Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menginisiasi program pengimbasan lewat kolaborasi Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) dengan sekolah nasional.
Secara khusus, SPK diminta hadir berbagi praktik pembelajaran unggul kepada sekolah-sekolah Indonesia.
Advertisement
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengungkapkan posisi strategis SPK sebagai bagian integral yang berperan penting dalam peningkatan mutu pendidikan.
"SPK bukan entitas di luar sistem nasional, melainkan bagian integral yang memperkaya mutu pendidikan melalui standar global, penguatan karakter, dan jejaring antarbangsa yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila," ujar Fajar dalam acara Konvensi SPK Indonesia VIII di Bandung, Jawa Barat, yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Sabtu (11/10/2025).
Menurut dia, sekolah-sekolah SPK memiliki posisi yang unik.
"SPK berada di persimpangan antara nilai-nilai global dan konteks nasional. Di sekolah-sekolah ini, murid belajar berinteraksi lintas budaya setiap hari, belajar menghargai perbedaan, dan bekerja sama dalam keragaman," ucap Fajar.
Itu sebabnya, lanjut dia, Kemendikdasmen mendorong sekolah-sekolah SPK dan sekolah nasional berkolaborasi membangun ruang belajar bersama. Salah satu contoh nyata kolaborasi itu datang dari Bandung Alliance Intercultural School (BAIS).
Kemudian, Kepala Sekolah BAIS Travis Julian mengatakan, pihaknya telah menjalani program pengimbasan dengan menggandeng sejumlah sekolah di Bandung.
"Bentuk komitmen kami dalam pengimbasan terwujud melalui program pertukaran siswa dan guru, serta workshop kedisiplinan dan pelatihan pembelajaran bersama sekolah mitra," papar Travis.
Konvensi SPK Indonesia VIII, Bangun Lebih Banyak Ruang Kolaborasi
Hal senada juga disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua SPK Indonesia Oscarina Dewi Kusuma saat mendampingi Wamendikdasmen dalam Konvensi SPK Indonesia VIII.
"SPK secara konsisten hadir sebagai teladan dalam penerapan prinsip keberlanjutan dan pembentukan karakter siswa. SPK siap menularkan contoh praktik pendidikan yang berkelanjutan ke sekolah-sekolah nasional," ucap Dewi.
Dia menyebut, penerapan nilai-nilai aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari selaras dengan semangat kurikulum dari Lembaga Pendidikan Asing (LPA) di jaringan sekolah SPK.
"Sejak dini, siswa sudah terbiasa bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. Sebagai contoh, kami mengajarkan murid berperan aktif menjaga lingkungan sejak sekarang, bukan malah 20 tahun yang akan datang," terang Dewi.
Hal tersebut pun terus digaungkan dalam Konvensi SPK Indonesia VIII yang mengangkat tema Memimpin dengan Tujuan: Keberlanjutan dan Kewarganegaraan Global dalam Dunia Pendidikan di BAIS, Bandung, 8–10 Oktober 2025.
Pendidikan lebih dari sekadar membekali siswa dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi juga mempersiapkan siswa menjadi warga dunia yang bertanggung jawab, memahami, dan mampu mengatasi tantangan keberlanjutan.
Jadi Warga Global Tanpa Kehilangan Akar
Fajar kembali menjelaskan, perkumpulan sekolah SPK Indonesia sebagai asosiasi sekolah-sekolah SPK di seluruh Indonesia giat mengeksplorasi bagaimana sekolah dapat mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam kurikulum dan meningkatkan kesadaran global.
"Prinsip tersebut juga sejalan dengan 8 Dimensi Profil Lulusan yang tertuang dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional melalui Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan," ucap dia..
"Dari 8 dimensi ini, empat di antaranya sangat erat dengan tema Konvensi Nasional VIII SPK Indonesia hari ini, yaitu kewargaan, penalaran kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Karakter inilah yang ingin kita tanamkan melalui sistem pendidikan nasional sehingga anak-anak Indonesia mampu menjadi warga dunia yang cerdas sekaligus beradab," lanjut Fajar.
Menurut dia, Kemendikdasmen pun mendorong SPK untuk membangun ruang kolaborasi nyata yang mendukung program prioritas saat ini, mulai dari Pembelajaran Mendalam yang menempatkan SPK sebagai learning hub, Penguatan Guru BK untuk program pelatihan konselor sekolah, Pengajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial.
"Dari pengalaman kolaboratif inilah anak-anak belajar, bahwa menjadi warga global bukan berarti kehilangan akar, tetapi memperluas empati dan tanggung jawab sebagai manusia Indonesia," terang Fajar.
Maka, lanjut dia, SPK sebagai mitra strategis pemerintah terus aktif berkolaborasi dengan sekolah nasional untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang lebih baik.
"Upaya ini dapat memperluas akses masyarakat terhadap pembelajaran berstandar global sekaligus bentuk implementasi kebijakan serta inisiatif berbagi pengetahuan kepada sekolah negeri dan/atau sekolah swasta nasional di Indonesia," terang dia.
"Harapannya, SPK dan sekolah nasional sama-sama menjadi katalis transformasi pendidikan Indonesia dalam menuju sistem modern, inklusif, dan berdaya saing global," tandas Fajar.