5 Liga Eropa dengan Peringkat Terbaik Satu Dekade Terakhir

Setelah dominasi Inter Milan, Serie A Italia berjuang menata kembali jati dirinya di liga Eropa.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 30 Agustus 2017, 21:10 WIB
Striker Real Madrid, Cristiano Ronaldo, saat pertandingan melawan Juventus pada laga final Liga Champions di Stadion Millennium, Cardiff, Wales, Sabtu, (3/6/2017). Real Madrid menang 4-1. (AP/Kirsty Wigglesworth)

Liputan6.com, Jakarta Setiap musimnya, liga-liga Eropa selalu menjadi hiburan tersendiri untuk pencinta sepak bola dunia. Namun, yang patut diperbincangkan adalah peringkat liga terbaik yang ada di benua Biru tersebut.

Peringkat menjadi penting. Sebab, hal itu bisa menjadi pengukur koefisien di Liga Champions, daya saing, hingga siaran televisi. Kian bagus peringkatnya, makin mahal juga harga komersialnya.

Sebenarnya UEFA punya data tersendiri soal ini. Namun, andai dilihat dari faktanya, banyak liga-liga yang sebenarnya menurun secara kualitas.

Lantas liga-liga Eropa mana saja yang punya peringkat terbaik dalam satu dekade terakhir? Berikut daftarnya dikutip Sportskeeda:


Ligue 1

Para pemain PSG memberikan aplaus kepada penonton usai pertandingan melawan Toulouse pada laga Liga 1 Prancis, di Stadion Parc des Princes, Senin (21/8/2017). PSG menang 6-2 atas Toulouse. (AFP/Thomas Samson)

Ligue 1 mungkin merupakan salah satu liga paling kompetitif di Eropa. Namun ketika uang Qatar datang di Paris Saint-Germain, semuanya berllau begitu saja.

Sejak itu, PSG sangat dominan. Bahkan, mereka langsung rebut tiga gelar liga dengan rata-rata 10 poin unggul.

Musim 2015-16 mungkin paling mencolok. Sebab PSG sampai unggul 31 poin dari Lyon di urutan kedua. Munculnya AS Monaco musim lalu juga bertepatan dengan jatuhnya PSG setelah Unai Emery mengambil alih.

Ligue 1 juga tidak memiliki banyak hal lain yang terjadi untuk. Pada Liga Champions, mereka cuma punya harapan yang sekilas saja yang entah dilenyapkan oleh Barcelona atau Juventus.

Dengan Neymar (dan mungkin Kylian Mbappe) bergabung dengan PSG, perburuan gelar secara efektif berakhir lantaran Monaco juga kehilangan bakat terbaik. Mereka akan bersaing, tapi sulit untuk melihat PSG sebagai kembali gagal.

Berikut daftar juara Ligue 1 dalam dekade terakhir sebelum dan sesudah uang Qatar masuk:

2007/08 sampai 2011/12: Lyon, Bordeaux, Marseille, Lille, Montpellier
2012/13 sampai 2016/17: PSG, PSG, PSG, PSG, Monaco.


Bundesliga

Striker Bayern Munchen, Roberto Lewandowski melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Werder Bremen, pada laga lanjutan Bundesliga 2017-2018, di Stadion Weser, Sabtu (26/8/2017) malam WIB. (AFP/Patrik Stollarz)

Sama seperti di Prancis, sulit untuk melihat melewati satu tim untuk mengangkat gelar liga di Jerman. Sejak 2007/08, Bayern Muenchen telah memenangkan gelar Bundesliga tujuh kali dan finis setidaknya di posisi tiga besar.

Dominasinya sempat luntur saat Borussia Dortmund bersama Jurgen Klopp meraih dua gelar liga berturut-turut di 2010/11 dan 2011/12. Tapi revolusi itu berumur pendek saat Bayern bergabung kembali dan membangun era dominasi sendiri.

Sebelum 2015, tidak ada tim yang memenangkan lebih dari tiga gelar dalam sejarah Bundesliga. Bayern kini sudah memenangi gelar liga lima kali berturut-turut dengan melemahkan rival-rivalnya.

Namun, satu hal yang telah dilakukan Bundesliga adalah kehadiran rata-rata pertandingan yang merupakan yang tertinggi di antara lima besar. Mereka adalah liga yang secara teratur memiliki rata-rata kehadiran lebih dari 40.000 penonton lantaran tiket yang lebih murah.

Lanjut Baca:

Setelah dominasi Inter Milan, Serie A Italia berjuang menata kembali jati dirinya di Eropa. Kelas berat seperti AC Milan dan Inter gagal merebut kembali keberhasilan masa lalu, sementara Juventus adalah raksasa yang sedang tidur.Namun, begitu si Nyonya Tua berhasil kembali ke masa lalu, dan tidak pernah berhenti. Klub yang berbasis di Turin  itu membangun stadion sendiri dan tidak lagi terbelenggu dengan Stadio delle Alpi yang lama.Juventus kini telah memenangkan enam gelar Serie A. Bersama Massimiliano Allegri sebagai pengganti Antonio Conte, mereka juga telah mencapai dua final Liga Champions.Namun, jatuhnya klub-klub yang berbasis di Milan itu membuat Serie A kehilangan kemilau dan kemewahannya. San Siro, yang pernah menjadi Colosseum di Liga Champions tak lagi bergaung di Eropa.AS Roma dan Napoli sejak juga cuma jadi penggembira dan acap kesulitan pada kualifikasi Liga Champions. Beberapa tahun yang lalu Serie A mungkin lebih rendah dari daftar ini. Tapi liga tidak lagi defensif, bahkan cenderung ofensif, tak seperti yang dikenal dahulu. Bahkan, musim 2016/17 ada 1.123 gol tercipta, yang tertinggi ketiga dalam sejarah. Belakangan waktu telah berubah di Italia, dan popularitas liga kembali meningkat, siap mencapai ketinggian tahun 90-an dan 2000an.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya