Liputan6.com, Jakarta - Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Namun, tetap saja, tiada manusia yang sempurna. Rasanya, siapa pun tak akan memungkiri hal ini. Semua manusia, setiap orang, pasti punya kekurangan yang membuatnya tak sempurna.
Meskipun demikian, adalah hal lumrah ketika kita berharap kesempurnaan dari seseorang. Kita tak henti menuntut kesempurnaan dari siapa saja. Entah itu pasangan hidup, anak, orang tua, atasan, bawahan, ataupun sahabat. Kita ingin mereka menjadi sosok seperti ideal yang ada di benak kita, sempurna sesuai keinginan kita.
Advertisement
Harapan akan kesempurnaan semakin menguat terhadap sosok-sosok yang dianggap hebat, luar biasa. Bukan hanya demi kepuasan kita, melainkan juga karena kita menganggap dia pantas memiliki hal itu.
Maka tak perlu heran ketika belakangan ini muncul harapan tinggi terhadap Manchester City untuk menjalani musim tanpa kekalahan. Man. City musim ini memang sungguh luar biasa. Permainan mereka oke, skuat mereka merata, nafsu membunuh mereka pun luar biasa. Mungkin hanya Paris Saint-Germain yang bisa menandingi mereka soal yang terakhir ini.
Lalu, jangan lupa, di belakang skuat Man. City saat ini ada Josep Guardiola. Dialah sang genius di dunia sepak bola. Dialah seseorang yang lahir sebagai pemenang dan penakluk dunia. Soal sepak bola, saat ini, tak ada yang setara dengan pria kelahiran Santpedor itu.
Ada pelatih-pelatih lain yang juga sukses, tapi tak punya filosofi sepak bola sebaik Pep. Ada di antara mereka yang meraih trofi dengan menghalalkan segala cara, termasuk memarkir bus tingkat di depan gawang.
Ada pula pelatih-pelatih yang punya filosofi sepak bola bagus, tapi tak sesukses Pep Guardiola. Mereka boleh jadi genius soal taktik dan strategi, juga punya filosofi tersendiri. Namun, ada di antara mereka yang menjadi medioker saat berada di klub lain.
Prestasi Pelengkap
Sejak mencuat sebagai pelatih Barcelona pada 2008-09, Guardiola telah meraih segalanya. Dari gelar domestik, regional, hingga internasional sudah pernah dia raih. Bahkan, pada musim pertamanya sebagai pelatih profesional, dia merengkuh treble winners.