Pelukis Difabel Asal Indonesia Akan Gelar Pameran di Australia

Faisal Rusdi, pelukis difabel asal Bandung harus menyelesaikan 19 lukisan untuk pameran tunggalnya.

oleh Teddy Tri Setio Berty diperbarui 26 Nov 2017, 07:36 WIB
Faisal Rusdi akhirnya mewujudkan cita-citanya untuk melakukan pameran tunggal (Cucu Saidah)

Liputan6.com, Adelaide - Dengan posisi tengkurap, badan yang dibungkus selimut demi menahan dinginnya cuaca kota Adelaide, Faisal harus menopang tubuhnya dengan kedua sikut.

Mulutnya menggoreskan warna-warna yang cerah di atas kanvas, dan sesekali ia harus menyepah kulit dari batang kuasnya yang terkelupas, karena terlalu lama digigit.

Musim dingin yang lalu, pada Juni 2017, Faisal Rusdi, pelukis difabel asal Bandung harus menyelesaikan 19 lukisan untuk pameran tunggalnya.

"Saya melukisnya hampir setiap hari dari pukul delapan pagi hingga menjelang malam, dengan hanya beristirahat untuk makan dan shalat," ujar Faisal saat dihubungi Erwin Renaldi. Demikian dilansir dari ABC Australia Indonesia, Minggu (26/11/2017).

Faisal mengaku hanya memiliki waktu kurang dari empat bulan untuk menggelar pameran tunggal pertama kali dalam hidupnya. Pameran itu akan diadakan di galeri yang berada di balai kota City of West Torrens -- tak jauh dari pusat kota Adelaide.

"Tawaran ini sangat berarti bagi saya, karena pada awalnya saya ke Adelaide, sempat diragukan dengan kondisi saya sebagai difabel," ujar Faisal.

Faisal lahir dengan kondisi celebral palsy, yang menyebabkan tangan dan kakinya tidak berfungsi. Ia sudah hampir dua tahun tinggal di Adelaide, menemani istirnya, Cucu Saidah, yang juga difabel. Sang istri diketahui sedang menempuh jenjang S2 bidang Kebijakan Publik di Flinders University.

"Waktu saya mengajukan visa, karena memiliki disabilitas, saya sempat disuruh membuat proposal apa yang akan dilakukan di Australia. Saya rasa hal itu terjadi karena pemerintah takut dan saya dianggap merepotkan negara," jelasnya.

Ternyata Faisal berhasil membuktikannya. Sejak 13 November lalu, 21 hasil karya yang mengambarkan pengalaman-pengalamannya sudah dipamerkan di West Torrens Auditorium Gallery dengan judul 'Colour of The Journey'.

Pameran yang hanya menampilkan hasil karyanya ini menjadi jawaban atas harapan dan cita-citanya sejak lama, yang bahkan belum pernah terwujud saat ia tinggal di Indonesia.

"Saya menggunakan teknik titik-titik dengan menggunakan bahan kanvas dan cat minyak," jelasnya.

Faisal mengaku untuk menggelar pameran tunggal di Australia adalah hal yang sebenarnya cukup sulit, karena galeri-galeri di Australia lebih mengutamakan seniman-seniman lokal.

"Saat kami pindah kontrakan, kami bertemu dengan pemilik rumah yang kebetulan juga pelukis. Saya langsung saja menanyakan bagaimana cara menggelar pameran tunggal," ujar Faisal.

Keberanian Faisal untuk mengungkapkan keinginannya, langsung disambut baik oleh sang pemilik rumah.

Kebetulan ia memiliki hubungan dengan pihak galeri di City of West Torrens, karena pernah beberapa kali menggelar pameran di sana.

"Pihak galeri kemudian menghubungi saya, permintaan saya disetujui, saya disediakan galeri untuk pameran tunggal, disedikan katalog, semua tanpa dipungut bayaran," terang Faisal.

Lukisan-lukisan Faisal yang dipamerkan pun dijual dengan kisaran harga 500 hingga 2.000 dolar Australia atau setara dengan Rp 5 juta hingga Rp 20 juta.

"Sampai saat ini sudah ada tujuh lukisan yang laku terjual. Lukisan yang sudah terjual masih dipajang, tapi diberi tanda sudah dibeli. Saya sempat terkejut juga," ungkapnya.

Tidak hanya menceritkan aktivitas yang ia pernah lakukan di Australia, seperti bermain bola dan menyelam, Faisal juga melukis beberapa gedung bersejarah dari Adelaide dan kota lainnya di Australia.

Di antaranya adalah gedung Opera House di Sydney, ada pula masjid Adelaide, yang menjadi masjid pertama dibangun di kawasan perkotaan Australia. Dan tak ketinggalan Katedral St Peter's di Adelaide, kota yang mendapat julukan seribu gereja.

Kegemaran Faisal melukis sudah muncul sejak kecil, saat ayahnya dulu berdagang alat-alat tulis di Bandung.

"Saat berusia 16 tahun saya meminta untuk ikut kursus melukis di sanggar milik almarhum pelukis ternama, Barli Sasmitawinata," ujar Faisal.

"Melukis bagi saya adalah tumpahan emosi dan imajinasi, dan saat melukis saya harus dalam keadaan bahagia dan positif," tambahnya.

Bagi Faisal, kebahagiaan itu justru ia temukan saat melakukan proses melukisnya sendiri.

Pameran tunggal Faisal akan digelar hingga 3 Desember mendatang, yang bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya