Raup Rp 100 Juta dari Camilan Rumput Laut dan Susu Kuda Liar

Namanya UKM Sasak Maiq. Mulai fokus berjalan pada 2012, dan kini terkenal sebagai pemasok oleh-oleh khas NTB.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 03 Sep 2017, 12:00 WIB
Namanya UKM Sasak Maiq. Mulai fokus berjalan pada 2012, dan kini terkenal sebagai pemasok oleh-oleh khas NTB. (Liputan6.com/Fiki Ariyanti)

Liputan6.com, Jakarta Di Perumahan Griya Asri, Desa Senteluk Batu Layar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) berdiri pusat pengolahan camilan dari bahan dasar rumput laut dan penjualan susu kuda liar, khas Sumbawa. Usaha ini dijalani pasangan Baiq Siti Suriani dan suaminya dengan omset Rp 100 juta per bulan.

Namanya UKM Sasak Maiq. Mulai fokus berjalan pada 2012, dan kini terkenal sebagai pemasok oleh-oleh khas NTB. Semua panganan yang diolah Baiq serba dari rumput laut, bahan baku yang banyak dijumpai di daerah tersebut.

"Tadinya cuma buka warung kecil 1995, tapi mulai beralih membuat camilan dari rumput laut pada 2012. Rumput laut kan banyak sekali di NTB, dan manfaatnya untuk kecantikan dan melancarkan pencernaan," ujar Baiq saat berbincang dengan Liputan6.com di Lombok, seperti ditulis Minggu (3/9/2017).    

Kala itu, Wanita berhijab ini mengungkapkan, hanya bermodal Rp 500 ribu. Namun untuk memperbesar usahanya, Baiq meminjam uang sebagai modal kerja ke Bank Mandiri sebesar Rp 10 juta.

Tak disangka, bisnisnya semakin berkembang hingga pinjaman pun naik kelas menjadi Rp 20 juta, Rp 50 juta, Rp 75 juta, Rp 100 juta, dan sampai sekarang Rp 200 juta.  "Terakhir dapat Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp 200 juta dengan bunga Rp 6 persen per tahun," jelas Baiq.

Dengan modal tersebut, lebih jauh kata Baiq, telah mampu memproduksi berbagai camilan rumput laut, di antaranya stik rumput laut, tortila rumput laut, kopi rumput laut, terasi rumput laut, dan sebagainya.

Produksi


Dia menceritakan sedikit proses membuat produk unggulan UKM Sasak Baiq, tortila dan stik rumput laut yang harus melalui 2 kali perendaman. Pertama direndam dengan kapur sirih maksimal selama 2 hari untuk menghilangkan bau amisnya. Setelah berubah warna menjadi putih, lalu dijemur sampai kering. Lalu direndam lagi pakai air beras.  

Rumput laut yang sudah bersih itu kemudian diolah dengan campuran bumbu-bumbu, seperti cabai, tepung, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya.

"Dalam sehari, bisa produksi 500-1.000 bungkus stik dan tortila rumput laut. Kebutuhan rumput lautnya sebanyak 50 kilogram (kg). Itu dikerjakan dengan 11 orang tenaga kerja," Baiq menerangkan.

Ia menyebut, harga jual stik rumput laut sangat bervariasi dari kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Baiq menjualnya ke pusat toko oleh-oleh di Lombok, supermarket, dan pemasaran pun mulai merambah ke online.

"Saya ambil marjin keuntungan 20 persen. Sedangkan omset per bulan Rp 100 juta," ucap Perempuan berusia 48 tahun itu.

Baiq mengaku, produk olahan rumput lautnya masih dijual di dalam negeri, belum merambah ekspor. Akan tetapi, katanya, saat pameran di luar negeri, seperti Singapura, Eropa, Amerika Serikat (AS), Mozambik, Afrika, antusias orang-orang luar negeri terhadap produk ini sangat tinggi.

"Kami belum berani ekspor karena kemasannya masih kurang bagus dan barang rentan hancur. Targetnya maksimal 2 tahun dari sekarang, nanti packaging-nya kayak camilan kentang. Tapi alatnya mahal Rp 150 juta per unit," tuturnya.

Selain camilan rumput laut, di toko Baiq juga menjual minuman susu kuda liar asli Sumbawa. Produk tersebut dipasok dari perguruan tinggi setempat yang bekerja sama dengan para peternak kuda di Sumbawa.

"Kami ambil dari mereka jual minuman susu kuda liar. Belum ada label tapi sudah diuji di laboratorium, aman dan halal dikonsumsi," ucap Baiq.

Susu kuda liar yang kaya khasiat meningkatkan stamina pria dan wanita ini, diakui Baiq, dijual seharga Rp 25 ribu per 150 mili liter (ml). "Permintaannya cukup banyak. Penjualannya bisa 10 liter per minggu," tukas Baiq.

Tonton video menarik berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya