5 Striker yang Terpaksa Jadi Pemain Sayap

Kekurangan pemain sayap yang tajam memaksa para pelatih menjajal formula baru

oleh Liputan6.comDiterbitkan 26 November 2017, 19:30 WIB
Penyerang Real Madrid, Cristiano Ronaldo berusaha melewati pemain Malaga, Luis Hernandez saat bertanding pada lanjutan La Liga Spanyol di stadion Santiago Bernabeu di Madrid, (25/11). Real Madrid menang 3-2 atas Malaga. (AP Photo / Francisco Seco)

Liputan6.com, Jakarta Seorang pemain sayap yang ditransformasikan menjadi striker untuk memaksimalkan potensi sudah biasa. Namun, bagaimana jika dibalik, striker yang dipaksa bermain sebagai sayap?

Publik sepak bola dunia mungkin sudah awam melihat sayap yang jadi striker. Lihatlah Cristiano Ronaldo yang sebelumnya jadi winger, berubah menjadi pemain bernomor 9.

Namun, belakangan kekurangan pemain sayap yang tajam memaksa para pelatih menjajal formula baru. Mereka menaruh seorang striker untuk bermain lebih melebar dan menjadi sayap.

Hasilnya? Lumayan berhasil, meski catatan golnya menurun drastis. Lima pemain di bawah ini bisa jadi contoh. Mereka seorang striker yang terpaksa jadi pemain sayap, berikut daftarnya dikutip Sportskeeda:


Mario Mandzukic

Mario Mandzukic mencetak satu gol untuk Juventus saat melawan Olympiakos pada laga grup D Liga Champions di Allianz stadium, Turin, (27/9/2017). Juventus menang 2-0. (Alessandro Di Marco/ANSA via AP)

Mandzukic merupaka striker yang memiliki kecenderungan mencetak gol penting. Fisik dan kemampuannya untuk membawa rekan satu tim ke dalam permainan membuatnya menjadi targetman sempurna untuk tim mana pun.

Kecuali buat Max Allegri. Di Juventus sekarang, Mandzukic harus bermain di sayap dan melindungi sisi kanan dari serangan. Kecenderungan Mandzukic untuk menekan para bek cukup berhasil.

Alasan lain adalah kehadiran Gonzalo Higuain dalam serangan. Untuk memaksimalkan Higuain, Allegri harus membuat Mandzukic jadi peran pengumpan ketimbang targetman.


Edinson Cavani

Pemain Paris Saint-Germain, Edinson Cavani melakukan tendangan ke gawang Celtic dalam lanjutan fase grup Liga Champions di Parc des Princes, Kamis (23/11). PSG menunjukkan keperkasaannya dengan melumat Celtic 7-1. (FRANCK FIFE / AFP)

Ingat kapan Edinson Cavani mengalami kesulitan mencetak gol? Nah, rasanya seperti lama sekali, terutama saat Zlatan Ibrahimovic berada di Paris-Saint Germain.

Zlatan adalah bintang dan pastinya akan jadi goal getter. Akibatnya, Cavani harus digeser ke sayap. Itu adalah keputusan yang agak aneh, tapi sangat bisa dimengerti.

Pada akhirnya, kinerja pemain asal Uruguay itu dan bukan lagi pecncetak gol. Namun, setelah kepergian Ibra, mantan bintang Palermo itu kembali dalam bentuk optimal.

Dia mencetak 49 gol dari 50 pertandingan musim lalu. Musim ini dia sudah kemas 21 gol dari hanya 18 pertandingan di semua kompetisi, tertinggi di antara semua pemain di 5 liga top Eropa.


Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic (kanan) jatuh saat berebut bola dengan pemain Brighton, Shane Duffy pada lanjutan Premier League di Old Trafford, Manchester,(25/11/2017). Manchester United menang tipis 1-0. (Martin Rickett/PA via AP)

Siapa sangka kalau Ibra pernah bermain di sayap? Namun, Pep Guardiola melakukan itu dan mantan striker Juventus tersebut tidak terlalu senang dengankeputusan sang bos.

Lanjut Baca:

Dia bahkan menulis keseluruhan bab dalam bukunya tentang apa yang dikatakan kepada Guardiola. Ibra terang-terangan menyerang mantan bosnya itu. Guardiola menimbulkan kemarahannya saat memilih Lionel Messi sebagai striker bernomor 9. Hal ini menyingkirkan Ibra ke sisi sayap, sesuatu yang tidak sesuai dengan pemain Manchester United saat ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya