Saham Teknologi Jadi Pendorong Bursa Asia

Laba dari Alphabet yang merupakan induk usaha Google, Microsoft dan Amazon.com menguat menjadi katalis penguatan bursa saham.

oleh Arthur Gideon diperbarui 27 Okt 2017, 08:45 WIB
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak menguat pada awal perdagangan Jumat ini karena didorong oleh saham-saham sektor teknologi. Sementara nilai tukar euro terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan mendekati level terendah dalam tiga bulan.

Mengutip Reuters, Jumat (27/10/2017), indeks NIkkei Jepang naik 0,6 persen sementara Kospi Korea Selatan naik 0,2 persen. Untuk indeks saham Australia, yaitu S&P/ASX 200 naik 0,2 persen.

Laba dari Alphabet yang merupakan induk usaha Google, Microsoft, dan Amazon.com menguat menjadi katalis penguatan saham-saham di AS. Saham di perusahaan tersebut naik 2,8 persen, 4,5 persen, dan 7,6 persen. Hal tersebut juga berdampak ke Asia.

Selain itu, membaiknya kondisi ekonomi AS dan juga langkah pemerintah untuk mendorong pemotongan pajak mendapat dukungan dari anggota dewan menjadi pendorong membaiknya bursa.

"Pertumbuhan saham menguat kemarin di AS dan Eropa dan sekarang Partai Republik dapat melewati reformasi pajak. Pembahasan pemotongan pajak tampaknya akan dimulai minggu depan," kata Kepala Strategi Mizuho Securities Nobuhiko Kuramochi.

Di AS, Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 71,61 poin atau 0,31 persen menjadi 23.401,07. Indeks S&P 500 menguat 3,26 poin atau 0,13 persen menjadi 2.560,41, sedangkan Nasdaq Composite turun 7,16 poin atau 0,11 persen menjadi 6.556,77.

Saham Twitter melonjak 18,5 persen setelah perusahaan mengatakan dapat mengubah keuntungan pertamanya di kuartal keempat, dibantu oleh pemotongan biaya dan sumber pendapatan baru.

"Musim pengumuman laporan keuangan ini terlihat bagus. Meskipun hasilnya sebenarnya cukup bervariasi," kata kepala investasi Solaris Asset Management, New York, AS, Tim Ghriskey.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya