Museum Batak, Menyelamatkan Tradisi yang Hilang

Untuk menyelamatkan artefak, benda sejarah, dan tradisi budaya batak, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara TB Silalahi menggagas pendirian Museum Batak di Balige, Sumut. Museum ini diharapkan bisa memberikan banyak manfaat.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 Maret 2011, 02:29 WIB
Liputan6.com, Balige: Tergelitik dengan pernyataan Pramoedya Ananta Toer mengenai budaya batak yang dinilai miskin, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara TB Silalahi menggagas pendirian Museum Batak di Balige, Sumatra Utara. Apalagi, setelah dirinya membaca sebuah buku berjudul Batak Culture. "Ternyata artefak batak itu banyak sekali dan luar biasa," kata TB Silalahi, belum lama ini.

Namun, lanjutnya, artefak batak sudah diambil dan dibawa keluar negeri, terutama Jerman, Belanda, Inggris, dan Prancis. "Sembilan puluh lima persen artefak batak berada di luar negeri," ucap TB Silalahi.

Atas dasar itulah, ia menggagas pembangunan museum yang siap menampung ribuan artefak batak atau benda peninggalan sejarah budaya batak. Adalah koleksi-koleksi milik TB Silalahi sendiri yang pertama kali mengisi Museum Batak. Gayung bersambut. Banyak warga yang menitipkan artefak atau benda bersejarah budaya batak.

Farrel Napitupulu salah satunya. Dosen perguruan tinggi di Medan ini menitipkan warisan keluarga turun temurunnya yang sudah berusia ratusan tahun. "Kalau koleksi berharga di simpan di museum, kan banyak orang yang melihatnya," ucap Farrel. Tidak mau ketinggalan, anggota DPRD Toba Samosir, Sabam Simanjuntak, menyerahkan hombung yang biasa digunakan sang bunda untuk menyimpan perhiasan dan benda berharga.

Museum Batak dibangun secara megah dan modern. Letaknya juga di dekat pemandangan asri Danau Toba. Museum ini sengaja dibangun tak hanya sekadar menjaga dan memelihara budaya leluhur, tapi juga menjadi kebanggaan masyarakat sekitar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bagkan sengaja datang khusus untuk meresmikan museum ini pada 18 Januari silam. Sejumlah anggota kabinet dan duta besar negara sahabat, seperti Australia, Inggris, serta Belanda turut hadir dalam acara peresmian. Presiden Yudhoyono memberi apresiasi yang tinggi karena Museum Batak bisa menyelamatkan banyak peninggalan budaya.

Bagian dari penghormatan budaya, Presiden Yudhoyono diberikan pakaian kehormatan atau lebih dikenal dengan istilah bulang bulang dari enam puat atau sub etnis batak. Bahkan, Lembaga Adat Angkola memberikan gelar kehormatan bagi Presiden Yudhoyono dan Ibu Negara, Ani Yudhoyono. Presiden SBY menerima gelar Patuan Sorimulia Raja. Sementara Ibu Negara menerima gelar Naduma Harungguan Hasayangan. Gelar ini penghormatan yang biasa diberikan pada tamu adat.

Bagi masyarakat batak dan dari luar batak, keberadaan museum ini memberikan banyak manfaat. Langkah berikutnya adalah peran pemerintah daerah untuk lebih aktif agar Museum Batak yang telah kokoh berdiri dapat terus memberikan manfaat lebih luas pada masyarakat. Menjaga dan memelihara budaya tradisi bangsa sendiri tidak boleh berhenti untuk kepentingan anak cucu di masa datang.(BOG)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya