Liputan6.com, Jakarta - Tiongkok. Belakangan ini, sebagian orang Indonesia agak sensitif bila mendengar nama negeri di Asia Timur tersebut. Itu tak terlepas dari beberapa isu terkait Tiongkok akhir-akhir ini. Sebut saja kasus tenaga kerja ilegal asal Tiongkok, temuan cabai berbakteri yang ditanam warga negara Tiongkok, hingga kemungkinan invasi warga negara Tiongkok ke pulau-pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta bila proyek itu dilanjutkan.
Tiongkok bukan hanya jadi buah bibir di Indonesia. Secara global, negeri ini pun tengah menjadi sorotan publik sepak bola dunia. Tiongkok dibicarakan banyak orang karena gebrakan klub-klub Chinese Super League (CSL) membeli pemain-pemain bintang dengan harga dan gaji selangit pada bursa transfer awal tahun ini.
Advertisement
Januari ini, nama besar yang datang antara lain Axel Witsel, Oscar, Ricardo Carvalho, dan Carlos Tevez. Tak main-main, dalam waktu kurang dari setahun, lima kali rekor transfer Asia dipecahkan klub-klub asal Tiongkok. Cibiran datang dari banyak orang. Tiongkok hendak membeli prestasi. Itulah anggapan awam soal geliat klub-klub Tiongkok.
Mudah saja menuding ini dan itu. Seolah tak ada sisi baik dari langkah yang dibuat Negeri Tirai Bambu itu. Seakan-akan gebrakan mereka saat ini niscaya jadi kesia-siaan belaka dan hanya sensasi sesaat yang tak akan bermakna banyak.
Padahal, tak ada yang salah dari langkah Tiongkok. Ambisi menjadi kekuatan baru sepak bola dunia yang digaungkan Presiden Xi Jinping bukanlah sebuah dosa. Bukankah siapa pun harus punya mimpi besar untuk memiliki kehidupan yang baik dan prestasi gemilang? Tak sedikit orang-orang besar yang memulai langkahnya dengan impossible dream, impian yang bagi awam mustahil diwujudkan. Tak sedikit dari mereka yang dianggap gila karena ide yang out of the box.