Bursa Asia Tertekan Imbas Uji Coba Bom Korea Utara

Investor mengalihkan aset investasi lebih aman seiring uji coba bom Korea Utara sukses memberi tekanan ke bursa Asia.

oleh Agustina Melani diperbarui 04 Sep 2017, 08:45 WIB
Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia tertekan pada perdagangan saham Senin pekan ini. Seiring pelaku pasar mengalihkan aset investasi lebih aman usai Korea Utara melancarkan uji coba bom pada akhir pekan lalu. Faktor itu juga mendorong, harga emas, yen dan imbal hasil surat berharga menguat.

Penurunan bursa saham terbesar dialami bursa saham Korea Selatan. Sementara itu, bursa saham Jepang dan Australia juga tertekan. Indeks saham Jepang Topix turun 0,4 persen. Indeks saham Korea Selatan melemah 1,1 persen. Sedangkan indeks saham Australia tergelincir 0,3 persen.

Indeks saham acuan regional yaitu indeks saham MSCI Asia Pasific merosot 0,2 persen. Demikian mengutip laman Bloomberg, Senin (4/8/2017).

Di pasar uang, yen dan swiss franc catatkan penguatan terbesar di antara mata uang utama lainnya usai Korea Utara menyatakan sukses melakukan uji coba bom.

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

Selanjutnya

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin meningkatkan saksi ekonomi terhadap rezim Kim Jong Un. Amerika Serikat pun punya banyak pilihan termasuk memakai cara militer.

Uji coba nuklir Korea Utara yang pertama sejak Trump menjabat merupakan tantangan baru bagi pasar. Sebelumnya pasar keuangan dapat bertahan di tengah ketegangan baru-baru ini Semenanjung Korea. Aksi jual sempat terjadi usai Korea Utara meluncurkan rudal di atas wilayah Jepang.

"Dalam skema besar cukup banyak reaksi. Ini perkembangan baru dalam situasi lama yang sudah membuat pasar bergejolak selama beberapa waktu," ujar Analis UBS AG Joakim Tiberg.

Sentimen lainnya pengaruhi pasar yaitu rilis data tenaga kerja sektor nonpertanian Amerika Serikat naik menjadi 156 ribu dari perkiraan ekonomi 180 ribu pada Agustus 2017. Bursa saham AS pun menguat seiring investor juga menanti data ekonomi aktivitas pabrik AS.

"Tampaknya memberi kesan ada kepercayaan, mungkin itu harapan. Untuk jangka panjang positif. Saya tidak pernah percaya akan bereaksi berlebihan terhadap berita apapun," kata Mellody Hobson, Presiden Direktur Ariel Investments.

Di pasar komoditas, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sedikit berubah di kisaran US$ 47,29 per barel. Harga emas naik 0,9 persen menjadi US$ 1.336,45 per ounce.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya