Faktor Genetik Bikin Perokok Kecanduan

Bukan hal yang mudah untuk berhenti merokok. Bahkan beberapa perokok membutuhkan waktu yang lama untuk menendang kebiasaan itu. Dan peneliti menunjukkan ada faktor genetik yang membuat seseorang sulit berhenti

oleh Liputan6Diterbitkan 18 Mei 2011, 14:32 WIB
Liputan6.com, Philadelphia: Bukan hal yang mudah untuk berhenti merokok. Bahkan beberapa perokok membutuhkan waktu yang lama untuk menendang kebiasaan itu. Dan peneliti menunjukkan ada faktor genetik yang membuat seseorang sulit berhenti merokok.

Studi baru, yang muncul dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, diharapkan dapat membantu mendorong strategi agar perokok tertentu berhenti dengan efektif.

Peneliti menggunakan PET scan untuk menangkap gambar dari jumlah "reseptor opioid-mu" pada otak perokok. Perokok dengan jumlah reseptor-reseptor yang lebih besar tampaknya mendapatkan kenikmatan lebih dari nikotin, dan sebagai hasilnya mungkin memiliki waktu yang lebih sulit untuk berhenti.

"Sistem opioid otak berperan dalam memberi penghargaan merokok, berhenti merokok dan beberapa variabilitas kemampuan kita untuk berhenti merokok yang disebabkan faktor genetik," kata peneliti Caryn Lerman, PhD, Direktur Pusat Penelitian Penggunaan Tembakau di University of Pennsylvania di Philadelphia.

Menurut Lerman, banyak faktor yang membuat perokok aktif sulit berhenti. Salah satunya faktor genetik yang membuat orang lebih sulit berhenti. "Kemampuan untuk berhenti merokok dipengaruhi oleh sejumlah faktor psikologis, sosial, dan lingkungan, tetapi juga faktor genetik," katanya.

"Bagi sebagian orang, variasi genetik dapat membuat lebih sulit untuk berhenti daripada untuk orang lain yang merokok dalam jumlah yang sama untuk waktu yang sama," kata Lerman.

Mungkin ada peran obat pribadi untuk berhenti merokok. Obat pribadi ini mengambil trial and error sesuai perlakuan untuk membuat keputusan berdasarkan profil genetik. "Berdasarkan latar belakang genetik seseorang, kita dapat memilih perawatan yang optimal," katanya. "Ini merupakan dua pendekatan pengembangan obat baru dan mampu membuat pilihan terbaik bagi orang tertentu berdasarkan pilihan yang ada," jelasnya.

"Jangan menjadi fatalistik," katanya. "Anda mungkin perlu pendekatan khusus yang disesuaikan dengan Anda," katanya. "Ke depan, kami berharap studi ini sebagai jalur untuk lebih memahami latar belakang genetik dan memeriksa sejumlah reseptor otak yang dapat membantu kita memilih perawatan yang tepat untuk individu yang benar."

Raymond S. Niaura, PhD, Directur Asosiasi untuk ilmu di Institut Schroeder dari American Legacy Foundation, sebuah kelompok antirokok yang berbasis di Washington, DC, mengatakan bahwa ada pengaruh genetik yang terlibat dalam kecanduan nikotin dan tembakau pada seberapa susahnya untuk berhenti merokok. "Temuan baru tentang genetik yang mendasari otak bertanggung jawab untuk kecanduan nikotin," katanya.

"Orang dengan variasi genetik tertentu mungkin memperoleh manfaat dengan perawatan jangka panjang," katanya. "Mereka mungkin memiliki kepekaan terhadap nikotin jenis tertentu yang dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi kecanduan dan mengapa mereka menggunakan pengganti nikotin untuk waktu yang lebih lama dari yang lain," jelasnya.(WebMD/MEL)

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya