Sesajen Penuhi Sungai Pampang Makassar Jelang Ramadan, Buat Apa?

Sesajen yang dilarung ke Sungai Pampang berisi songkolok, telur ayam kampung, dan makanan berbahan daging ayam.

oleh Eka Hakim diperbarui 15 Apr 2017, 09:06 WIB
Sesajen yang dilarung ke Sungai Pampang berisi songkolok, telur ayam kampung dan makanan berbahan daging ayam. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Liputan6.com, Makassar - Sungai Pampang yang dikenal sebagai salah satu sungai keramat di Makassar mendadak dipenuhi berbagai sesajen jelang Ramadan yang jatuh sekitar 1,5 bulan lagi. Sesajen itu terdiri dari makanan adat seperti songkolok yang berbahan baku beras ketan putih dan hitam dan setandan pisang raja.

Ada pula beberapa butir telur ayam kampung dan masakan berbahan daging ayam. Sesajen tersebut diberikan oleh keluarga calon pengantin sebagai persembahan bagi leluhur penguasa kawasan sungai yang dikenal dengan gelar Karaeng Sinrijala atau raja buaya putih.

"Ini sudah ritual adat keluarga saya dan hampir semua masyarakat adat Makassar juga melakukan hal yang sama. Namanya appanaung, dilakukan sebelum memulai hajatan besar seperti acara pengantin apalagi jelang Ramadan ini," kata Asia (48), warga Jalan Adipura Makassar, saat ditemui bersama keluarganya sedang melaksanakan ritual di bawah jembatan Kampus Bosowa Makassar, Jumat, 14 April 2017.

Asia mengatakan ritual appanaung merupakan budaya nenek moyang, khususnya mereka yang tinggal di daerah Tallo Makassar dan Kabupaten Gowa. Hal ini sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta.

"Budaya appanaung itu erat kaitannya dengan tanda kesyukuran kepada Tuhan dan penghargaan kepada leluhur yang telah menjaga kampung atau warga menyebutnya dengan sebutan patanna parasangan," kata Asia.

Leluhur penguasa wilayah Tallo yang diketahui Asia, banyak. Hanya saja, khusus sungai keramat seperti Sungai Pampang, merupakan kekuasaan Karaeng Sinrijala yang merupakan tokoh yang paling disegani dan dihormati hingga tiada.

"Orangtua dulu pesan, jangan sekali-kali melupakan adat ini karena Karaeng bisa marah dan hampir tiap tahun jika tak digelar, biasanya mengambil korban. Di mana buaya yang diyakini sebagai pasukan Karaeng Sinrijala akan muncul dan memakan siapa yang takabur," ujar Asia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya