Liputan6.com, Tegal - Film Turah karya sineas muda Wicaksono Wisnu Legowo yang dikirim menjadi perwakilan Indonesia ke Oscar 2018, terbilang memiliki latar yang tak biasa. Film ini mengambil latar sebuah kampung nelayan di pesisir Utara Kota Tegal, Jawa Tengah.
Menurut sang sutradara, alasanya pun cukup unik dan simpel karena Wisnu—panggilan sang sutradara—merupakan pemuda asli Kota Tegal yang ingin mengangkat kisah dan cerita masyarakat kampung halamannya, khususnya Kampung Tirang.
Advertisement
"Dan kebetulan saya lahir di Tegal, kampung Tirang ada di Tegal, saya kenal beberapa kru juga pemain yang baik dan mereka orang Tegal. Ya sudah, saya enggak punya alasan untuk enggak bikin film Turah di Tegal," ungkap Wisnu kepada Liputan6.com, Kamis(21/9/2017)
Di sisi lain, jika dilihat dari jajaran pemain dan ide cerita, bisa dibilang film Turah adalah sebuah proyek ideologis. Alhasil, pendanaannya mungkin tak semudah bila membuat film yang benar-benar dibuat untuk tujuan komersil. Berapa sebenarnya besaran bujet yang disiapkan untuk pembuatan film Turah?
"Wah, kalo bujet bisa langsung tanyakan ke produsernya saja. Saya tidak tahu persisnya. Ya mungkin sekitar ratusan juta rupiah," kata dia.
Sinopsis Film Turah
Dalam film Turah, Wisnu menjelaskan fakta soal kesenjangan sosial di pelosok Indonesia dengan rapi dan apik.
Film ini mengangkat kehidupan warga di Kampung Tirang, sebuah kampung yang berdiri di tanah timbul pesisir pantai Kota Tegal, yang miskin dan tertinggal. Meski jaraknya cukup dekat dengan pusat Kota Tegal, kampung ini bisa dibilang tak tersentuh listrik. Bahkan, warga kerap sekali kesulitan air bersih. Ironi itu digambarkan Wisnu lewat rumah reot, pakaian lusuh, dan lingkungan yang kumuh, memperjelas kesenjangan di kampung tersebut.
Akibat kesenjangan itu, konflik sosial pun terjadi. Jadag (Slamet Ambari), seorang pria yang dikenal sebagai pemabuk, melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dia tak terima tanah kelahirannya diklaim oleh seorang juragan bernama Darso (Yon Daryono).