Liputan6.com, Jakarta Dalam hidup, selalu ada hal yang sepertinya menjadi takdir dan berulang kali terjadi. Bagi Arsenal, itu adalah finis di 4 besar Premier League dan tersingkir di babak 16 besar Liga Champions. Sampai-sampai ada anekdot, hanya ada tiga hal yang pasti di dunia ini, yakni kematian, pajak, dan Arsenal finis di 4 besar. Usai kekalahan 1-5 dari Bayern Muenchen di kandang lawan, poin terakhir jadi berbunyi: Arsenal tersingkir di babak 16-besar Liga Champions.
Untuk ketujuh kalinya secara beruntun, The Gunners tak mampu lolos ke perempat final Liga Champions. Kekalahan 1-5 di Stadion Emirates, Rabu (8/3/2016) dinihari memastikan hal itu. Hal yang menyesakkan, agregat 2-10 adalah kekalahan terbesar bagi klub Inggris di ajang antarklub terelite di Eropa tersebut. Tak heran bila banyak fans The Gunners tak bisa menahan kekecewaan. Sebagian bangku di Stadion Emirates sudah kosong sebelum wasit Anastasios Sidiropiulos dari Yunani meniup peluit akhir laga.
Advertisement
Setelah pertandingan, reaksi publik pun begitu keras. Para pengamat dengan tegas mengatakan, Arsenal benar-benar buruk dan Bayern berada di level yang berbeda. Sementara itu, sebagian fans mengeluhkan manajer Arsene Wenger yang seolah kehabisan ide dan para pemain yang terlihat berlarian tanpa jiwa.
Sebagian fans lain justru berdiri bersama Wenger, menuding wasit sebagai faktor yang membuat mereka kalah telak di Emirates. Mereka ramai-ramai menunjuk kartu merah Laurent Koscielny sebagai hal yang berlebihan. Mereka berdalih, pelanggaran Koscielny tidaklah keras. Lagi pula, International Football Association Board (IFAB) pada Mei 2016 resmi meniadakan "triple punishment". Pemain yang melakukan pelanggaran di kotak penalti tak serta-merta mendapatkan kartu merah, terkena skors, dan timnya dihukum penalti. Dalam insiden di Emirates, Sidiropoulos pun secara spontan mengeluarkan kartu kuning dari sakunya. Namun, atas informasi dari salah satu asistennya, dia lantas mencabut kartu merah.
Mereka yang mengkritik Sidiropoulos itu rupanya lupa. Meski meniadakan "triple punishment", IFAB menegaskan bahwa pemain yang melakukan pelanggaran di dalam kotak penalti tanpa bermaksud merebut bola, tetap harus diusir dari lapangan. Itulah yang dilakukan Koscielny kepada Robert Lewandowski. Dia sengaja mendorong striker asal Polandia itu dari belakang tanpa bermaksud merebut bola. Bahkan, dari posisinya, bek asal Prancis tersebut tak berpeluang merebut bola dari kaki Lewandowski.
Berbagai dalih itu hanyalah upaya untuk menenteramkan hati. Ketika mendapatkan kekecewaan, sudah kebiasaan kita untuk mencari penawar, alasan-alasan yang menjadi penghiburan. Tak jarang, pada akhirnya, sang penawar adalah kambing hitam.