Liputan6.com, Jakarta: Sejumlah tokoh Islam bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla di Kantor Menko Kesra, Jakarta, Rabu (1/5). Dalam pertemuan itu, mereka membahas konflik di Ambon, Maluku, yang memanas pada pekan silam. Mereka mengimbau para tokoh agama tak memberikan pernyataan yang justru akan memanaskan situasi di ibu kota Provinsi Maluku itu. Sebaliknya, mereka diminta mendinginkan suasana Kota Ambon dan berupaya mencari penyelesaian konflik [baca: Hasyim Muzadi: Separatisme Harus Dipisahkan dengan Agama].
Pertemuan itu dihadiri antara lain Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Haji Sholahuddin Wahid, Sekretaris Jenderal Muhammadiyah Goodwil Zubir, Ketua Majelis Ulama Indonesia Hamidan, dan Menteri Agama Said Agil Al Munawar. Sedangkan Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi lebih dulu meninggalkan pertemuan karena akan menemui Presiden Megawati Sukarnoputri.
Dalam pertemuan dengan Menko Kesra yang juga mediator Pertemuan Malino II, mereka menyesalkan insiden pengibaran bendera Republik Maluku Selatan saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-52 kelompok separatis itu, 25 April silam [baca: Puluhan Pengibar Bendera RMS Ditahan]. Para tokoh Islam juga menyesalkan penyerangan sekelompok orang bersenjata ke Desa Soya dan Ahoru, Kecamatan Sirimau, Ambon, yang menewaskan 12 warga sipil [baca: Dua Ledakan Mengguncang Ambon, 12 Orang Tewas]. Menurut mereka, kedua kasus tersebut adalah pelanggaran hukum yang harus diusut tuntas. Karena itu, penegakan hukum di Ambon mutlak diperlukan.
Seusai pertemuan, Menko Kesra mengharapkan seluruh tokoh agama lain juga memberikan masukan serupa. Hal itu penting dilakukan mengingat konflik Ambon sudah berlangsung selama tiga tahun lebih. Menurut dia, pemerintah akan mempertimbangkan seluruh masukan tersebut, sehingga konflik segera terselesaikan.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Palang Merah Indonesia Mar`ie Muhammad mengatakan bahwa operasi kemanusiaan tetap berlangsung di Ambon. Untuk itu, PMI telah mengirimkan tim relawan yang beranggotakan 30 orang. Menurut Mar`ie, tim tersebut tetap berada di Ambon, selama konflik terus memanas.(ANS/Teguh Hadi Prayitno dan Kurnia Supriyatna)
Pertemuan itu dihadiri antara lain Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Haji Sholahuddin Wahid, Sekretaris Jenderal Muhammadiyah Goodwil Zubir, Ketua Majelis Ulama Indonesia Hamidan, dan Menteri Agama Said Agil Al Munawar. Sedangkan Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi lebih dulu meninggalkan pertemuan karena akan menemui Presiden Megawati Sukarnoputri.
Dalam pertemuan dengan Menko Kesra yang juga mediator Pertemuan Malino II, mereka menyesalkan insiden pengibaran bendera Republik Maluku Selatan saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-52 kelompok separatis itu, 25 April silam [baca: Puluhan Pengibar Bendera RMS Ditahan]. Para tokoh Islam juga menyesalkan penyerangan sekelompok orang bersenjata ke Desa Soya dan Ahoru, Kecamatan Sirimau, Ambon, yang menewaskan 12 warga sipil [baca: Dua Ledakan Mengguncang Ambon, 12 Orang Tewas]. Menurut mereka, kedua kasus tersebut adalah pelanggaran hukum yang harus diusut tuntas. Karena itu, penegakan hukum di Ambon mutlak diperlukan.
Seusai pertemuan, Menko Kesra mengharapkan seluruh tokoh agama lain juga memberikan masukan serupa. Hal itu penting dilakukan mengingat konflik Ambon sudah berlangsung selama tiga tahun lebih. Menurut dia, pemerintah akan mempertimbangkan seluruh masukan tersebut, sehingga konflik segera terselesaikan.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Palang Merah Indonesia Mar`ie Muhammad mengatakan bahwa operasi kemanusiaan tetap berlangsung di Ambon. Untuk itu, PMI telah mengirimkan tim relawan yang beranggotakan 30 orang. Menurut Mar`ie, tim tersebut tetap berada di Ambon, selama konflik terus memanas.(ANS/Teguh Hadi Prayitno dan Kurnia Supriyatna)