Liputan6.com, Atambua: Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal polisi Rusdihardjo menyesalkan penyerangan Kantor Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) yang berada di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Akibat dari penyerangan tersebut, lima orang tewas. Saat ini pihaknya tengah menyelidiki motif penyerangan tersebut.
Ketika dikonfirmasi mengenai penanganan kasus kerusuhan tersebut, Kamis (7/9), Rusdihardjo juga menyesalkan tewasnya seorang milisi dalam peristiwa itu. Menurut Kapolri, kejadian tersebut terjadi dengan sangat cepat, sehingga polisi tidak sempat mengamankan kantor UNHCR.
Soal pelaku penyerangan, Rusdihardjo belum bisa memberikan keterangan. Tapi, ia telah memerintahkan untuk mengalihkan satu batalyon Polri yang berada di Kupang untuk segera masuk ke Atambua. Tujuannya, untuk menjaga hal-hal negatif yang tak diinginkan. Polri juga memberikan perlindungan hukum bagi dua milisi yang menjadi tersangka kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia Timor Timur.(ULF/Nina Waskito dan Gatot Setiawan)
Ketika dikonfirmasi mengenai penanganan kasus kerusuhan tersebut, Kamis (7/9), Rusdihardjo juga menyesalkan tewasnya seorang milisi dalam peristiwa itu. Menurut Kapolri, kejadian tersebut terjadi dengan sangat cepat, sehingga polisi tidak sempat mengamankan kantor UNHCR.
Soal pelaku penyerangan, Rusdihardjo belum bisa memberikan keterangan. Tapi, ia telah memerintahkan untuk mengalihkan satu batalyon Polri yang berada di Kupang untuk segera masuk ke Atambua. Tujuannya, untuk menjaga hal-hal negatif yang tak diinginkan. Polri juga memberikan perlindungan hukum bagi dua milisi yang menjadi tersangka kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia Timor Timur.(ULF/Nina Waskito dan Gatot Setiawan)