuk tholabul ilmi (menimba ilmu agama). Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten serta taat kepada kiai.
Selang beberapa waktu, tiga orang santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal K.H. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah, Kediri.
Memasuki hari kedua, semua barang-barang milik kedua santri tersebut ludes diambil pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, Lirboyo masih menyisakan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.
Tahun demi tahun, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi. Untuk menghindari hal-hal buruk seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling di sekitar pondok.
Mengingat keberadaan masjid begitu penting bagi perkembangan dakwah bagi umat Islam dan sebagai sarana untuk berbagai macam kegiatan keagamaan. Karena itu, Kiai Karim mendirikan masjid di Pondok Lirboyo, mengingat kian hari jumlah santri terus bertambah.
Maka, dua setengah tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, tepatnya pada 1913 Masehi, timbullah gagasan dari K.H. Abdul Karim untuk merintis berdirinya masjid di lingkungan pondok.
Semula masjid itu amat sederhana sekali, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, lambat laun bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak-poranda ditiup angin beliung dengan kencang.
K.H. Muhammad yang tidak lain adalah kakak ipar K.H. Abdul Karim sendiri mempunyai inisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Dari pertemuan antara seorang dermawan, H. Ya`qub, dengan K.H. Ma`ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan hartawan.
Usai pembangunan itu diselesaikan, peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabiul Awwal 1347 H (1928 M), atau bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri K.H. Abdul Karim yang kedua, Salamah dengan K.H. Manshur Paculgowang.
Dalam tempo penggarapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi, dinding serta lantainya yang terbuat dari batu merah, dengan gaya bangunan klasik, yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur Tengah.
Untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan, maka atas prakarsa K.H. Ma`ruf pintu yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan, mirip kejayaan daulat Fatimiyyah.
Selang beberapa tahun setelah bangunan masjid itu berdiri, santri kian bertambah banyak. Maka sebagai akibatnya masjid yang semula dirasa longgar semakin terasa sempit. Kemudian diadakan perluasan dengan menambah serambi muka, yang sebagian besar dananya dipikul oleh H. Bisyri, dermawan dari Branggahan, Kediri. Pembangunan ini dilakukan sekitar 1984.
Sekitar 1994, masjid ini mendapat penambahan bangunan di serambi depan masjid. Namun kenyataan mengatakan lain, jemaah atau para santri tetap saja membludak sehingga sebagian harus berjemaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjemaah salat Jumat banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan umum.
Untuk menjaga dan melestarikan amal jariyah pendahulu serta menghargai dan melestarikan nilai ritual dan historis, hingga kini masjid itu tidak mengalami perubahan. Hanya saja hampir menjelang akhir tahun dinding-dinding masjid yang sudah cukup tua itu dicat ulang dan sedikit ditambal sulam.
Pondok pesantren ini juga masih menyisakan pintu gerbang dengan bentuk dan bahan aslinya yang terbuat dari papan dengan atap genting, sebagai saksi sejarah yang tetap tegak berdiri mengawal perjuangan Islam hingga kini.(ANS)