Liputan6.com, Yogyakarta: Imam Yahya M. Hendi, seorang tokoh muslim Amerika Serikat dari Universitas Georgetown di Washington D.C. berkunjung ke kantung-kantung Islam di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18/4). Di antaranya adalah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Pabelan di Muntilan, Jateng dan Universitas Gadjah Mada, Ponpes Al Munawwir di Krapyak, serta Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kunjungan dilakukan untuk menjelaskan kepada muslim di Jateng dan Yogya perihal sikap AS terhadap terorisme selama ini. Termasuk juga tentang kebijakan AS terhadap umat Islam.
Berdasarkan pemantauan SCTV, Imam Yahya sempat berdialog dengan tokoh-tokoh muslim setempat perihal kehidupan umat Islam di AS, pascatragedi World Trade Center, 11 September 2001. Menurut Imam, dia sengaja mengunjungi Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Terlebih lagi, ia merasa berkepentingan mengklarifikasi dan mengakhiri kesalahpahaman antara pemerintah AS dan umat Islam, khususnya di Indonesia.
Seperti diketahui, pascatragedi WTC, hubungan umat Islam dan pemerintah AS terus memburuk. Ditambah lagi dengan tindakan AS menyerang Afghanistan yang diklaim pemerintah Negeri Paman Sam itu sebagai upaya menumpas teroris. Untuk yang terakhir ini--bahkan setiap pernyataan AS tentang penumpasan terorisme--selalu dituding umat Islam sebagai upaya menumpas kaum muslim oleh kekuatan Yahudi. Protes keras pun bertubi-tubi dilayangkan umat Islam di seluruh dunia.
Buktinya, selain unjuk rasa, muslim di Indonesia pun menyerukan memboikot segala produk buatan negara Adidaya itu. Padahal, pemerintah AS merasa penyerangan dilakukan untuk menumpas teroris dan bukan memerangi umat Islam.
Kemarin, Imam Yahya sempat berdialog dengan SCTV. Pada kesempatan itu, Imam Yahya mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat AS kini mulai mengerti bahwa Islam ternyata tak berada di balik aksi yang meruntuhkan WTC [baca: Umat Kristen AS Mulai Memahami Islam]. Sebab, tak mungkin ajaran Islam menghalalkan aksi teroris, seperti yang terjadi di AS. Sekarang mereka percaya bahwa penghancuran Gedung WTC di New York dilakukan oleh teroris yang tak beragama.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Berdasarkan pemantauan SCTV, Imam Yahya sempat berdialog dengan tokoh-tokoh muslim setempat perihal kehidupan umat Islam di AS, pascatragedi World Trade Center, 11 September 2001. Menurut Imam, dia sengaja mengunjungi Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Terlebih lagi, ia merasa berkepentingan mengklarifikasi dan mengakhiri kesalahpahaman antara pemerintah AS dan umat Islam, khususnya di Indonesia.
Seperti diketahui, pascatragedi WTC, hubungan umat Islam dan pemerintah AS terus memburuk. Ditambah lagi dengan tindakan AS menyerang Afghanistan yang diklaim pemerintah Negeri Paman Sam itu sebagai upaya menumpas teroris. Untuk yang terakhir ini--bahkan setiap pernyataan AS tentang penumpasan terorisme--selalu dituding umat Islam sebagai upaya menumpas kaum muslim oleh kekuatan Yahudi. Protes keras pun bertubi-tubi dilayangkan umat Islam di seluruh dunia.
Buktinya, selain unjuk rasa, muslim di Indonesia pun menyerukan memboikot segala produk buatan negara Adidaya itu. Padahal, pemerintah AS merasa penyerangan dilakukan untuk menumpas teroris dan bukan memerangi umat Islam.
Kemarin, Imam Yahya sempat berdialog dengan SCTV. Pada kesempatan itu, Imam Yahya mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat AS kini mulai mengerti bahwa Islam ternyata tak berada di balik aksi yang meruntuhkan WTC [baca: Umat Kristen AS Mulai Memahami Islam]. Sebab, tak mungkin ajaran Islam menghalalkan aksi teroris, seperti yang terjadi di AS. Sekarang mereka percaya bahwa penghancuran Gedung WTC di New York dilakukan oleh teroris yang tak beragama.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)