Moody's Dongkrak Prospek Perbankan di Indonesia Jadi Positif

Moody's melihat ada sejumlah perbaikan dan kebijakan makro ekonomi yang mendukung sistem perbankan di Indonesia.

oleh Agustina Melani diperbarui 13 Jun 2017, 16:03 WIB
Nasabah melakukan transaksi di ATM Mandiri, Jakarta, Selasa (6/6). PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyiapkan dana tunai sebesar Rp23,5 triliun atau Rp1,1 triliun per hari selama bulan ramadan hingga lebaran. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Moody's Investors Service , lembaga pemeringkat internasional telah mengubah pandangannya terhadap outlook sistem perbankan Indonesia dari stabil menjadi positif. Perubahan ini mencerminkan pandangan mereka terhadap bank di Indonesia seiring perbaikan pada operasi, kualitas aset, dan kapasitas dukungan pemerintah.

"Bank-bank di Indonesia akan mendapatkan keuntungan dari membaik-nya operasi dalam 12-18 bulan mendatang, seiring pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Ini karena dukungan kebijakan makroekonomi dan pasar kuat seiring harga komoditas membaik," ujar Srikanth Vadlamani, Wakil President Moody's seperti dikutip dari keterangan tertulis di laman Moody's, Selasa (13/6/2017).

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diasumsikan sebesar 5,2 persen pada 2017 dan 5,3 persen pada 2018. Pertumbuhan ekonomi ini lebih tinggi dibandingkan 2016 sebesar 5 persen.

Adapun Moodys menilai terhadap sistem perbankan Indonesia didasarkan lima faktor. Pertama, ada perbaikan operasional. Kedua, kualitas dan aset modal yang membaik. Ketiga, pendanaan dan likuiditas. Keempat, efisiensi. Kelima, perbaikan dukungan.

Perbaikan lingkungan untuk menunjang bisnis perbankan didukung dari kebijakan makroekonomi dan pasar lebih kuat. Sedangkan kualitas aset membaik didorong pemulihan pendapatan perusahaan. Hal ini dapat menghambat rasio kredit macet lebih lanjut. Kemudian diharapkan tren ini disertai dengan turunnya tingkat utang yang diharapkan dapat berdampak pada kapasitas pembayaran utang lebih kuat.

Selain itu, meski memiliki pertumbuhan kredit lebih cepat, kapitalisasi di bank-bank di Indonesia akan tetap stabil. Rasio keuntungan lebih tinggi dapat menahan penurunan kualitas aset.

Moody's juga melihat pendanaan dan likuiditas untuk sistem perbankan lebih stabil. Tekanan dari pertumbuhan kredit yang lebih cepat akan turun tipis karena deposito bank juga tumbuh cepat.

Selain itu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) harus stabil pada tingkat 90 persen dari akhir Maret 2017 sekitar 89 persen. Namun sejumlah bank mencatat LDR terhadap batas peraturan sekitar 92 persen.

Moody's juga melihat bank-bank di Indonesia memiliki ketergantungan kecil terhadap wholesale funding. Neraca bank juga likuid dengan aset likuid dan pemerintah. Semua bank yang dirating Moody's pun memenuhi syarat minimum likuiditas.

Selain itu, keuntungan pinjaman bank didorong marjin bunga bersih bank di Indonesia sekitar 5,3 persen. Kontribusi keuntungan lainnya berasal dari penurunan biaya kredit yang membebani pendapatan pada 2016.

Moody's menambahkan, dukungan sistem bank yang membaik juga didukung kapasitas pemerintah untuk mendukung kinerja bank dari guncangan eksternal dan perkembangan makro ekonomi dan fiskal. Hal ini mengingat pentingnya sistem perbankan terhadap ekonomi secara keseluruhan.

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya