Tradisi Jemparingan Jadi Daya Tarik Wisata Yogyakarta

Tradisi jemparingan atau tradisi memanah kuno dalam budaya Mataram tengah dikembangkan untuk jadi daya tarik wisata.

oleh Yanuar HDiterbitkan 22 Januari 2018, 12:45 WIB
Jemparingan merupakan tradisi memanah kuno yang sudah ada sejak zaman Mataram. Foto: Yanuar H/ Liputan6.com.

Liputan6.com, Jakarta

Beragam Acara

Keraton Yogyakarta
Selama acara ini akan ada workshop seputar jemparingan mulai dari panahan hingga tarian jemparingan. Bahkan tariannya ini masih dilakukan di Keraton Yogyakarta. 
"Jemparingan ada olahraganya ada tariannya juga ada, itu di keraton jadi ini agenda nasional ini hal sangat baru," ujarnya.
 
Nantinya acara akan digelar dibeberapa tempat mulai di Kepatihan, Keraton hingga di Museum Sonobudoyo. Namun, ia belum mengetahui jadwal pasti karena masih berkordinasi dengan Dirjen Kebudayaan.
 
"Agenda jemparingan akan ada hanya disini nanti. Kita sepakat dengan dirjen untuk acaranya. Ada workshop mungkin di kepatihan, tarian di sini di keraton," ujarnya. 
 

Aturan dalam Jemparingan

Jemparingan sendiri punya aturan, pemanah harus mengenai bandul putih dengan warna merah di atasnya yang digantung dengan tali sebagai sasaran tembaknya. Foto: Yanuar H/ Liputan6.com.

Jemparingan sendiri punya aturan, pemanah harus mengenai bandul putih dengan warna merah di atasnya yang digantung dengan tali sebagai sasaran tembaknya. Ada bunyi lonceng yang menandai jika anak panah itu tertancap pada bandul tersebut.

Pemanah juga harus duduk dengan posisi bersila dengan jarak 30 meter dari sasaran, kemudian pemain harus menembakan anak panah ke bandul putih yang menggantung dengan panjang kira-kira 30 centimeter. Biasanya, pemanah diberi kesempatan menembak dalam 20 rambahan (ronde), setiap rondenya ada empat anak panah.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya