Sitha Dewi Marino, Pebasket Italia yang Bermimpi Bela Indonesia

Sitha Dewi Marino memang bermain di kompetisi nasional, namun tak bisa membela timnas Indonesia.

oleh Andhika PutraDiterbitkan 27 Februari 2018, 15:10 WIB
Sitha Marino pebasket cantik yang bermain untuk klub Sahabat Semarang saat mengikuti sesi foto bersama Bola.com di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, (23/2/2018). (Bola.com/Nick Hanoatubun)

Jakarta - Gema dentuman bola yang dihentak Francesco Marino membuat jiwa sang putri, Sitha Dewi Marino, bergetar. Hatinya berguncang setiap kali memantulkan bola, perasaan tersebut bagai candu yang selalu memaksa gadis kelahiran Denpasar itu kembali ke lapangan.

Sitha sudah mengenal basket sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam perjalanannya, dara berusia 18 tahun tersebut menemui banyak hambatan, satu di antaranya adalah pandangan skeptis dari orang-orang di sekitar.

Bakatnya tak pernah menjadi yang paling menonjol di dalam tim, tetapi tekad Sitha untuk membuktikan diri tak pernah padam. Berawal dari pemain yang dipandang sebelah mata, Sitha kini bisa membusungkan dada karena berhasil menembus level profesional bersama klub Sahabat Semarang.

"Dulu ada sesorang yang pernah berkata kalau saya tidak akan mungkin bisa berkembang di basket. Bakat saya ada, tetapi tidak akan pernah bisa menonjol," ujar Sitha kepada Bola.com.

Sitha Marino pebasket cantik yang bermain untuk klub Sahabat Semarang saat mengikuti sesi foto bersama Bola.com di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, (23/2/2018). (Bola.com/Nick Hanoatubun)

"Ucapan itu selalu saya ingat sampai saat ini. Bukan sebuah perkataan yang membuat saya jatuh, tetapi justru menjadi motivasi," sambung pebasket yang juga hobi memasak tersebut.

Basket bukan hanya sekedar olahraga bagi Sitha. Lebih dari itu, basket menjadi wadah Sitha menemukan jati diri.

Perilaku Sitha yang tergolong bandel membuatnya dijauhi teman sebayanya kala itu. Namun, setelah mengenal basket, Sitha justru jadi lebih mudah bergaul.

"Basket itu seperti sudah menjadi hidup saya. Kalau tidak bermain basket justru malah jadi bingung karena olahraga ini banyak mengajarkan hal penting dalam hidup seperti kedisiplinan," tutur Sitha Dewi Marino.


Terjun ke Profesional

Sitha Marino pebasket cantik yang bermain untuk klub Sahabat Semarang saat mengikuti sesi foto bersama Bola.com di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, (23/2/2018). (Bola.com/Nick Hanoatubun)

Titik balik perjalanan karier Sitha terjadi saat dirinya terpilih masuk dalam skuat DBL All-Star 2016 yang berangkat ke Amerika Serikat. Sebelumnya tak pernah terpikir dalam hidup alumnus SMA Soverdi Turban tersebut bahwa basket bisa membawanya menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam.

Lewat DBL All-Star 2016 juga bakat Sitha Marino tercium Universitas Pelita Harapan yang memberinya beasiswa. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sitha memutuskan pindah dari Bali ke Jakarta dan hidup mandiri tanpa orang tua demi mengejar impian di dunia basket.

Lanjut Baca:

Tak hanya beasiswa, Sitha juga dilirik beberapa klub profesional Indonesia. Akan tetapi, penggemar berat LeBron James itu tak ingin gegabah mengambil keputusan. Pertimbangan Sitha tak lepas dari kondisi liga basket putri yang belum jelas di Indonesia. Menurut gadis kelahiran 1999 itu, masa depan pebasket putri di Indonesia masih jauh dari kata menjanjikan. "Sebetulnya bukan tidak ingin memiliki karier sebagai pebasket profesional. Saya cinta basket, tetapi tidak ingin menjadikan olahraga ini sebagai pegangan hidup," kata Sitha. Keputusan Sitha mulai berubah saat Dewi Putri Sungging, seniornya di Universita Pelita Harapan, mengajaknya bermain di klub Sahabat Semarang. Sosok Sungging juga yang membuat Sitha yakin memilih Sahabat Semarang sebagai klub profesional pertamanya. "Sungging sudah seperti kakak bagi saya yang jauh dari orang tua. Ketika dia mengajak bermain di Sahabat Semarang, awalnya sempat ragu, tetapi setelah dipikir, tidak ada salahnya dicoba," tutur Sitha. "Pertama-tama sempat canggung karena kebanyakan mereka berbicara bahasa Jawa. Namun, lama kelamaan saya bisa menyatu dengan tim dan chemistrynya mulai terbentuk," sambungnya. Sitha memulai debutnya bersama Sahabat Semarang pada seri pertama Srikandi Cup 2017-2018 di Makassar. Proses bergabungnya Sitha ke Sahabat juga terbilang mendadak dan cepat karena putri bungsu dari tiga bersaudara itu masuk ke tim di pertengahan kompetisi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya