Pertamina Bakal Operasikan Proyek Jambaran-Tiung Biru

PT Pertamian EP Cepu mengharapkan negosiasi dengan Exxon Mobil terkait pengambilalihan pengembangan Jambaran-Tiung Biru selesai Mei 2017.

oleh Panji Prayitno diperbarui 10 Apr 2017, 21:58 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, Cirebon - PT Pertamina semakin gencar memaksimalkan kinerja dalam mengeksplorasi sumber daya alam di Indonesia. Salah satunya bernegosiasi dengan Exxon Mobil untuk mengambil alih partisipasi pengembangan Jambaran-Tiung Biru (JTB). Proyek JTB akan dioperasikan oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC).

Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Adriansyah mengatakan, negosiasi tersebut diharapkan tuntas pada Mei 2017. Sehingga, lanjut dia, PEPC dapat mengeksekusi pengembangan lapangan tersebut secara penuh.

"Kami sudah menanda-tangani Interim Agreement pada Maret 2017. Saat ini masa transisi sudah mulai berjalan," tegas dia di Cirebon, Senin (10/4/2017).

Adriansyah mengatakan, rencana tersebut juga sebagai tindak lanjut Surat Menteri ESDM No 9/13/MEM.M/2017 pada 3 Januari 2017 yang memerintahkan Pertamina untuk mengembangkan secara penuh lapangan JTB dan menyelesaikan pembahasan dengan ExxonMobil secara Business-to-Business (B-to-B).

Setelah negosiasi tuntas, diharapkan 2020 sudah dapat berproduksi. Saat ini pengembangan lapangan JTB sedang dalam pelaksanaan EPC Early Civil Work (ECW). Adriansyah menambahkan, masih ada permasalahan yang harus dituntaskan antara Pertamina EP Cepu dan Exxon. Namun, alih kelola JTB ini terkait dengan pengembangan lapangan gas yang diandalkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur tetap ditargetkan selesai Mei 2017.

"Kami tidak mau mundur, untuk menghindari potential loss selama kontrak," ujar dia.

Dia menyebutkan, di Blok Cepu PEPC memiliki saham 45 persen, Ampolex 24,5 persen, Exxon 20,5 persen dan BUMD 10 persen. Di tengah harga minyak yang cenderung menurun, produksi Banyu Urip kini menjadi andalan untuk menopang produksi nasional.

"Pada tahun 2017 ditargetkan produksinya mencapai 200.000 BOPD. Tapi yang menarik, sebelum mencapai produksi puncak pada saat harga minyak di atas US$ 100 per barel, Lapangan Banyu Urip yang dioperasikan oleh ExxonMobil sudah mampu melakukan produksi untuk menopang kinerja Pertamina, melalui Early Production Facilities yang merupakan usulan PEPC. Meski produksinya masih kecil," ujar dia. (Panji Prayitno)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya