Liputan6.com, Kudus: Sepekan terakhir aktivitas pekerja di perusahaan jenang Kenia di Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah, terus menambah kapasitas peroduksi hingga tiga kali lipat. Ya, Ramadan ternyata juga membawa berkah bagi bisnis jenang Kudus ini dengan semakin meningkatnya pesanan dari pelanggan.
Meski berskala rumah tangga, penganan yang dibuat dari bahan gula pasir, gula jawa, dan terigu ini diproses menggunakan mesin modern dan higienis. Jadi, bayangan bahwa jenang dibuat dengan peralatan sederhana dan tidak terjamin kesehatannya tak berlaku lagi.
Untuk menarik minat pembeli, kemasan jenang Kudus ini dibuat beragam. Misalnya dengan dibungkus plastik atau keranjang bambu sehingga indah dilihat mata. Bagi Anda yang sempat mampir ke Kudus tak ada salahnya mampir dan mencoba penganan yang cocok buat cemilan ini.
Tak hanya makanan, di Kudus tim Safari Ramadan SCTV juga berkesempatan mengunjungi sebuah pesantren yang khusus mengajar anak-anak berusia 6-12 tahun. Di pesantren yang dibangun sejak 1986 ini anak-anak diajarkan serta dilatih melafalkan ayat-ayat suci Alquran.
Menurut ustad Anis Setiawan, salah seorang guru di pesantren ini, kesulitan mengajar anak-anak adalah karena mereka masih suka bermain. "Jadi kita harus terus menekankan pentingnya belajar mengaji serta tak mudah memberi sanksi," jelas Anis kepada reporter SCTV Riko Anggara dalam tayangan Liputan 6 Petang, Rabu (18/8).(ADO)
Meski berskala rumah tangga, penganan yang dibuat dari bahan gula pasir, gula jawa, dan terigu ini diproses menggunakan mesin modern dan higienis. Jadi, bayangan bahwa jenang dibuat dengan peralatan sederhana dan tidak terjamin kesehatannya tak berlaku lagi.
Untuk menarik minat pembeli, kemasan jenang Kudus ini dibuat beragam. Misalnya dengan dibungkus plastik atau keranjang bambu sehingga indah dilihat mata. Bagi Anda yang sempat mampir ke Kudus tak ada salahnya mampir dan mencoba penganan yang cocok buat cemilan ini.
Tak hanya makanan, di Kudus tim Safari Ramadan SCTV juga berkesempatan mengunjungi sebuah pesantren yang khusus mengajar anak-anak berusia 6-12 tahun. Di pesantren yang dibangun sejak 1986 ini anak-anak diajarkan serta dilatih melafalkan ayat-ayat suci Alquran.
Menurut ustad Anis Setiawan, salah seorang guru di pesantren ini, kesulitan mengajar anak-anak adalah karena mereka masih suka bermain. "Jadi kita harus terus menekankan pentingnya belajar mengaji serta tak mudah memberi sanksi," jelas Anis kepada reporter SCTV Riko Anggara dalam tayangan Liputan 6 Petang, Rabu (18/8).(ADO)