3 Langkah Penting Cegah Bunuh Diri ala Warga Gunungkidul

Tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul diakui oleh Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Internasional.

oleh Yanuar H diperbarui 11 Sep 2017, 16:32 WIB
Ilustrasi Foto Bunuh Diri (iStockphoto)

Liputan6.com, Gunungkidul - Tahun ini, angka bunuh diri di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih tinggi. Hal itu membuat Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji) memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Minggu, 10 September 2017.

Yayasan yang terbentuk dari perkumpulan swadaya masyarakat di Gunungkidul itu, fokus terhadap upaya promotif dan preventif peningkatan kesehatan jiwa masyarakat untuk mencegah insiden bunuh diri.

Ketua Yayasan Imaji, Joko Yanu Widiasta, mengatakan, warga diajak untuk saling peduli terhadap sesama, karena bunuh diri sebagai peristiwa kemanusiaan yang terkait dengan kondisi kesehatan jiwa masyarakat.

Data Imaji menyebutkan, sejak 2001-2016, tercatat 458 kejadian bunuh diri, termasuk percobaan bunuh diri, terjadi di Gunungkidul. Rata-rata terjadi 28-29 warga yang bunuh diri pada setiap tahunnya.

"Angka-angka tersebut bukan sekadar data statistik, tetapi sesungguhnya merupakan fakta riil tragedi kemanusiaan yang masih terjadi di lingkungan terdekat kita," kata Joko, Minggu, 10 September 2017.

Joko mengatakan, peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tahun 2017 yang ditetapkan oleh IASP (International Association for Suicide Prevention) mengangkat tema, "Luangkan Satu Menit untuk Ubah Kehidupan".

"Tujuannya agar menjadi pengingat untuk menyatukan pandangan dan bergerak melangkah melakukan penanggulangan," ujarnya menambahkan.

Berdasarkan data yang dikantongi Imaji, kebanyakan pelaku bunuh diri bermula dari depresi. Depresi diyakini menjadi faktor pemicu paling banyak seseorang untuk bunuh diri. Untuk itu, upaya preventif penting untuk dilakukan. Joko menyebut, upaya itu bisa dilakukan lewat pendidikan yang berisi pencegahan bunuh diri ke semua pihak mulai dari masyarakat hingga lembaga pendidikan pemerintah.

"Semua pihak punya kapasitas masing-masing. Sudah saatnya, kita sangkul-sinangkul ing bot-repot (bahu-membahu) mengambil bagian dalam upaya penanggulangan dan pencegahan bunuh diri," bebernya.

Ia meminta agar semua pihak bergerak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, satuan vertikal pemerintah pusat, ormas, karang taruna, organisasi keagamaan, BLU RSUD Wonosari, UPTD Puskesmas, dan RS/klinik swasta untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat. Caranya dengan memahami peristiwa bunuh diri sebagai isu permasalahan kesehatan jiwa masyarakat dalam cara pandang/kebijakan organisasi.

"Mari menjadi lembaga melawan stigma (pandangan dan cap buruk) masalah bunuh diri dan kesehatan jiwa, dan mari tingkatkan penjangkauan dan kapasitas layanan kesehatan jiwa sampai dengan tingkat UPTD Puskesmas, RS/Klinik/BP Swasta di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul," tuturnya.

Masyarakat juga harus mengambil alih kondisi ini terutama tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pendidik, dan media-massa.

"Mari bergerak menolong sesama dengan cara, LIHAT (peduli situasi lingkungan terdekat), DENGAR (peduli mendengarkan dan berempati terhadap masalah yang dihadapi), dan SAMBUNGKAN (menyambungkan kepada unit layanan kesehatan terdekat, layanan sosial/keagamaan terdekat, dan layanan bantuan kemanusiaan lainnya yang ada)," tandasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Gunungkidul, Iptu Ngadino membenarkan tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul. Sampai saat ini, pihaknya mencatat ada sekitar 27 kasus bunuh diri di Gunungkidul. Ditambah dua kasus percobaan bunuh diri juga tercatat.

"Total 29 kasus bunuh diri, yang berhasil ada 27 orang, dan percobaan ada dua kasus. Terakhir hari Minggu (kemarin) di Kecamatan Panggang," katanya.

Sakiskan video pilihan berikut ini!

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya