44 Perguruan Tinggi Jabar Sepakat Tolak Ormas Radikal

44 perguruan tinggi menyatakan radikalisme perlu dicegah agar tidak mengganggu perjalanan bangsa.

oleh Liputan6.com diperbarui 14 Jul 2017, 20:45 WIB
44 perguruan tinggi di Jabar tolak ormas radikal masuk kampus

Liputan6.com, Bandung - Sebanyak 44 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Barat deklarasi antiradikalisme di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jumat.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto, 44 perguruan tinggi menyatakan radikalisme perlu dicegah agar tidak merusak keberagaman dan kerukunan dalam berbangsa.

"Kami berkomitmen mengambil peran aktif untuk mencegah radikalisme, agar tidak komponen kampus yang memaksakan kehendak apalagi melakukan tindakan radikal," ujar Herry Suhardiyanto, (14/7/2017).

Dia mengatakan perguruan tinggi melakukan tugas untuk mendidik mahasiswa, melakukan inovasi dan pengabdian pada masyarakat.

Beberapa poin lain dalam deklarasi tersebut yakni sepakat untuk berpegang teguh pada Pancasila, UUD 1945 dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Kemudian, bertekad mempersiapkan dan membentuk generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat, demokratis, jujur dan berkeadilan dengan menjunjung tinggi nilai keagamaan, etika akademik, kemajemukan, dan kesatuan bangsa.

Juga menolak organisasi dan aktivitas yang berorientasi dan atau berafiliasi dengan gerakan radikalisme, terorisme dan organisasi kemasyarakatan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Kami juga mengajak seluruh komponen bangsa untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran faham atau gerakan radikalisme, terorisme atau ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945." kata Herry seperti dilansir dari Antara.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir yang hadir dalam acara itu setiap rektor  bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di kampusnya.

"Rektor yang bertanggung jawab menjaga empat pilar kebangsaan. Kalau sampai terjadi radikalisme, maka yang langsung ditanyakan adalah rektornya," kata Nasir.

Nasir menjelaskan setiap kampus memiliki potensi karena kumpulan dari anak muda dan juga masyarakat ilmiah. "Oleh karena itu, jangan sampai kampus menjadi pusat radikalisme," Nasir menandaskan.

 

Saksikan video di bawah ini:

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya