Liputan6.com, Jakarta: Ratusan korban banjir di Ibu Kota mendatangi Gedung DPR/MPR di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Senin (11/02). Mereka mendesak Gubernur DKI Sutiyoso mengundurkan diri dari jabatannya karena lamban menangani musibah banjir. Selain itu, para pengunjuk rasa juga menuntut uang ganti rugi [baca: Korban Banjir Kembali Meminta Sutiyoso Mundur].
Dalam aksi tersebut, para demonstran sempat bersitegang dengan sejumlah anggota satuan pengamanan Gedung Dewan. Pasalnya, satpam dan puluhan polisi melarang para korban banjir memasuki halaman gedung rakyat. Ini membuat para pengunjuk rasa marah. Mereka berupaya merobohkan pintu gerbang yang terkunci rapat. Suasana aksi kian panas.
Di saat bersamaan, puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia juga mendatangi Gedung DPR. Mereka berniat menemui anggota Dewan untuk mengajukan tuntutan yang sama. Karena gerbang DPR terkunci, para mahasiswa langsung bergabung dengan massa korban banjir dan sejumlah tokoh lembaga swadaya masyarakat, seperti Wardah Hafidz, Thamrin Alam Tomagola, serta Teten Masduki.
Melihat massa begitu ramai di depan Gedung Dewan, anggota Komisi II DPR Panda Nababan mendatangi pengujuk rasa. Ia menawarkan perwakilan pengunjuk rasa berdialog di dalam Gedung DPR. Namun, tawaran ini ditolak dengan alasan jumlah demonstran yang diperbolehkan masuk hanya 50 orang. Para pengunjuk rasa lebih memilih membubarkan diri.(ORS/Donny Kurniawan dan Prihandoyo)
Dalam aksi tersebut, para demonstran sempat bersitegang dengan sejumlah anggota satuan pengamanan Gedung Dewan. Pasalnya, satpam dan puluhan polisi melarang para korban banjir memasuki halaman gedung rakyat. Ini membuat para pengunjuk rasa marah. Mereka berupaya merobohkan pintu gerbang yang terkunci rapat. Suasana aksi kian panas.
Di saat bersamaan, puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia juga mendatangi Gedung DPR. Mereka berniat menemui anggota Dewan untuk mengajukan tuntutan yang sama. Karena gerbang DPR terkunci, para mahasiswa langsung bergabung dengan massa korban banjir dan sejumlah tokoh lembaga swadaya masyarakat, seperti Wardah Hafidz, Thamrin Alam Tomagola, serta Teten Masduki.
Melihat massa begitu ramai di depan Gedung Dewan, anggota Komisi II DPR Panda Nababan mendatangi pengujuk rasa. Ia menawarkan perwakilan pengunjuk rasa berdialog di dalam Gedung DPR. Namun, tawaran ini ditolak dengan alasan jumlah demonstran yang diperbolehkan masuk hanya 50 orang. Para pengunjuk rasa lebih memilih membubarkan diri.(ORS/Donny Kurniawan dan Prihandoyo)