Liputan6.com, Jakarta: TNI Angkatan Udara bisa dikatakan tengah berkabung. Betapa tidak, selain kehilangan empat penerbang tempur terbaik, juga kehilangan dua pesawat jet Hawk MK-53 dalam tabrakan di Madiun, Jawa Timur, Kamis silam. Terlebih lagi, dua pesawat latih tempur tersebut adalah unsur penting dalam sistem pertahanan udara Indonesia. Selain menjalankan fungsi pertahanan, pesawat ini juga dilibatkan dalam Tim Aerobatik Jupiter Blue bersama pesawat F-16 Fighting Falcon dan pesawat Hawk 100 [baca: Dua Pesawat Hawk MK-53 Bertabrakan].
Sejauh ini, keterangan sementara menyebutkan bahwa insiden tersebut adalah murni kecelakaan [baca: Tabrakan Dua Hawk MK-35 Murni Kecelakaan ]. Sedangkan Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) telah mengumpulkan data-data di lapangan. Setelah bertugas selama dua hari, dalam waktu dekat ini Tim PPKPT akan mengungkap penyebab kecelakaan tersebut [baca: TNI Membentuk Panitia Penyelidik Insiden Hawk MK-53].
Saat berdialog dengan Rosianna Silalahi di Studio Liputan 6 SCTV, Ahad (31/3) petang, Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional Marsekal Madya TNI Jacki Ambadar menyatakan bahwa yang berwenang mengungkapkan penyebab kecelakaan tersebut adalah PPKPT. Secara umum, Jacki menjelaskan, penyebab kecelakaan pesawat ada beberapa faktor. Misalnya, faktor human error dan kerusakan mesin. Namun, kecelakaan pesawat tempur biasanya tidak ada penyebab khusus dan semua faktor saling berkaitan. "Ibaratnya, langit itu sangat luas, maka semua faktor harus diperhitungkan," kata Jacki.
Lebih jauh Jacki menjelaskan, kecelakaan pesawat tempur sangat erat kaitannya dengan sejumlah faktor. Yakni, skill pilot yang kurang, psikis kurang mendukung, dan kesehatan jasmani yang terganggu. Kesemua faktor tersebut berkembang dan dapat memicu suatu kecelakaan.
Itulah sebabnya, sepengetahuan dia, seorang pilot tempur haruslah mempunyai jam terbang yang cukup. Selain itu, para penerbang pesawat tempur harus memiliki kontinuitas terbang dan sistem latihan yang mendukung. "Dan semua itu dilakukan dengan step by step dan melalui suatu seleksi serta psikotes yang ketat," ungkap Jacki.
Khusus terhadap penerbang pesawat tempur aerobatik semacam Jupiter Blue, diperlukan suatu persyaratan tersendiri. Menurut Jacki, selain skill, pilot tersebut harus mempunyai kemampuan nonteknis. Misalnya, karakter dan kematangan pribadi. Itulah sebabnya, psikotes sangat berperan dalam seleksi calon pilot tersebut. Apalagi saat bermanuver atau terbang dalam formasi tertentu, pilot tersebut harus memiliki kemampuan reflek dan memutuskan alternatif langkah. "Semua itu dilakukan tanpa komando udara dan lebih mengandalkan kemampuan penglihatan mata," ungkap Jacki.
Mengakhiri dialog, Jacki mengeluhkan perihal anggaran yang minim untuk melatih kemampuan pilot pesawat tempur. Sebagai perbandingan, setiap latihan pesawat tempur membutuhkan sekurangnya anggaran senilai US$ 5.000. Meski anggaran minim, TNI AU berupaya melakukan efisiensi. Di antaranya dengan melakukan latihan dengan simulator. Namun, simulator hanya berperan untuk menentukan formasi latihan. Sedangkan untuk melatih kemampuan terbang, tetap saja diperlukan jam terbang yang cukup.(ANS)
Sejauh ini, keterangan sementara menyebutkan bahwa insiden tersebut adalah murni kecelakaan [baca: Tabrakan Dua Hawk MK-35 Murni Kecelakaan ]. Sedangkan Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) telah mengumpulkan data-data di lapangan. Setelah bertugas selama dua hari, dalam waktu dekat ini Tim PPKPT akan mengungkap penyebab kecelakaan tersebut [baca: TNI Membentuk Panitia Penyelidik Insiden Hawk MK-53].
Saat berdialog dengan Rosianna Silalahi di Studio Liputan 6 SCTV, Ahad (31/3) petang, Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional Marsekal Madya TNI Jacki Ambadar menyatakan bahwa yang berwenang mengungkapkan penyebab kecelakaan tersebut adalah PPKPT. Secara umum, Jacki menjelaskan, penyebab kecelakaan pesawat ada beberapa faktor. Misalnya, faktor human error dan kerusakan mesin. Namun, kecelakaan pesawat tempur biasanya tidak ada penyebab khusus dan semua faktor saling berkaitan. "Ibaratnya, langit itu sangat luas, maka semua faktor harus diperhitungkan," kata Jacki.
Lebih jauh Jacki menjelaskan, kecelakaan pesawat tempur sangat erat kaitannya dengan sejumlah faktor. Yakni, skill pilot yang kurang, psikis kurang mendukung, dan kesehatan jasmani yang terganggu. Kesemua faktor tersebut berkembang dan dapat memicu suatu kecelakaan.
Itulah sebabnya, sepengetahuan dia, seorang pilot tempur haruslah mempunyai jam terbang yang cukup. Selain itu, para penerbang pesawat tempur harus memiliki kontinuitas terbang dan sistem latihan yang mendukung. "Dan semua itu dilakukan dengan step by step dan melalui suatu seleksi serta psikotes yang ketat," ungkap Jacki.
Khusus terhadap penerbang pesawat tempur aerobatik semacam Jupiter Blue, diperlukan suatu persyaratan tersendiri. Menurut Jacki, selain skill, pilot tersebut harus mempunyai kemampuan nonteknis. Misalnya, karakter dan kematangan pribadi. Itulah sebabnya, psikotes sangat berperan dalam seleksi calon pilot tersebut. Apalagi saat bermanuver atau terbang dalam formasi tertentu, pilot tersebut harus memiliki kemampuan reflek dan memutuskan alternatif langkah. "Semua itu dilakukan tanpa komando udara dan lebih mengandalkan kemampuan penglihatan mata," ungkap Jacki.
Mengakhiri dialog, Jacki mengeluhkan perihal anggaran yang minim untuk melatih kemampuan pilot pesawat tempur. Sebagai perbandingan, setiap latihan pesawat tempur membutuhkan sekurangnya anggaran senilai US$ 5.000. Meski anggaran minim, TNI AU berupaya melakukan efisiensi. Di antaranya dengan melakukan latihan dengan simulator. Namun, simulator hanya berperan untuk menentukan formasi latihan. Sedangkan untuk melatih kemampuan terbang, tetap saja diperlukan jam terbang yang cukup.(ANS)