Tudingan Pengempisan Ban Mobil Berujung Duel Maut

Duel maut ini melibatkan dua kelompok pemuda di Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

oleh M Syukur diperbarui 13 Apr 2017, 22:02 WIB
Ilustrasi duel maut. (Liputan6.com/Sangaji)

Liputan6.com, Pekanbaru - Duel maut melibatkan dua kelompok pemuda pecah di Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Adu jotos massal ini berawal dari menenggak minuman keras tradisional jenis tuak, karoake serta joget bersama, hingga tuduhan mengempiskan ban mobil.

Delapan anggota salah satu kelompok pemuda ditangkap polisi, sedangkan dua orang ditetapkan sebagai buron. Sementara, beberapa pemuda dari kelompok lainnya terluka serius dalam tawuran berujung duel maut tersebut.

"Korban luka masih dirawat intensif, sementara delapan orang yang diamankan masih diperiksa di kantor kepolisian setempat," ucap Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo, Kamis (13/4/2017).

Guntur menyebutkan, kejadian bermula ketika kelompok pemuda yang dikomando Fernando Sihombing bersama sembilan rekannya minum tuak di sebuah warung di kecamatan tersebut, Rabu 12 April 2017. Di bawah pengaruh minuman keras, mereka kemudian sepakat berkaraoke di Desa Pematang Tebih.

Ketika asyik bernyanyi, salah satu anggota kelompok pemuda tadi, Hendra Sihombing keluar karena ditelepon sang pacar. Dia pun berdiri di samping mobil milik anggota kelompok lainnya, Benget.

Benget yang ingin naik mobil melihat bannya kempis. Ia kemudian menuduh Hendra sebagai pelaku. Keduanya kemudian bertengkar.

Keributan ini diketahui teman Hendra yang sedang karaoke dan keluar dari lokasi. Kalah jumlah, Benget meninggalkan lokasi dengan membawa mobilnya.

Tak lama kemudian datang pemuda yang diduga teman Benget, sehingga terjadi duel di tengah jalan. Segala peralatan dikeluarkan, mulai dari kayu serta benda tumpul lainnya, dalam perkelahian itu.

"Akibat kejadian ini, anggota kelompok yang menyerang Hendra dan rekannya, yaitu Andre alias Ujang Tato meninggal dunia di lokasi. Sementara rekannya, Joni, mengalami luka berat," kata Guntur.

Guntur mengatakan pula, Andre meninggal dunia akibat menderita luka di kepala, pelipis kanan, dan bibir bagian bawah. Sedangkan Joni mengalami luka robek pada dagu, robek bibir, dan robek di pipi kanan.

Polisi yang mendapat kabar bentrok ini langsung mengumpulkan keterangan dan bukti di lokasi kejadian. Jenazah dan korban luka bentrok ini langsung dibawa ke rumah sakit.

Penyelidikan digelar, ternyata kelompok Fernando bersembunyi di salah satu rumah warga. Berbekal informasi tersebut, polisi menangkap delapan pemuda di rumah tersebut.

"Dua orang masih dicari karena sudah tidak berada di rumah dimaksud," kata Guntur.

Delapan orang terlibat tawuran pemuda dan duel maut itu adalah Fernando, Donal Frengki, Putra Rio, Flay Martua, Ramli, Hendra, Sofian, dan Abdi. Sedangkan yang masih buron dan terus dicari adalah Dodi dan Johan.

"Dalam kasus ini diamankan satu batang kayu, delapan keping potongan kayu, kursi lipat, dan potongan besi," juru bicara Polda Riau memungkasi.


POPULER

Berita Terkini Selengkapnya