Waspada Perampokan Bersenjata

Serangkaian perampokan bersenjata api di sejumlah daerah di Tanah Air meneror masyarakat. Mudahnya mendapatkan senjata api serta profesionalnya mereka menjadi pertanyaan.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 Agustus 2010, 01:23 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Ketenangan Ramadan tahun ini tiba-tiba saja terkoyak oleh serangkaian perampokan di sejumlah daerah di Tanah Air. Tak main-main, para perampok ini menyasar korbannya dengan menggunakan senjata api dan tak ragu-ragu memuntahkan isinya. Tak ayal, korban pun berjatuhan.
 
Rangkaian teror komplotan bersenjata api ini dimulai di Medan, Sumatra Utara, Rabu pekan silam. Siang itu, Bank CIMB Niaga di Jalan Arif Rahman Hakim, Medan, didatangi 16 pria dengan penutup wajah. Menenteng beragam jenis senjata api, mereka dengan sigap melumpuhkan pegawai bank dan petugas keamanan. Bahkan, tak cukup dengan membawa uang hasil jarahan, seorang anggota Brimob tewas ditembak salah seorang perampok [baca: Anggota Brimob Tewas Ditembak Perampok].
 
Aksi mereka langsung mendapat perhatian. Dari foto-foto pelaku yang kemudian dirilis media massa, terlihat betapa profesionalnya mereka. Tanpa rasa takut, belasan pria yang mengenakan helm ini menenteng senjata di depan publik. Teror melalui gambar itu berhasil membuat masyarakat dicekam ketakutan.
 
Tapi, teror itu berlanjut. Berselang sehari kemudian, empat pria berjaket hitam, tutup muka, dan membawa senjata api merampok sebuah toko emas di Pasar Jurangjero, Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa Tengah. Dari toko itu perampok berhasil membawa kabur ratusan gram emas. Mereka juga menembak kaki pemilik toko, Nur Hasyim [baca: Kawanan Perampok Gasak Toko Emas]. 
 
Kawanan perampok bersenjata api kembali beraksi di Jalan Kampung Bandan, Jakarta Utara, Jumat malam pekan lalu. Kali ini sasarannya adalah mobil milik PT Telkom yang baru saja mengambil uang dari berbagai kantor cabang di Jakarta. Para perampok berhasil membawa kabur uang ratusan juta rupiah [baca: Mobil PT Telkom Dirampok, Ratusan Juta Raib]. Pada hari yang sama, perampokan dengan senjata api terjadi di Jalan Hayam Wuruk, Jambi. Empat perampok membawa lari puluhan juta rupiah dari perusahaan pembiayaan Mandiri Tunas Finance [baca: Perampok Bersenjata Api Bobol Perusahaan Pembiayaan].

Terakhir, sebuah warung internet di Bekasi Timur, Jawa Barat, Ahad dini hari lalu juga disatroni kawanan perampok bersenjata api. Pelaku langsung menodongkan senjata api kepada karyawan warnet. Mereka mengancam akan menembak jika melawan. Rentetan kasus ini membuat banyak pihak mempertanyakan pengawasan peredaran senjata api, baik oleh Polri maupun TNI [baca: Perampokan Bersenjata Marak, Kepemilikan Senjata Api Diperketat]. Demikian pula dengan pengamanan pihak kepolisian yang dinilai lemah.
 
Namun, kriminolog Universitas Indonesia Eko Haryanto tidak sepenuhnya menyerahkan masalah ini pada kinerja kepolisian. Menurutnya, jumlah aparat memang sangat terbatas untuk menjangkau seluruh wilayah. Yang mengagetkan Eko, para pelaku berani beroperasi dalam jumlah besar, terorganisir, dan pakai senjata api. "Mereka bukan orang sembarangan dan sangat terlatih," ujar Eko dalam tayangan dialog Barometer SCTV, Rabu (25/8) malam.

Pihak kepolisian sepakat. Pelaku diyakini profesional dalam artian kata paham dan mahir menggunakan senjata. Namun, bukan berarti mereka pasti dari kalangan aparat. Yang jelas, dari pengakuan salah seorang tersangka yang tertangkap, senjata mereka didatangkan dari Aceh. "Bisa jadi juga mereka adalah desertir," papar Brigadir Jenderal Polisi Iskandar Hasan, Kepala Divisi Humas Polri.

Lantas, bagaimana mengidentifikasi para pelaku perampokan bersenjata? Bagaimana seharusnya pengawasan terhadap peredaran senjata api? Dan, bagaimana pula masyarakat bisa menangkal agar ruang gerak para pelaku bisa dipersempit? Simak selengkapnya dalam tayangan dialog Barometer SCTV. Selamat menyaksikan.***


POPULER

Berita Terkini Selengkapnya