Potret Menembus Batas: Digdaya Keris Jawa

Keris tidak hanya dimiliki kaum elit penguasa atau raja, keris juga diinginkan masyarakat umum sebagai simbol jati diri.

oleh Liputan6 diperbarui 23 Jan 2017, 03:12 WIB
Keris tidak hanya dimiliki kaum elit penguasa atau raja, keris juga diinginkan masyarakat umum sebagai simbol jati diri.

Liputan6.com, Yogyakarta - Menukik ke dalam kalbu bait-bait Durmo mengisi sudut kota di Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Mengasah rasa mengasah pikiran. Syair ini berfungsi sebagai nurani yang akan mengekang hawa nafsu, begitulah budaya Jawa ditegakkan.

Abdi Dalem Keratin patuh dalam irama menggenggam satu aturan hidup. Bersyukur tulus dan sederhana. Di pinggangnya tak lepas sebilah keris identitas yang begitu lekat pada lelaki Jawa. Keris mencatat sejarah panjang sebagai sebuah alat pertarungan.

Kini, keris lebih kepada ageman atau benda pegangan yang diambil dari daya keutamaannya. Melekat pada tubuh sebagai pelengkap busana ataupun menjelma menjadi simbol identitas kekuasaan.

Keris tertentu hanya boleh dipakai oleh seorang raja. Pahatan arca dan relief candi dari masa megalitikum hingga abad 10 sampai ke-11 masih menampilkan senjata tikam sebagai cikal bakal keris.

Ribuan kali ditempa, ribuan kali dipanaskan. Proses ini dahulunya adalah sebuah prosesi yang paling rahasia. Mulai perhitungan rumit dan ritual, doa dalam laku dilakukan.

Bertapa, puasa, matiraga hingga membisu dalam sebuah tapa bisu. Semua demi rasa yakin Sang Empu bahwa proses pembuatan keris bisa dimulai. Wujud keris yang berlekuk atau luk dipahami sebagai simbol kebijaksanaan.

Sebuah keris ukir Sekar Sri Mulya misalnya, mempunyai makna harapan besar agar si empunya hidup sukses. Sedang Sekar mudang agar pemilik keris dapat dipercaya, bertanggung jawab dan bisa menjaga kehormatan. Sebagai empu dialah yang akan meramu segalanya. Rupa dan kebutuhan bahan baku juga keinginan pemesannya.

Kedudukan empu amat utama saat itu ia menjadi filter penyaring keinginan masyarakat. Sebab, keris raja hanya akan dibuat untuk raja dan keris punggawa hanya akan dibuat untuk prajurit. Untuk pembuatan keris sederhana, setidaknya ada 128 lipatan. Sedang untuk nomor satu minimal ada 2000 lapisan.

Campuran logam pilihan menghasilkan kekuatan dan keindahan yang khas. Konon keris atau Wesi Aji yang memiliki keindahan pamungkas dengan sendirinya akan menarik kekuatan magis. Keris masuk dalam semua dimensi terpenting dalam hidup manusia, baik bermasyarakat atau bernegara.

Keris tidak hanya dimiliki kaum elit penguasa atau raja. Keris juga diinginkan masyarakat umum sebagai simbol jatidiri. Masyarakat percaya bahwa keris mempunyai kekuatan magis terpelihara hingga kini.

Kekuatannya bukan saja pada keindahan, tapi juga kesaktian kekuatan yang bersifat magis. Keris terlahir sebagai pusaka yang bernilai tinggi dan pada gilirannya menjelma menjadi identitas diri.

Pria, kesatria bahkan penguasa keris tertentu memiliki kemampuan membangun legitimasi seorang pemimpin. Di antara pusaka Keraton Yogyakarta, Keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek punya peran paling utama.

Keris ini hanya boleh dikenakan oleh sultan seorang. Lambang perannya sebagai pemimpin rohani dan duniawi. Sedang Keris Kanjeng Kiai Joko Piturun hanya boleh dikenakan oleh putra mahkota calon raja.

Saksikan tayangan selengkapnya dalam Potret Menembus Batas SCTV, Senin (23/1/2017) di tautan ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya