Alasan 10 WNI di Marawi Belum Bisa Dievakuasi

Sepuluh warga negara Indonesia (WNI) terjebak di Marawi, Filipina. Tempat tersebut memanas sejak terjadinya pertempuran.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 30 Mei 2017, 08:42 WIB
Sejumlah tentara pemerintah mengambil posisi saat memerangi kelompok Maute di Kota Marawi, Filipina, (28/5). Sekitar 61 militan, 20 anggota pasukan keamanan dan 19 warga sipil terbunuh akibat pertempuran tersebut. (AP Photo/Bullit Marquez)

Liputan6.com, Marawi - Sepuluh warga negara Indonesia (WNI), terjebak di Marawi, Filipina. Tempat tersebut memanas sejak terjadinya pertempuran antara militer dan milisi Maute.

Menurut Kementerian Luar Negeri, 10 WNI tersebut berasal dari Jakarta dan Bandung. Mereka berada di Marawi dalam rangka Khuruj atau meninggalkan rumah untuk ibadah dan dakwah di masjid selama 40 hari.

Sejumlah kabar beredar menyebut, 10 orang itu telah minta segera dievakuasi. Isu tersebut dibenarkan oleh Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal.

"Iya betul," kata Iqbal saat dihubungi Liputan6.com, Senin (29/5/2017).

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, mengatakan, evakuasi tak bisa terlaksana dalam waktu dekat. Sebab, kondisi di Marawi belum kondusif.

"Belum bisa dievakuasi karena keadaan di Marawi City belum memungkinkan," kata pria yang kerap disapa Tata itu.

Kekerasan di Marawi pecah saat puluhan anggota kelompok militan menyerbu kota itu, setelah aparat keamanan berusaha menangkap Isnilon Hapilon, veteran militan Filipina yang diyakini sebagai pemimpin ISIS di kawasan itu.

Segera setelahnya, bendera hitam ISIS berkibar dan kelompok militan dilaporkan menculik seorang pendeta dan 14 jemaat gereja. Mereka juga membakar sejumlah bangunan.

Dari total 85 korban tewas, terdapat 51 anggota kelompok militan dan 13 tentara. Sementara itu, sebagian besar penduduk Marawi memutuskan mengungsi.

"Penolakan mereka untuk menyerah membuat kota tersandera. Oleh karena itu, semakin penting untuk menggunakan lebih banyak serangan udara demi membersihkan kota dan mengakhiri pemberontakan ini," kata juru bicara militer Brigadir Jenderal Restituto Padilla.

Presiden Duterte dan pimpinan militer mengatakan, sebagian besar militan berasal dari kelompok Maute yang diperkirakan memiliki sekitar 260 pengikut. Maute telah berikrar setia kepada ISIS.

Duterte menambahkan, penjahat lokal juga turut mendukung kelompok Maute di Marawi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya