Menlu Uni Emirat Arab: Qatar Tak Dapat Dipercaya...

Menlu UEA Anwar Gargash sebut Qatar tidak dapat dipercaya dan Barat perlu mengawasi negara tersebut demi menghentikan pendanaan terorisme.

oleh Rizki Akbar Hasan diperbarui 18 Jun 2017, 15:04 WIB
Sejumlah negara yang dipimpin oleh Arab Saudi mengambil langkah terkoordinasi, memutuskan hubungan dengan Qatar (AP Photo/Kamran Jebreili, File)

Liputan6.com, Abu Dhabi - Di tengah memuncaknya dugaan keterkaitan Qatar dengan kelompok teroris--yang juga menjadi salah satu faktor pengucilannya dalam krisis Timur Tengah dan Teluk--Uni Emirat Arab menambah keruh keadaan.

Negara dengan ibu kota Abu Dhabi itu menyebut bahwa Qatar tidak dapat dipercaya serta perlu diawasi agar sepenuhnya berhenti mendanai organisasi teroris.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash saat kunjungan kenegaraan ke London demi mencari dukungan diplomasi dalam embargo Qatar.

Uniknya, pernyataan Menlu Gargash menjadi opini yang pertama kali disampaikan oleh pejabat pemerintah dari sembilan negara yang telah melakukan pengucilan terhadap Qatar. Ke-9 negara itu antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Libya, Yaman, Maladewa, Mauritius, dan Mauritania.

"Ini tentang perubahan sikap. Jika kami mendapat sinyal yang jelas bahwa Qatar akan berubah dan berhenti mendanai militan ekstremisme, kami dapat memulai diskusi. Namun kita juga membutuhkan mekanisme pengawasan," kata Menlu Gargash seperti yang dikutip dari The Guardian, Minggu (18/6/2017).

Sang Menlu menegaskan bahwa UEA dan delapan negara lain yang mengucilkan Qatar tidak mempercayai negara yang dipimpin oleh Emir Tamim bin Hamad al-Thani itu. Ia juga mengusulkan agar negara Barat turut melakukan pengawasan.

"Kami tidak mempercayai mereka. Sangat tidak mempercayai mereka. Maka kita membutuhkan pengawasan dari teman-teman Barat untuk peran tersebut," ujar Gargash.

Pengawasan ditujukan untuk memastikan agar Qatar tidak lagi mendanai, menampung, atau mendukung kelompok terorisme yang berbasis ekstremisme agama. Hingga kini, Doha membantah dugaan tersebut dan menyebutnya sebagai merupakan tuduhan tak mendasar.

Sejumlah negara, seperti Prancis, Inggris, Kuwait, dan Turki telah mencoba untuk menjadi mediator. Namun, koalisi sembilan negara anti-Qatar tidak memberikan tuntutan detail. Namun, muncul dugaan bahwa ke-9 negara tersebut--yang merasa turut didukung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump--menginginkan perubahan rezim di Qatar.

"Hingga kini belum ada tawaran spesifik," ujar Gargash.

Namun, muncul dugaan lain yang menjelaskan bahwa UAE Cs tidak mendapatkan dukungan diplomasi negara Barat seperti yang mereka harapkan. Karena, sejumlah negara Barat hingga kini kerap meminta agar deeskalasi tensi segera dilakukan di kawasan Timur Tengah dan Teluk.

Bahkan, di tengah krisis diplomatik, Qatar menandatangani jual-beli jet tempur F-15 produksi AS senilai US$ 12 miliar. Meski begitu, Mennlu Gargash yakin bahwa AS tetap akan bertindak tegas dalam isu Qatar, terlepas proyek jual beli senjata yang telah dilakukan antara kedua negara.

"Di level tinggi di Washington, mereka telah memantau apa yang terjadi. Kami juga yakin bahwa Presiden Trump telah menyatakan pandangannya terhadap Qatar di balik pintu," tambahnya.

"Patut diingat bahwa ini bukan isu main-main, atau sekedar masalah keluarga di kalangan monarki, atau mencoba untuk melemahkan Qatar di kancah internasional. Ini tentang narasi melawan ekstremisme demi memberantas terorisme. Tahun 2014 kami telah mencoba diplomasi dengan emir Qatar, tapi gagal. Sekarang adalah saatnya bertindak tegas. Kami bahkan akan membawa isolasi ini hingga ke Dewan Kerja Sama Teluk," ujar sang Menlu UEA.

Menlu Arab Saudi Adel al-Jubeir turut menyampaikan pendapat yang sama dengan Menlu Gargash.

"Kami akan segera menyerahkan daftar tuntutan kepada Qatar. Kami tidak bisa berkoalisi untuk melawan terorisme jika salah satu rekan kami justru mendukung terorisme," ucap al-Jubeir.

Tensi semakin meninggi ketika Arab Saudi akan mempublikasikan sebuah laporan resmi yang menyatakan bahwa Qatar bersama Libya pernah bekerja sama untuk merencanakan pembunuhan politik terhadap Raja Abdullah bin Abdulaziz al-Saud pada 2010. Naskah itu rencananya akan dipublikasikan dalam waktu dekat.

"Naskah itu sangat serius dan benar-benar parah," ujar Gargash.

Krisis kawasan Timur Tengah dan Teluk melebar ke kawasan lain. Turki dan Iran memihak Qatar dengan mengirim pasokan bahan makanan. Sementara itu, Pakistan diminta Arab Saudi untuk menegaskan posisi keberihakannya.

Sedangkan menurut laporan The Guardian, sejumlah negara kawasan Afrika mendukung Arab Saudi Cs untuk mengucilkan Qatar. Namun, negara-negara Afrika itu tidak secara resmi memutus hubungan diplomasi dengan Doha.

Menlu Gargash menuding bahwa Qatar mendukung Jabhat Fateh al-Sham atau Front al-Nusra, cabang Al Qaeda di Suriah dan Libya. Mereka juga diduga mendukung sejumlah kelompok pro-Al Qaeda seperti Libyan Fighting Group. Derna Shura Council, dan Benghazi Shura Council.

 

Saksikan juga video berikut

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya