Liputan6.com, Poso: Warga masyarakat Poso, Sulawesi Tengah, tak ingin ada orang luar kembali mengobok-obok Poso seperti peristiwa kekerasan yang terjadi sepuluh tahun silam.
"Kita tidak suka ada ribut-ribut lagi di daerah ini. Kami ini mau hidup tenang. Bebas ke sana kemari, tanpa ada rasa takut," kata warga RT 4, Kelurahan Kasintivu, Poso Kota Utara, Kabupaten Poso, Rusli, Rabu (1/6).
Warga Poso seperti Rusli pantas khawatir dengan kondisi sekarang yang terasa agak tegang setelah peristiwa penembakan yang menewaskan dua anggota polisi. Termasuk juga temuan 12 rangkaian bom aktif oleh polisi.
Menurut Rusli, selama ini hubungan antarwarga masyarakat dari berbagai suku, agama, etnis, sudah baik. Itu terjadi karena semua sudah kembali melebur. Semua orang memikirkan masa depan dan kelangsungan hidup yang lebih baik.
"Kami kadang berkumpul dan bercerita yang lucu-lucu dari peristiwa konflik lalu. Sudah bagus, tidak ada lagi dendam," katanya. Rusli kini bertetangga dengan keluarga Kristen. Mereka hidup bertetangga dengan harmonis.
Di tempat terpisah, seorang guru di SMP Negeri 1 Poso, Nestor mengatakan, selama ini hubungan antarsesama umat beragama sudah terjalin baik.
"Di sekolah kami, kalau ada tahlilan dari umat Muslim, kami dari guru-guru Kristiani hadir. Ikut membantu sampai ke dapur untuk mengerjakan daging. Kami saling membantu. Hubungan kami sudah bagus, tidak ada lagi rasa waswas," katanya." kata Nestor.
Konflik Poso di masa lalu sangat merugikan masyarakat umum. Terutama masyarakat kecil. Rumah-rumah tinggal mereka rusak dan hancur dalam sekejap.
Pascapenembakan polisi di Palu yang pelakunya diduga dari Poso sempat mengusik ketenangan warga.
Sementara itu, Pendeta GKST Sion Poso, Cornelius Ramma mengatakan bahwa hubungan komunitas masyarakat beragama sudah membaik. Serasa tak pernah ada konflik di Poso. Peran para pemuka umat sangat penting dalam membina suasana damai dalam kehidupan warga.
Cornelius mengatakan, munculnya berbagai isu negatif tak bertanggung jawab yang mengusik ketenangan masyarakat Poso belakangan ini hanyalah dimaksudkan untuk mengusik kedamaian warga.
"Ini kerja dari orang yang tidak bertanggungjawab yang mau mengadu domba kami," katanya.
Hal senada diungkapkan pimpinan Pondok Pesantren Hikmah, Haji Muh Adnan Arsal. Ia mengatakan, saat ini hubungannya dengan tokoh-tokoh non-Muslim cukup baik.
"Saya sering telepon-teleponan dengan Pak Pendeta Damanik. Hubungan kami cukup baik," katanya. (ANT/Vin)
"Kita tidak suka ada ribut-ribut lagi di daerah ini. Kami ini mau hidup tenang. Bebas ke sana kemari, tanpa ada rasa takut," kata warga RT 4, Kelurahan Kasintivu, Poso Kota Utara, Kabupaten Poso, Rusli, Rabu (1/6).
Warga Poso seperti Rusli pantas khawatir dengan kondisi sekarang yang terasa agak tegang setelah peristiwa penembakan yang menewaskan dua anggota polisi. Termasuk juga temuan 12 rangkaian bom aktif oleh polisi.
Menurut Rusli, selama ini hubungan antarwarga masyarakat dari berbagai suku, agama, etnis, sudah baik. Itu terjadi karena semua sudah kembali melebur. Semua orang memikirkan masa depan dan kelangsungan hidup yang lebih baik.
"Kami kadang berkumpul dan bercerita yang lucu-lucu dari peristiwa konflik lalu. Sudah bagus, tidak ada lagi dendam," katanya. Rusli kini bertetangga dengan keluarga Kristen. Mereka hidup bertetangga dengan harmonis.
Di tempat terpisah, seorang guru di SMP Negeri 1 Poso, Nestor mengatakan, selama ini hubungan antarsesama umat beragama sudah terjalin baik.
"Di sekolah kami, kalau ada tahlilan dari umat Muslim, kami dari guru-guru Kristiani hadir. Ikut membantu sampai ke dapur untuk mengerjakan daging. Kami saling membantu. Hubungan kami sudah bagus, tidak ada lagi rasa waswas," katanya." kata Nestor.
Konflik Poso di masa lalu sangat merugikan masyarakat umum. Terutama masyarakat kecil. Rumah-rumah tinggal mereka rusak dan hancur dalam sekejap.
Pascapenembakan polisi di Palu yang pelakunya diduga dari Poso sempat mengusik ketenangan warga.
Sementara itu, Pendeta GKST Sion Poso, Cornelius Ramma mengatakan bahwa hubungan komunitas masyarakat beragama sudah membaik. Serasa tak pernah ada konflik di Poso. Peran para pemuka umat sangat penting dalam membina suasana damai dalam kehidupan warga.
Cornelius mengatakan, munculnya berbagai isu negatif tak bertanggung jawab yang mengusik ketenangan masyarakat Poso belakangan ini hanyalah dimaksudkan untuk mengusik kedamaian warga.
"Ini kerja dari orang yang tidak bertanggungjawab yang mau mengadu domba kami," katanya.
Hal senada diungkapkan pimpinan Pondok Pesantren Hikmah, Haji Muh Adnan Arsal. Ia mengatakan, saat ini hubungannya dengan tokoh-tokoh non-Muslim cukup baik.
"Saya sering telepon-teleponan dengan Pak Pendeta Damanik. Hubungan kami cukup baik," katanya. (ANT/Vin)