Batubara Jauh Lebih Mematikan daripada Nuklir

“Tak ada sanggahan,” kata Joseph Romm, seorang ahli energi di Center for American Progress di Washington DC. “Tidak ada yang lebih buruk daripada bahan bakar fosil dalam membunuh orang.“

oleh Liputan6Diterbitkan 06 April 2011, 14:47 WIB
Citizen6, Jakarta: Dengan adanya krisis nuklir di Jepang, Jerman telah mematikan sementara 7 reaktornya, dan Cina yang sedang membangun paling banyak PLTN di dunia ini telah menunda persetujuan bagi seluruh fasilitas barunya. Namun reaksi tersebut mungkin lebih dipengaruhi oleh politik daripada oleh ketakutan akan adanya suatu bencana yang membawa kematian.

Hal ini mungkin sedikit menghibur mereka yang tinggal di sekitar Fukushima, tetapi memang tenaga nuklir membunuh jauh lebih sedikit orang dibandingkan dengan sumber energi lain, berdasarkan sebuah kajian oleh International Energy Agency (IAE).

“Tak ada sanggahan,” kata Joseph Romm, seorang ahli energi di Center for American Progress di Washington DC.  “Tidak ada yang lebih buruk daripada bahan bakar fosil dalam membunuh orang.“

Sebuah kajian pada 2002 oleh IAE merangkum studi-studi yang telah dilakukan untuk membandingkan jumlah kematian per unit listrik yang dihasilkan pada beberapa sumber energi utama. Badan ini memeriksa siklus hidup masing-masing bahan bakar mulai dari ekstraksi hingga purna-pakai, dan memasukkan kematian yang diakibatkan oleh kecelakaan serta akibat risiko jangka panjang yang disebabkan emisi atau radiasi.

Hasilnya, nuklir muncul sebagai yang terbaik dan batubara adalah sumber energi yang paling mematikan. Penjelasannya terletak pada besarnya jumlah kematian yang disebabkan oleh polusi.

“Batubara pada seluruh siklus hidupnya meninggalkan jejak cidera, penyakit dan kematian,” kata Paul Epstein, Direktur Asosiasi dari Pusat Kesehatan dan Lingkungan Global di Harvard Medical School.

Partikel lembut dari PLTU batubara membunuh sekitar 13.200 orang setiap tahunnya di Amerika Serikat saja, menurut Boston-based Clean Air Task Force (Tile Tal/from Coal, 2010). Tambahan korban jiwa juga muncul dari dari kegiatan pertambangan dan pengangkutan batubara serta bentuk-bentuk polusi lain terkait dengan batubara.

Sebaliknya, International Atomic  Energy Agency (IAEA) dan PBB memperkirakan jumlah korban mati karena kanker setelah krisis tahun 1986 di PLTN Chernobyl mencapai sekitar 9.000 orang.  Bahkan, angka korban mati dari tenaga nuklir sebenarnya tidak seluruhnya terkait langsung dengan tenaga nuklir. Lebih dari separuh kematian berasal dari kegiatan pertambangan uranium, menurut IEA. 

Namun meski angka tersebut dimasukkan kedalam korban mati akibat tenaga nuklir, jumlah korban keseluruhan tetap jauh lebih rendah dibandingkan dengan sumber bahan bakar lainnya. (Pengirim: Sumarbagiono)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya