Liputan6.com, Magelang: Kehadiran aktor Hollywood Richard Gere di Candi Borobudur punya alasan yang amat kuat. "Ajaran Buddha banyak mengalami perkembangan di sini. Indonesia memberikan sumbangan terhadap perkembangan Buddha di dunia," kata Phrakhru Baidika Bodhi dari Vihara Buddha Metta Arama, Menteng, Jakarta Pusat, mengutip pernyataan Richard saat melakukan ritual di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, menjelang akhir Juni silam.
Pilihan Richard boleh jadi tepat. Tahun ini bertepatan dengan seribu tahun momentum kehadiran Atisha, Sang Guru, di Candi Borobudur yang amat menginspirasi pelakon Pretty Woman itu. Maklum, Atisha inilah satu dari sederet tokoh pembawa ajaran Buddha ke Tibet, tempat Richard pernah menimba ilmu spiritual.
Atisha, yang berasal dari Bengali, India, belajar Buddha di Sriwijaya di Sumatra Selatan pada 1011. Setahun kemudian, barulah dia bertandang ke Candi Borobudur. Ajaran Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu dibawa Atisha ke Negeri Atap Dunia, Tibet. Maklum, gelombang pertama Buddha di Tibet dinilai tak terarah.
Untuk meluruskan ajaran Buddha di Tibet, Raja Tibet menggelar perjalanan mencari pendeta yang dinilai paling tepat mengajar di Tibet. Sayang, Sang Raja tertangkap musuh di perjalanan, dan wafat di tahanan.
Kenyataan tadi rupanya membuat Atisha justru semakin bersemangat "meluruskan" ajaran Buddha di Tibet. Selama 12 tahun lamanya dia belajar di Sumatra dan Candi Borobudur. Ajaran Atisha inilah yang diterapkan banyak aliran di Tibet, termasuk yang dipelajari Richard Gere.
Saat menjalani napak tilas Atisha sekaligus ritual, Richard bermeditasi di stupa utama Candi Borobudur, sesaat menjelang matahari terbit. Selepas itu dia melaksanakan pradaksina atau ritual berkeliling menghormati candi. Usai pradaksina, selebriti yang pernah ke Indonesia 25 tahun lampau itu berdoa bersama didampingi sejumlah biksu serta istrinya Carey Lowell, dan putranya, Homer James Jigme Gere. Itu sebagai bagian dari penghormatan seribu tahun napak tilas Atisha.
Menurut Bhante, Phrakhru Baidika Bodhi acap disapa, perkembangan Buddha bisa dilihat dari pembangunan gedung-gedung, pendidikan, atau kegiatan yang bersifat keagamaan yang sering dilakukan di Indonesia. "Termasuk, aktivitas sosial membantu masyarakat yang susah atau korban bencana alam yang belakangan melanda negeri ini," kata dia.
Pada dasarnya ajaran Buddha mengharuskan semua harus saling membantu dan bekerja sama. "Tujuannya, agar tercapainya kerukunan, kedamaian, dan kebahagiaan di dalam masyarakat yang menciptakan sebuah tatanan kehidupan sosial yang sempurna," ujar Bhante lagi.(EPN)