Gubernur Djarot, Mantan Dosen yang Memimpin Ibu Kota

Namanya mulai menjadi menjadi buah bibir ketika menjadi Wali Kota Blitar selama dua periode, dari 2000 hingga 2010.

oleh Rinaldo diperbarui 15 Jun 2017, 10:28 WIB
PLT Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat memberi keterangan saat undian Rusunawa di Balai Kota, Jakarta, Senin (26/5). Selain itu undian juga diprioritaskan untuk warga lansia dan lansia veteran. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Djarot Saiful Hidayat akhirnya dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur definitif DKI Jakarta. Bertempat di Istana Negara, Kamis (15/6/2017) pagi, Djarot resmi menggantikan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memimpin Ibu Kota selama lima bulan ke depan.

Dilahirkan pada 30 Oktober 1955 di Gorontalo, Djarot menapak dunia politik melalui PDI Perjuangan. Sebagai politikus, dia pernah duduk di lembaga legislatif, yaitu di DPRD Jawa Timur dan DPR RI.

Namun, jauh sebelum memasuki dunia politik, Djarot sejatinya adalah seorang pendidik. Ia bekerja sebagai dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Djarot juga sempat merangkap tugas sebagai Pembantu Rektor I di universitas tersebut pada 1997 hingga 1999.

Namun demikian, yang membuat namanya menjadi perbincangan adalah ketika menjadi Wali Kota Blitar selama dua periode, dari 2000 hingga 2010. Sejumlah kebijakan yang dia buat banyak dipuji dan menempatkan dirinya di jajaran kepala daerah berprestasi.

Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat menyapa pewarta jelang serah terima nota penugasan di Balai Agung Jakarta, Selasa (9/5). Djarot menjabat Plt Gubernur hingga masa jabatannya habis, Oktober 2017. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Lihat saja langkahnya membatasi kehidupan metropolitan yang serba mewah di Blitar, dengan melarang berdirinya mal dan gedung-gedung bertingkat tinggi. Djarot juga mengaku lebih suka pedagang kaki lima yang mendominasi roda perekonomian di kota yang dipimpinnya.

Dari konsep matang yang telah ia rencanakan, Djarot sukses menata 1.000-an pedagang kaki lima yang dulunya kumuh di kompleks alun-alun menjadi tertata rapi. Dengan perencanaan yang terarah, Djarot berhasil mendongkrak perekonomian di Blitar meski tanpa adanya mal dan supermarket.

Karena berkontribusi positif sebagai wali kota, Djarot mendapatkan penghargaan dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah pada 2008. Ia juga mendapatkan Penghargaan Terbaik Citizen's Charter Bidang Kesehatan, dan Anugerah Adipura dalam 3 tahun berturut-turut, yakni 2006, 2007, dan 2008.

Selain itu, dia juga penerima penghargaan atas terobosan inovasi daerah se-Provinsi Jawa Timur di dalam pembangunan daerahnya (2008), Penghargaan Upakarti (2007), Peringkat Pertama penerapan E-Government di Jawa Timur (2010).

Menapak Ibu Kota

Usai Jokowi terpilih menjadi Presiden dan Ahok naik jabatan menjadi Gubernur DKI Jakarta, Djarot pun berperan mendukung setiap kebijakan Ahok dalam mewujudkan visi dan misi saat Pilkada DKI 2012, yakni membangun Jakarta Baru.

Plt Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat membeli lemang di pasar takjil Benhil, Jakarta, Jumat (2/6). Djarot meninjau pasar takjil Benhil serta membeli aneka makanan takjil tradisional. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Setahun menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot mengakui dirinya belum berbuat banyak untuk Ibu Kota. Sebab, dirinya hanya menjalankan peran untuk mewujudkan visi dan misi Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sewaktu terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012.

Karena merasa belum berbuat banyak itulah, bersama Ahok dia kemudian mencalonkan diri sebagai pasangan Cagub-Cawagub DKI 2017-2022 dengan dukungan empat partai politik, yakni PDIP, Hanura, Nasdem dan Golkar. Namun, Ahok dan Djarot kalah dalam kontestasi itu.

Meski dipastikan kalah, Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPP PDIP ini tak patah arang. Dengan menyandang jabatan Pelaksana tugas Gubernur DKI Jabatan, Djarot tetap bersemangat bekerja menuntaskan program yang belum terealisasi.

Kini, setelah dilantik sebagai gubernur definitif atas konsekuensi dari dipenjaranya Ahok dalam kasus penistaan agama, gerak Djarot dipastikan bakal makin lincah. Banyak janji dan program yang harus dia kebut jelang pergantian pimpinan Ibu Kota pada Oktober mendatang.

Ahok bersama Djarot saat konferensi pers terkait hasil hitung cepat Pilkada DKI 2017, Jakarta, Rabu (14/4). Ahok berjanji akan melunasi janji-janjinya selama menjabat sebelum lepas jabatan Oktober 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di antaranya mengebut pembangunan pusat perkulakan Jakarta Grosir atau Jakgrosir di enam wilayah. Saat ini baru terdapat satu Jakgrosir di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sedangkan proyek infrastruktur yang dalam tahap penyelesaian adalah pembangunan Simpang Susun Semanggi dan pengoperasian Koridor 13 Transjakarta.

Kemudian beberapa renovasi pasar dan sarana kesehatan seperti puskesmas. Demikian pula dengan pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.

Dengan dukungan sang istri, Heppy Farida, serta tiga anaknya: Safira Prameswari Ramadina, Karunia Dwihapsa Paramasari dan Meisya Rizky Berliana, Djarot yakin bisa memenuhi target itu. Sehingga, pada Oktober mendatang dirinya bisa menyerahkan kepemimpinan Ibu Kota dengan kepala tegak.

Selamat bekerja, Pak Gubernur!

 Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya