Dapat Sanksi Lagi dari PBB, Korea Utara Kian Terjepit?

Diberlakukannya sanksi ini dapat memangkas ekspor Korea Utara hingga 90 persen.

oleh Vina A Muliana diperbarui 12 Sep 2017, 17:00 WIB
Korea Utara memperingati hari jadinya ke-69 pada Sabtu 9 September 2017 (AP)

Liputan6.com, Jakarta - Serangkaian uji misil dan nuklir yang dilakukan Korea Utara (Korut) kembali memicu sanksi internasional. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) baru saja menyetujui sanksi baru untuk menghukum negara arahan Kim Jong Un ini.

Dilansir dari Bloomberg, Selasa (12/9/2017), sanksi ekonomi yang diberlakukan mencakup pemangkasan impor produk minyak yang dimurnikan menjadi 2 juta barel per tahun. Selain itu, resolusi tersebut juga menetapkan larangan ekspor tekstil.

Sebanyak 15 anggota DK PBB menyetujui resolusi tersebut yang dirundingkan pada Senin, 11 September 2017. Sanksi ini pertama kali diusulkan oleh Amerika Serikat yang kemudian mendapat persetujuan dari China dan Rusia.

"Tindakan ini merespons perkembangan terbaru yang berbahaya. Ini adalah pengukuran terkuat yang pernah dijatuhkan bagi Korea Utara," kata Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley.

Lebih lanjut Haley menyatakan, jika diperlukan, AS tetap bersedia untuk bertindak sendirian dalam menghentikan program nuklir yang dilancarkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Diberlakukannya sanksi ini dapat memangkas ekspor Korut sebesar 90 persen. Adapun larangan ekspor tekstil Korut akan menyebabkan negara tersebut rugi sebesar US$ 726 juta per tahun.

Di tengah ancaman sanksi yang lebih keras, atmosfer di Korut masih diliputi kebanggaan akan keberhasilan uji coba nuklir terakhir. Tepat di hari jadi Korut ke-69, digelar sebuah perjamuan mewah untuk menandai kesuksesan para ilmuwan nuklir Korut.

Warga Korea Utara dilaporkan tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman sanksi lebih lanjut yang dilontarkan AS.

"Kami tahu AS mungkin akan menjatuhkan lebih banyak sanksi tapi tanggapan kami sebagai warga Korut adalah kami akan terus menembakkan lebih banyak rudal dan melakukan lebih banyak uji coba bom hidrogen," ujar seorang warga bernama Han Myong-sim kepada CNN.

Seorang warga lainnya bernama Ri Jong-ok mengatakan, "Kami tidak terlalu khawatir. Selama kami memiliki Kim Jong-un, kami akan bertahan."

Simak video pilihan di bawah ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya