Buku Kuno dan Langka Berusia 400 Tahun

Pesantren Pamekasan Madura Koleksi Kitab Kuno dan Langka Karya Intelektual Islam Abad 15.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Maret 2011, 12:19 WIB
Citizen6, Pamekasan: Setelah melakukan penelitian di Pesantren Azzubeir, Dusun Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, peneliti dari Balai Litbang Kantor Kementerian Agama Semarang menemukan 80 kitab kuno yang diperkirakan berusia 400 hingga 500 tahun. Terdapat 80 kitab kuno berhuruf Arab itu asli ditulis dengan tangan dan memiliki 200 tema, dari karya intelektual Islam yang hidup di era 1500 hingga 1689 atau abad 15 dan abad 16.

Salah satu karya yang fenomenal adalah Kitab Bahrul Lahut atau Samudera Ketuhanan, karya Syeih Abdullah Syarif, intelektual Islam asal Aceh yang menulisnya dengan bahasa Melayu. Fenomenal, lantaran buku yang ditulis berbahasa Melayu itu banyak dicari kalangan peneliti Islam, termasuk peneliti asing. Kepala Perpustakaan Pesantren Azzubeir, Kholis mengatakan, peneliti dari Kantor Kemenag Semarang itu melakukan proses digitalisasi ratusan kitab kuno yang sangat langka itu.

Ratusan kitab kuno itu merupakan koleksi Syeih Azzubier, penyiar agama Islam di Pulau Madura yang sekaligus pendiri pesantren Azubier. Kitab kuno lain buah karya intelektual muslim, berjudul Al'Mursalah atau lebih dikenal dengan sebutan Kitab Martabah Tujuh karya Burhan Burri, penyiar agama Islam asal India. Juga Kitabul Waqad atau ilmu astronomi. Kedua kitab fenomenal itu juga ditulis dengan tangan.

Salah satu kandungan isi kitab astronomi berbahasa Arab itu, menjelaskan tentang peredaran bumi, bulan dan matahari. Sedangkan kitab yang paling dikenal adalah kitab Al Muharrar dan kamus Al Muhith. Kamus Al Muhith edisi tulisan tangan hanya ada dua buku. Yang satu disimpan di Mesir dan yang satu lagi di Pamekasan ini.

Menurut Kholis, sebagian besar kitab karya intelektual Islam itu ditulis tangan di atas kertas buatan Eropa. Sebab, jika diterawang akan terlihat samar gambar huruf CHK, dan gambar kepala singa bermahkota. Jenis kertas yang digunakan hanya untuk dokumen, naskah, dan kitab penting dan untuk kalangan terbatas. "Penelitian kitab kuno itu dimaksudkan untuk meneliti keanekaragaman dan khazanah ilmu ke-Islam-an," imbuh Kholis.

Sayangnya, kondisi kitab-kitab kuno itu cukup memprihatinkan, karena lapuk dimakan usia. Untuk menyelamatkan kitab warisan nenek moyang Indonesia itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud), Yusuf Suhartono berjanji akan memfasilitasinya.

Dengan seizin pemilik, Disporabud Pamekasan akan memberikan fasilitas teknis pemeliharaan dan perawatan kitab kuno agar tidak rusak dimakan usia. (Pengirim: Yoeni Poerba)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya