PM Najib Membantah Terlibat dalam Penyerangan Mahathir Mohamad

Pihak PM Najib membantah bahwa UMNO berada di balik aksi penyerangan terhadap Mahathir Mohamad.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 16 Agu 2017, 13:03 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad (AP Photo/Daniel Chan)

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Sekretaris Pers Perdana Menteri Malaysia Najib Razak membantah bahwa partai yang berkuasa, UMNO, mendalangi serangan terhadap Mahathir Mohamad pada Minggu 13 Agustus 2017.

Pada hari itu, Mahathir didaulat menjadi pembicara dalam forum "Nothing to Hide 2.0" yang diselenggarakan di Shah Alam untuk menyoroti skandal keuangan yang melibatkan Najib.

"Tuduhan liar yang menyalahkan Najib dan UMNO atas kekerasan dalam forum 'Nothing to Hide 2.0' pada hari Minggu 'salah, sembrono, dan tidak pantas'," ujar Tengku Sariffuddin, Sekretaris Pers Najib seperti dikutip dari Channel News Asia pada Rabu (16/8/2017).

Sariffuddin menekankan bahwa forum tersebut diselenggarakan dan dikelola oleh oposisi, yakni Parti Pribumi Bersatu Malaysia serta dihadiri pula oleh para pemimpin dan pendukungnya.

"Bersatu sepenuhnya bertanggung jawab atas acara tersebut, jadi menyalahkan kekacauan atas UMNO adalah upaya oposisi untuk menutupi aksi memalukan anggotanya sendiri," ungkap Sariffuddin.

Ketika forum "Nothing to Hide 2.0" telah berlangsung sekitar 90 menit, sejumlah orang membuat onar. Mereka melempar sepatu, kursi, dan botol ke arah Mahathir. Sedikitnya dua orang dilaporkan terluka dalam peristiwa itu. Sementara, Mahathir berhasil dievakuasi tanpa mengalami cedera.

Oposisi menuding, UMNO berada di balik serangan tersebut. Wakil Presiden Parti Keadilan Rakyat Azmin Ali menyebutkan, PM Najib menggunakan premanisme untuk membungkam Mahathir.

Namun, Sariffuddin berpendapat bahwa kekerasan pecah setelah pendukung oposisi kecewa dengan ketidakmampuan Mahathir menjawab pertanyaan atas sejumlah skandal yang terjadi semasa ia memerintah.

"Dari 'Nothing to Hide 2.0' menjadi 'Everything to Hide'," kata pria itu.

Mahathir sendiri belum lama ini memilih bergabung dengan musuh lamanya Anwar Ibrahim. Mereka membentuk koalisi Pakatan Harapan.

"Jika Pakatan tidak bisa mengatur penyelenggaraan forum tanpa kekacauan, kita hanya bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap Malaysia," sebut Sariffuddin.

Sariffuddin menegaskan kembali dalam pernyataannya bahwa pihak berwenang akan menyelidiki kejadian tersebut dan "mengambil tindakan yang diperlukan".

Sementara itu, "Pemerintahan di bawah pimpinan perdana menteri ini akan terus fokus pada kesejahteraan ekonomi, kesejahteraan sosial dan keamanan semua orang Malaysia", tambahnya.

 

Saksikan video menarik berikut:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya